p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal e-GIGI
Abdi, Muhammad J.
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Lama Penggunaan Ortodonti Cekat dengan Status Psikososial Puspitasari, Yustisia; Novawaty, Eva; Abdi, Muhammad J.; Alifjayani, Syahfira
e-GiGi Vol. 14 No. 1 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i1.54840

Abstract

Abstract: Orthodontic treatment aims to improve orofacial aesthetics and function, by moving teeth or modifying jaw growth. Psychosocial describes the interaction between behavior, social influences, environment on the mind, and culture. This study aimed to analyze the relationship between duration of fixed orthodontics use and psychosocial status. This was an observational and analytical study with a cross-sectional design. Data were analyzed using the chi-square test. Samples were patients using fixed orthodontics at Kimia Farma Cendrawasih Clinic. The results showed that 40 patients were included in this study as respondents. The highest percentage of respondents was those who had used fixed orthodontics for >2 years (42.5%), followed by less than one year (32.5%), and 1-2 years (25.0%). Related to psychosocial status, most respondents had moderate psychosocial status (50%), followed by good psychosocial status (35.0%), and poor psychosocial status (15.0%). The chi-square test obtained a p-value of 0.021 for the relationship between the duration of using orthodontics and psychosocial status. In conclusion, there is a significant relationship between duration of fixed orthodontics use and psychosocial status among the patients. Keywords: duration of use; fixed orthodontics; psychosocial status   Abstrak: Perawatan ortodonti bertujuan untuk memperbaiki estetika dan fungsi orofasial, dengan cara menggerakkan gigi atau memodifikasi pertumbuhan rahang. Psikososial merupakan gambaran interaksi antara perilaku, pengaruh sosial, lingkungan pada pikiran, dan budaya. Penelitian ini bertuju untuk mengetahui hubungan lama penggunaan ortodonti cekat dengan status psikososial. Jenis penelitian ialah observasional analitik dengan desain potong lintang. Uji statistik yang digunakan ialah uji chi-square. Sampel penelitian ini ialah pasien Klinik Kimia Farma Cendrawasih yang melakukan perawatan ortodonti di dokter Spesialis Ortodonti. Hasil penelitian mendapatkan 40 pasien sebagai responden. Responden terbanyak ialah responden yang memiliki lama penggunaan ortodonti cekat >2 tahun (42,5%), diikuti lama penggunaan <1 tahun (32,5%), dan lama penggunaan 1-2 tahun (25,0%). Terkait status psikososial, responden terbanyak memiliki status psikososial sedang (50%), diikuti status psikososial baik (35,0%), dan status psikososial buruk (15,0%). Hasil uji chi-square terhadap hubungan antara lama penggunaan ortodonti cekat dengan status psikososial mendapatkan nilai p=0,021. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara lama penggunaan ortodonti cekat dengan status psikososial pasien. Kata kunci: lama penggunaan; ortodonti cekat; status psikososial
Perbandingan pH Saliva Setelah Mengonsumsi Buah Papaya (Carica papaya L.) dan Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) Aldilawati, Sari; Abdi, Muhammad J.; Salim, Nurul A. E. P. A.
e-GiGi Vol. 14 No. 2 (2026): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v14i2.62819

Abstract

Abstract: Saliva is a complex fluid produced by the salivary glands and plays a very important role in maintaining the balance of the ecosystem in the oral cavity. Papaya fruit (Carica papaya L.) contains 0.7 grams of fiber per 100 grams, which can help increase saliva production, thereby providing a self-cleansing effect. Red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) is rich in nutrients such as vitamin C, phosphorus, calcium, and antioxidants, and contains antibacterial agents, betacyanin, and phenols. Consuming fruit is one way to maintain optimal saliva pH level and prevent tooth decay. Therefore, the effectiveness of these two types of fruits on saliva pH levels needs to be explored. This was a quasi-experimental study employing a two-group pretest-posttest design. The results showed that based on the Wilcoxon test results, there was a significant difference in the average saliva pH before and after consuming papaya (Carica papaya L.) and red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus), however, the Mann Whitney test showed no difference between the two treatments. In conclusion, papaya (Carica papaya L.) and red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) have the same effectiveness in lowering saliva pH after consumption by chewing. Although significant Keywords: pH saliva; papaya fruit (Carica papaya L.); red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus)    Abstrak: Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar saliva dan berperan penting dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem dalam rongga mulut. Buah papaya (Carica papaya L.) mengandung serat sebanyak 0,7 gr dalam tiap 100 gr, yang dapat membantu pengeluaran saliva lebih banyak sehingga memberikan efek self cleansing. Buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) memiliki kandungan nutrisi kaya vitamin C, fosfor, dan kalsium, antioksidan, serta kandungan antibakteri, betacinin, dan fenol. Mengonsumsi buah merupakan salah satu cara menjaga pH saliva dalam kondisi optimum untuk mencegah terjadinya karies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas mengonsumsi kedua jenis buah terhadap pH saliva. Penelitian ini menggunakan metode kuasi-eksperimental, dengan two group pretest postest design. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan temuan berbeda secara bermakna antara rerata pH saliva sebelum dan sesudah mengonsumsi buah papaya (Carica papaya L.) maupun buah naga merah (Hylocereus polyrhizus), namun uji  Mann Whitney tidak mendapatkan perbedaan antara kedua perlakuan. Simpulan penelitian ini ialah buah pepaya (Carica papaya L) dan buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) memiliki efektivitas yang sama dalam menurunkan pH saliva setelah dikonsumsi dengan cara dikunyah. Meskipun perubahan bermakna terjadi dalam masing-masing kelompok, tidak ditemukan adanya perbedaan efektivitas yang bermakna antara keduanya. Kata kunci: pH saliva; pepaya; buah naga merah