Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan antara Tingkat Pendidikan dan Jarak Kehamilan dengan Kadar Hemoglobin pada Ibu Hamil: Sebuah Tinjauan Literatur Muhammad Fauzan Iqbal; Sutarto; Anisa Nuraisa Jausal; Rodiani
Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi Vol. 2 No. 12 (2025): Jurnal Riset Multidisiplin Edukasi (Edisi Desember 2025)
Publisher : PT. Hasba Edukasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71282/jurmie.v2i12.1456

Abstract

Decreased hemoglobin (Hb) levels during pregnancy are a public health problem that is still widely found, especially in low- and middle-income countries, and contributes to increased maternal and perinatal morbidity and mortality. Pregnant women are a vulnerable group due to increased iron requirements and physiological changes during pregnancy. This study aims to systematically review the relationship between education level and interpregnancy interval with hemoglobin levels in pregnant women. The method used was a structured narrative literature review with literature searches on the PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, and Garuda databases. The articles included were quantitative studies on pregnant women published in the last five years (2021–2025) and reporting the relationship between education level or interpregnancy interval and anemia or hemoglobin levels. The synthesis results showed that education level indirectly affects hemoglobin levels through health literacy, nutritional knowledge, adherence to iron supplementation, and utilization of antenatal services. Mothers with low education tend to have lower hemoglobin levels due to limited understanding and preventive behaviors against anemia, although this effect may be weakened in contexts with good access to information and health services. Short interpregnancy intervals (less than 24 months) are consistently associated with decreased hemoglobin levels through the mechanisms of incomplete recovery of iron reserves after childbirth and increased physiological stress. Overall, education and interpregnancy interval affect hemoglobin levels through interrelated cognitive, behavioral, and biological pathways, necessitating an integrated intervention approach for anemia prevention in pregnant women.
Perkiraan Waktu Kematian Berdasarkan Kaku Mayat: Septia Eva Lusina, Amanda Febby Febrina, Muhammad Fauzan Iqbal, Nabila Aulia Safitri Septia Eva Lusina; Amanda Febby Febrina; Nabila Aulia Safitri; Muhammad Fauzan Iqbal
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 10 No. 1 (2026): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v10i1.pp190-197

Abstract

Perkiraan waktu kematian merupakan salah satu aspek penting dalam investigasi forensik untuk membantu rekonstruksi peristiwa kematian. Berbagai perubahan pascakematian dapat digunakan dalam perkiraan waktu kematian, salah satunya adalah kaku mayat. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji metode perkiraan waktu kematian berdasarkan karakteristik kaku mayat serta faktor-faktor yang memengaruhi kemunculan dan hilangnya fenomena tersebut. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah berbagai sumber ilmiah berupa buku teks kedokteran forensik, artikel penelitian, dan publikasi akademik yang membahas kaku mayat sebagai indikator perkiraan waktu kematian. Hasil kajian menunjukkan bahwa kaku mayat terjadi akibat habisnya adenosin trifosfat (ATP) pada jaringan otot setelah kematian sehingga terbentuk ikatan permanen antara aktin dan miosin. Kaku mayat umumnya mulai muncul dalam 1–2 jam setelah kematian, berkembang sempurna dalam 6–12 jam, bertahan selama 12–24 jam, kemudian menghilang secara bertahap dalam 24–36 jam akibat proses autolisis dan pembusukan. Kemunculan dan hilangnya kaku mayat mengikuti pola kraniokaudal yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam memperkirakan waktu kematian. Namun, akurasi metode ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti suhu lingkungan, usia, status gizi, aktivitas fisik sebelum kematian, serta penyebab kematian. Dengan demikian, penilaian kaku mayat sebaiknya dikombinasikan dengan tanda-tanda pascakematian lainnya untuk memperoleh perkiraan waktu kematian yang lebih akurat.