Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS KESULITAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA PADA MATERI PERBANDINGAN SD SWASTA ALWASHLIYAH 80 KISARAN Anim, Anim; Dewi, Nur Winda; Ramayanti, Suci; Dalimunthe, Maisahara
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 8, No 4 (2025): November 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i4.4930

Abstract

Abstract: This study aims to describe students' mathematical communication skills in solving comparison problems. A total of 32 sixth-grade students at AlWashliyah 80 Kisaran Private Elementary School were the subjects of this study. Data were collected by giving three essay questions focusing on comparison material. The results of the analysis showed that only a small percentage of students, namely 18.75%, had high mathematical communication skills. Another 25% were in the moderate category, while the majority of students, 56.25%, were classified as having low communication skills. Students in the high category were able to meet all the expected indicators, while students in the moderate category were only able to master two indicators. Students in the low category were generally only able to achieve one indicator. These findings confirm that mathematical communication skills play an important role in helping students understand problems and solve math questions more effectively.Keywords: Analysis; ability; mathematical communication; comparison.Abstrak: Penelitian ini bertujuan menggambarkan kemampuan komunikasi matematis siswa dalam menyelesaikan soal perbandingan. Sebanyak 32 siswa kelas VI di SD Swasta AlWashliyah 80 Kisaran menjadi subjek dalam penelitian ini. Data dikumpulkan melalui pemberian tiga soal uraian yang berfokus pada materi perbandingan. Hasil analisis menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil siswa, yakni 18,75%, yang memiliki kemampuan komunikasi matematis pada kategori tinggi. Sebanyak 25% lainnya berada pada kategori sedang, sedangkan mayoritas siswa, yaitu 56,25%, tergolong memiliki kemampuan komunikasi yang rendah. Siswa yang termasuk kategori tinggi mampu memenuhi seluruh indikator yang diharapkan, sementara siswa yang berada pada kategori sedang hanya dapat menguasai dua indikator. Adapun siswa dengan kategori rendah umumnya hanya mampu mencapai satu indikator saja. Temuan ini menegaskan bahwa kemampuan komunikasi matematis memegang peran penting dalam membantu siswa memahami persoalan dan menyelesaikan soal matematika secara lebih efektif.Kata kunci: Analisis; kemampuan; komunikasi matematis; perbandingan.
PKM Literasi Cerdas: Optimalisasi Perpustakaan Desa Ambalutu sebagai Pusat Edukasi Berbasis Digitalisasi Yanti, Sri Rahmayanti; Dailami, Dailami; Dewi, Nur Winda; Saleh, Khairul; Dani, Ahmad
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/5yxaw338

Abstract

Penguatan literasi digital masyarakat desa menjadi penting dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan. Program pengabdian pada masyarakat ini bertujuan mengoptimalkan perpustakaan Desa Ambalutu sebagai pusat edukasi berbasis digitalisasi untuk meningkatkan literasi dan akses informasi masyarakat. Metode pengabdian dilakukan melalui pelatihan literasi digital bagi perangkat desa, pengurus PKK, dan siswa sekolah dasar, disertai pendampingan penggunaan aplikasi perpustakaan digital dan monitoring berkelanjutan. Data dikumpulkan dengan observasi langsung, kuesioner, dan wawancara untuk mengukur peningkatan kemampuan literasi digital serta partisipasi aktif masyarakat dalam pemanfaatan layanan perpustakaan. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam kualitas layanan perpustakaan dan kapasitas SDM pengelola, terbukti dari skor tertinggi pada aspek perencanaan kerja berkelanjutan dan pelatihan staf profesional. Digitalisasi perpustakaan membuka akses yang lebih luas terhadap bahan bacaan digital dan meningkatkan minat baca masyarakat secara inklusif. Kemitraan multipihak antara perangkat desa, kelompok PKK, institusi pendidikan dan sektor swasta memperkuat pengelolaan dan kelangsungan program. Tantangan berupa keterbatasan infrastruktur jaringan dan kesiapan teknologi warga menjadi fokus perbaikan ke depan. Keberlanjutan program dijaga melalui beberapa strategi terstruktur: pertama, pembentukan kader literasi digital dari generasi muda dan pengurus PKK sebagai agen perubahan yang mengelola perpustakaan secara mandiri; kedua, penyusunan dokumen rencana kerja berkelanjutan dan SOP pengelolaan perpustakaan digital; ketiga, pelaksanaan monitoring dan evaluasi berkala minimal tiga kali per tahun untuk mengukur efektivitas program; keempat, pengembangan kemitraan jangka panjang dengan pemerintah desa, lembaga pendidikan, dan sektor swasta untuk dukungan infrastruktur dan pendanaan; kelima, integrasi perpustakaan digital dalam kegiatan rutin desa dan sistem pembelajaran sekolah setempat. Keberlanjutan diukur melalui indikator kuantitatif seperti jumlah pengguna aktif perpustakaan digital, frekuensi peminjaman buku digital, dan jumlah kegiatan literasi yang dilaksanakan, serta indikator kualitatif berupa peningkatan kompetensi pengelola, kepuasan pengguna (skor 4,5), dan partisipasi aktif masyarakat dalam program literasi. Kesimpulan program ini menegaskan bahwa pengoptimalan perpustakaan berbasis digital efektif meningkatkan literasi digital masyarakat desa dan memperkuat ekosistem edukasi komunitas. Model pengabdian ini layak direplikasi untuk pengembangan perpustakaan desa lainnya dalam upaya pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi. Keberhasilan program membuka peluang pengembangan berkelanjutan dengan dukungan infrastruktur dan pelatihan literasi digital yang terstruktur. Smart Literacy Community Service Program: Optimization of Ambalutu Village Library as a Digital-Based Education Center  Abstract The digital literacy empowerment of rural communities is crucial for supporting sustainable human resource development. This community service program aims to optimize the Ambalutu Village Library as a digital-based education center to enhance literacy and access to information among the community. The program’s method involves digital literacy training for village officials, PKK administrators, and elementary school students, supplemented by assistance in using digital library applications and continuous monitoring. Data were collected through direct observation, questionnaires, and interviews to measure improvements in digital literacy skills and active community participation in utilizing library services. Evaluation results show significant improvements in the quality of library services and the capacity of human resources managing the library, evidenced by the highest scores in sustainable work planning and professional staff training. The digitalization of the library provides broader access to digital reading materials and inclusively increases public reading interest. Multi-stakeholder partnerships between village officials, PKK groups, educational institutions, and the private sector strengthen the program's management and sustainability. Challenges related to limited network infrastructure and community readiness for technology remain key focuses for future improvement. In conclusion, this program confirms that optimizing libraries based on digitalization effectively enhances the digital literacy of rural communities and strengthens the community’s educational ecosystem. This community service model is worthy of replication for the development of other village libraries aiming to empower communities based on technology. The program’s success opens opportunities for sustainable development supported by infrastructure and structured digital literacy training.