Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

SUBSTITUSI TEPUNG BUAH LINDUR (B. Gymnorrhiza) DALAM PEMBUATAN MIE BASAH ENCHANCING OF MANGROVE (bruguiera gymnorrhiza) FRUIT FLOUR INTO WET NOODLES Sukina B, Sukina B; Rosnah, Rosnah; Hasriati, Hasriati
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN, UNIVERSITAS HALU OLEO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.009 KB) | DOI: 10.33772/jstp.v4i1.5633

Abstract

ABSTRACT This study aimed to determine the effect of enhancing of mangrove (bruguiera gymnorrhiza) fruit flour into wet noodles towards the acceptability level. This study used a completely randomized design CRD) consisting of five formulas namely K (100% of wheat flour), P1 (10% of mangrove fruit flour), P2 (20 % of mangrove fruit flour), P3 (30 % of mangrove fruit flour), and P4 (40 % of mangrove fruit flour). Then, test of acceptability was performed by colour, flavour, taste and texture. It was carried out on 50 untrained panelists. Analysis of data was done by kruskal-wallis, and post hoc test by Mann-Whitney test (α = 0,05). The results showed that the addition of mangrove fruit flour to wet noodles significantly affected of the attributes of colour, flavour, and texture, but did not affect for the taste attributes. Based on the overall organoleptic assessment, recommended mangrove (bruguiera gymnorrhiza) fruit flour wet noodles formula was P1. Keywords: mangrove (bruguiera gymnorrhiza) fruit flour, wet noodles. ABSTRAKTujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan tepung buah lindur terhadap daya terima mie basah. Pelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari lima formula, yaitu: K (100% Tepung buah lindur), P1 (10% Tepung buah lindur), P2 (20% Tepung buah lindur), P3 (30% Tepung buah lindur), dan P4 (40% Tepung buah lindur). Uji daya terima terdiri dari warna, aroma, rasa dan tekstur dilakukan terhadap 50 panelis tidak terlatih. Analisa data menggunakan uji kruskal-wallis, dan uji lanjutan Mann Whitney Test (a = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan penambahan tepung buah lindur berpengaruh nyata terhadap daya terima atribut warna, aroma, dan tekstur, tetapi tidak berpengaruh terhadap daya terima atribut rasa. Berdasarkan penilaian organoleptik keseluruhan, formula mie basah tepung buah lindur terbaik yang direkomendasikan adalah produk P1.   Kata kunci: tepung buah lindur, mie basah.
PENGARUH PENAMBAHAN WORTEL (Daucus Carrota L) TERHADAP DAYA TERIMA KERUPUK UBI KARET (Manihot glaziovii Muell. Arg) Sukina, Sukina; Sufrin, Fitriani; Risma, Risma
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol 3, No 5 (2018): JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI PANGAN
Publisher : JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN, UNIVERSITAS HALU OLEO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.462 KB) | DOI: 10.33772/jstp.v3i5.5227

Abstract

ABSTRACT The purpose of this study was to determine the effect of addition of carrots on Ceara-Rubber (Manihot Glaziovii Muell) crackers on the acceptability level. This study uses a completely randomized design (CRD) consisting of five formulas, respectively namely K (1000 g of Ceara-Rubber flour), P1 (600 g of Ceara-Rubber flour: 400 g of carrot), P2 (700 g of Ceara-Rubber flour: 300 g of carrots), P3 (800 g of Ceara-Rubber flour: 200 g of carrots), and P4 (900 g of Ceara-Rubber flour: 100 g of carrots). The test of acceptability was done consisting of colour, flavour, taste and texture. It was carried out on 40 untrained panelists. Data analysis was done by one-way Anova, with a confidence level of 95%. The results showed that the addition of carrots to sweet potato crackers significantly affected the texture attributes, and overall organoleptic assessment, but did not affect on the acceptability of the attributes of colour, taste, and flavour. Based on the overall organoleptic assessment, formula P2 was the most preferred product. Keywords: Carrots, Ceara-Rubber (manihot glaziovii muell), crackers. ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian wortel terhadap daya terima kerupuk ubi karet. Pelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari lima formula, yaitu: K (tepung ubi kayu karet 1000 g), P1 (tepung ubi kayu karet 600 g : wortel 400 g), P2 (tepung ubi kayu karet 700 g : wortel 300 g), P3 (tepung ubi kayu karet 800 g : wortel 200 g), dan P4 (tepung ubi kayu karet 900 g : wortel 100 g). Uji daya terima terdiri dari warna, aroma, rasa dan tekstur dilakukan terhadap 40 panelis tidak terlatih. Analisa data menggunakan one-way Anova, dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan penambahan wortel pada kerupuk ubi kayu karet berpengaruh nyata pada atribut tekstur, dan penilaian organoleptik keseluruhan, tetapi tidak berpengaruh terhadap daya terima atribut warna, rasa, dan aroma. Berdasarkan penilaian organoleptik keseluruhan, formula P2 adalah produk yang paling disukai. Kata kunci: Wortel,ubi kayu karet, kerupuk. PENDAHULUAN
KANDUNGAN GIZI KERANG BAKAU (Telescopium telescopium), KERANG KALANDUE (Polymesoda erosa), DAN KERANG DARAH (Anadara granosa L.) DARI KOTA KENDARI B, Sukina; Ahmad, Ahmad; Rasmaniar, Rasmaniar
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol 5, No 2 (2020): JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI PANGAN
Publisher : JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN, UNIVERSITAS HALU OLEO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (711.891 KB) | DOI: 10.33772/jstp.v5i2.12034

Abstract

ABSTRACT The purpose of this study was to determine the contents of proximate, iron, zinc, cholesterol, and fatty acid profiles from fresh mangrove shells (Telescopium telescopium), fresh Kalandue shells (Polymesoda erosa), and boiled blood shells (Anadara granosa L.). Shellfish in this study came from the city of Kendari. The analysis included: levels of proximate, iron, zinc, cholesterol, and fatty acid profiles. The dominant proximate content of the three types of shells was protein, which was 53.91% in mangrove shells, 69.72 %% in blood shells, and 77.07 % in kalandue shells. The highest iron and cholesterol contents were obtained in fresh kalandue shells that reached 74.9 ppm and 145.77 mg/100g, respectively. Meanwhile, the highest zinc content was obtained in the boiled blood shell (63.1 ppm). There were 10 types of fatty acids in fresh mangrove shells, 13 types of fatty acids in fresh kalandue shells, and 9 types of fatty acids in boiled blood shells. In addition, kalandue shells had chain fatty acid (SCFAs) namely Butyric Acid (C4:0).Keywords: proximate, iron, zinc, cholesterol, fatty acid, telescopium telescopium, polymesoda erosa, anadara                   granosa ABSTRAKTujuan penelitian ini untuk menentukan kandungan proksimat, zat besi, zink, kolesterol, dan profil asam lemak dari kerang bakau (Telescopium telescopium) segar, kerang Kalandue (Polymesoda erosa) segar, dan kerang darah (Anadara granosa L.) rebus. Kerang pada penelitian ini berasal dari Kota Kendari. Analisis meliputi : kadar proksimat, kadar besi dan zink, serta kadar kolesterol dan profil asam lemak Kandungan proksimat yang dominan dari ketiga jenis kerang tersebut adalah protein  53,91 % pada kerang bakau, 69,72%% pada kerang darah, dan 77,07% pada kerang kalandue. Kandungan Zat Besi dan kolesterol tertinggi pada jenis kerang kalandue segar masing-masing sebesar 74,9 ppm, dan 145,77 mg/100g, sedangkan kandungan Zink terbesar pada jenis kerang darah rebus (63,1 ppm). Terdapat 10 jenis asam lemak pada kerang bakau segar, 13 jenis asam lemak pada kerang kalandue segar, dan 9 jenis asam lemak pada kerang darah rebus. Selain itu, pada kerang kalandue terdapat satu asam lemak rantai pendek (SCFAs) yaitu Asam Butirat (C4:0).Kata kunci: proksimat, besi, zink, kolesterol, asam lemak, kerang bakau, kerang Kalandue, dan kerang darah 
PENILAIAN ORGANOLEPTIK, KANDUNGAN PROKSIMAT, BESI (Fe), KOLESTEROL, DAN CEMARAN LOGAM PLUMBUM (Pb) NUGGET KERANG KALANDUE (Polymesoda erosa) B, Sukina; Astati, Astati; Ahmad, Ahmad; Imanuddin, Imanuddin
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol 6, No 3 (2021): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : JURUSAN ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN, UNIVERSITAS HALU OLEO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.682 KB) | DOI: 10.33772/jstp.v6i3.2087

Abstract

ABSTRACT The purpose of this study was to determine the organoleptic assessment of kalandue scallop nuggets with carrot substitution, then continued with the determination of iron content, cholesterol, food quality and food safety of kalandue mussel nuggets selected formula based on test parameters, proximate content, and lead contamination. This study used a completely randomized design (CRD) with four formulas, namely P1 (ratio of kalandue scallops and carrots 100:0), P2 (ratio of kalandue scallops and carrots 75:25), P3 (ratio of kalandue scallops and carrots 50:50), and P4 (ratio of kalandue mussels and carrots 25:75). Organoleptic assessment data were analyzed using non-parametric statistics with the Kruskal Wallis Hedonic test. The results show that the average score for the organoleptic assessment of kalandue scallop nuggets from all test parameters of the P2 formula was preferable to other formulas. Carrot substitution in making kalandue shellfish nuggets had no effect on the organoleptic assessment of all test variables. The results show that the moisture, carbohydrates, protein, fat, ash, crude fiber, Fe, and cholesterol contents were 49.38%, 31.41%, 13.25%, 4.89%, 0.96%, 0.09%, 12.59 mg/100g, and 2.78 mg/100g, respectively. In addition, no lead contamination was found. The conclusions of this research are: the P2 Formula was the best kalandue scallop nugget formula. It met the quality requirements of fish nuggets according to SNI 7758:2013 based on test parameters, proximate content, and lead contamination.  Keywords: kalandue scallop nuggets, organoleptic attributes, proximate, cholesterol, iron, lead contamination ABSTRAKTujuan penelitian ini untuk mengetahui penilaian organoleptik nugget kerang kalandue dengan substitusi wortel, kemudian dilanjutkan dengan penentuan kandungan besi, kolesterol, serta mutu dan keamanan nugget kerang kalandue formula terpilih berdasarkan parameter uji: kandungan proksimat, dan cemaran logam Plumbum. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan Empat formula, yaitu: P1 (perbandingan kerang kalandue dan wortel 100:0), P2 (perbandingan kerang kalandue dan wortel 75:25), P3 (perbandingan kerang kalandue dan wortel 50: 50), dan P4 (perbandingan kerang kalandue dan wortel 25: 75). Data penilaian organoleptik dianalisis dengan menggunakan statistik non-parametrik dengan uji Hedonik Kruskal Wallis. Hasil penelitian menunjukkan rerata skor penilaian organoleptik nugget kerang kalandue dari semua parameter pengujian formula P2 lebih disukai dibanding formula lainnya. Substitusi wortel pada pembuatan nugget kerang kalandue tidak berpengaruh pada penilaian organoleptik semua variabel pengujian. Hasil pemeriksaan kandungan air, karbohidrat, protein, lemak, kadar abu, serat kasar, Fe, dan kolesterol masing-masing adalah 49,38%, 31,41%, 13,25%, 4,89%, 0,96%, 0,09%, 12,59 mg/100g, dan 2,78 mg/100g, serta tidak ditemukan cemaran logam Pb. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah: Formula P2 merupakan formula nugget kerang kalandue terbaik, serta telah memenuhi persyaratan mutu nugget ikan menurut SNI 7758:2013, berdasarkan parameter uji: kandungan proksimat, dan cemaran logam Plumbum.Kata kunci: nugget kerang kalandue, penilaian organoleptik, kandungan proksimat, kolesterol, zat besi, cemaran logam Plumbum
HUBUNGAN DEFISIENSI KADAR VITAMIN D PADA PENYAKIT AUTOIMUN Sukina, Sukina; Setiaji, Yoki
Plenary Health : Jurnal Kesehatan Paripurna Vol. 1 No. 3 (2024)
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/plenaryhealth.v1i3.654

Abstract

Vitamin D diketahui sebagai immunomudulator. Pada beberapa penelitian menunjukkan kadar vitamin D yang rendah berhubungan dengan derajat keparahan penyakit pada pasien dengan penyakit autoimun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui status vitamin D pada pasien autoimun dan hubungan kadar vitamin D dengan aktivitas penyakit pada pasien autoimun di RSAM. Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang. Terdapat 95 subyek dalam penelitian ini dengan rentang usia 12-60 tahun. Variabel bebas adalah kadar vitamin D (25(OH)D) yang didapat dari status rekam medik, yang dibagi menjadi tiga kategori yaitu defisiensi, insufisiensi dan sufisiensi. Variabel terikat adalah aktivitas penyakit autoimun yang diperoleh dari   dokumentasi catatan medis pasien. Hubungan antara kedua variabel dianalisis menggunakan uji SPSS dengan metode Kruskal-Wallis test. Subyek penelitian berjumlah 95 pasien autoimun. Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki 24 orang (25,2%), wanita 71 orang (74,8%). Rerata kadar vitamin D pada pasien autoimun adalah 27,26 ng/mL. Pasien yang mengalami defisiensi kadar vitamin D sebanyak 40 orang (42,1%), insufisiensi sebanyak 20 orang (21,1%) dan sufisiensi vitamin D sebanyak 35 orang (36,8%). Dari analisis data didapatkan nilai Asymp Sig. <.001 yang berarti H0 ditolak atau ada hubungan yang signifikan defisiensi kadar vitamin D pada penyakit autoimun. Kadar vitamin D yang rendah bisa didapatkan pada semua usia, baik pria maupun wanita dan defisiensi vitamin D mempunyai hubungan yang signifikan terhadap penyakit autoimun, sehingga penting untuk menjaga kadar vitamin D berada pada kondisi normal.