Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam persepsi pemuda terhadap organisasi kepemudaan serta implikasinya terhadap minat mereka untuk bergabung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis guna mengungkap makna yang dibangun pemuda terkait keberadaan, relevansi, dan fungsi organisasi kepemudaan dalam konteks sosialnya. Informan dipilih melalui teknik purposive dan snowball sampling dengan kriteria pemuda berusia 18–40 tahun, pernah atau belum pernah terlibat dalam organisasi kepemudaan, serta bersedia memberikan informasi secara reflektif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara sistematis menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pemuda dibentuk oleh beberapa faktor utama, yaitu relevansi program, kualitas kepemimpinan, pengalaman interaksi, citra organisasi, lingkungan sosial, dan tingkat transparansi organisasi. Persepsi positif muncul ketika organisasi mampu menyediakan program yang adaptif dan inovatif, menerapkan kepemimpinan yang inklusif, serta menciptakan ruang partisipasi yang setara, sedangkan persepsi negatif terbentuk ketika program dinilai stagnan, kepemimpinan bersifat hierarkis, dan komunikasi organisasi kurang transparan. Persepsi tersebut berpengaruh secara langsung terhadap minat pemuda untuk bergabung, di mana keterlibatan hanya terjadi apabila pemuda melihat adanya manfaat nyata, kesesuaian dengan kebutuhan, dan konsistensi nilai organisasi. Penelitian ini menegaskan pentingnya pembenahan desain program, peningkatan kualitas kepemimpinan, serta penguatan strategi komunikasi digital agar organisasi kepemudaan lebih relevan dan menarik bagi generasi muda