Indonesia menghadapi masalah gizi serius, ditandai dengan kasus stunting. Stunting mengakibatkan dampak buruk seperti penurunan kekebalan tubuh, rendahnya produktivitas serta kualitas Pendidikan. Salah satu upaya pencegahan stunting adalah perbaikan gizi melalui konsumsi daun kelor (Moringa oleifera) yang kaya nutrisi. Namun, konsumsi daun kelor kurang disukai anak-anak karena rasa dan tampilannya. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan sediaan yang menarik, seperti perman gummy. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuai formulasi sediaan permen gummy ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) yang optimal dan mengetahui pengaruh kombinasi variasi konsetrasi gelatin dan karagenan sediaan permen gummy ekstrak daun kelor (Moringa oleifera). Penelitian ini dilakukan menggunakan desain eksperimental dengan rancangan penelitian quasi eksperimental dengan one-group posttest-only. Hasil Formulasi permen gummy dengan variasi gelatin dan karagenan menghasilkan formulasi optimal pada F3 dengan gelatin 467 mg dan karagenan 67 mg, yang disukai berdasarkan uji hedonik dan memenuhi kriterian keseragaman bobot, pH, serta kekenyalan. Analisis menggunakan Simplex Lattice Design (SLD) menunjukkan bahwa karagenan lebih berpengaruh pada peningkatan pH, sedangkan gelatin meningkatkan kekenyalan permen gummy. Hasil formulasi yang paling baik berdasarkan evaluasi organoleptik, keseragaman bobot dan evaluasi hedonik dengan menggunakan metode Simplex Lattice Design (SLD) adalah formulasi 3. Kombinasi gelatin dan karagenan memiliki pengaruh terhadap evaluasi pH dan kekenyalan. Dan tidak memiliki pengaruh pada evaluasi organoleptik, keseragaman bobot, dan hedonik