Penelitian ini mengkaji dinamika pendidikan Islam pada masa pemerintahan Sultanah Safiatuddin Syah (1641–1675) di Kerajaan Aceh Darussalam. Latar belakang penelitian berangkat dari peran signifikan Aceh sebagai pusat intelektual Islam di Asia Tenggara pada abad ke-17, di mana pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu agama, tetapi juga sebagai instrumen legitimasi politik dan penguatan identitas keislaman kerajaan. Sultanah Safiatuddin Syah merupakan putri Sultan Iskandar Muda sekaligus istri Sultan Iskandar Tsani, yang naik tahta setelah wafatnya sang suami. Pemerintahannya menjadi unik karena dipimpin seorang perempuan dalam tradisi kerajaan Islam, namun justru mampu mempertahankan stabilitas politik dan mengembangkan kehidupan intelektual. Rumusan masalah penelitian ini adalah: (1) bagaimana perkembangan pendidikan Islam pada masa Sultanah Safiatuddin Syah; (2) peran ulama, khususnya Syaikh Abdur Rauf as-Singkili, dalam merumuskan sistem pendidikan dan penyebaran ilmu; serta (3) bagaimana hubungan antara kekuasaan politik dan otoritas keilmuan di Aceh pada periode tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan pola pendidikan Islam yang berkembang pada era Sultanah, menelaah kontribusi ulama besar seperti Syaikh Abdur Rauf as-Singkili dalam dunia intelektual Aceh, serta mengungkap relevansi kepemimpinan Sultanah dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Islam di Aceh mengalami kemajuan pesat dengan berdirinya dayah dan lembaga-lembaga keilmuan yang menjadi pusat kajian fikih, tasawuf, dan tafsir. Kehadiran Syaikh Abdur Rauf as-Singkili memperkuat tradisi intelektual tersebut, sekaligus menjadikan Aceh sebagai mercusuar ilmu Islam di kawasan Nusantara. Dengan demikian, kepemimpinan Sultanah Safiatuddin Syah tidak hanya berhasil menjaga kestabilan kerajaan, tetapi juga meneguhkan posisi Aceh sebagai pusat pendidikan Islam abad ke-17.