ABSTRAK Dalam praktik Human Capital Management (HCM) modern, manusia kerap diperlakukan sebagai objek sistem teknokratis dinilai atas dasar produktivitas, efisiensi, dan data kuantitatif. Paradigma ini mengaburkan dimensi spiritual dan moral dari manusia sebagai subjek bernilai. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi alternatif pengelolaan SDM yang lebih etis dan manusiawi melalui pendekatan epistemologi Islam: bayani (normatif- hukum), burhani (rasional-analitik), dan irfani (reflektif-spiritual). Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif reflektif, menggunakan desain autoetnografi dan semiotik- naratif, serta teknik analisis tematik berdasarkan metode Braun & Clarke. Data diperoleh dari refleksi naratif, ilustrasi visual, dan 81 responden praktisi HCM melalui survei terbuka. Hasilnya menunjukkan lima tema besar yang menyoroti dehumanisasi sistem, konflik etika, dan pentingnya spiritualitas dalam praktik HCM. Integrasi pendekatan bayani–burhani–irfani terbukti memberikan kerangka yang lebih utuh dalam pengambilan kebijakan SDM. Dengan demikian, epistemologi Islam berperan penting dalam proses dekolonisasi manajemen, dan dapat menjadi fondasi rekonstruksi sistem HCM berbasis nilai. Kata-kata Kunci: Dekolonisasi, human capital, Epistemologi Islam (bayani, burhani, irfani)