Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dugaan Massa Paru pada Kasus Pneumonia Berulang: CT Scan Memperlihatkan Bronkiektasis Yuarsa, Tri Agus; Kamila, Muthia Dwifitri; Fairuz Desyana, Rizqia Meta; Gayatri, Alya Indah; Nauli, Ghaniyyah; Laelatus Sifa, Silvia; Akmaluddin, Muhamad; Dwifitri Kamila, Muthia
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.998

Abstract

Pendahuluan: Gambaran massa pada paru sering menimbulkan kecurigaan keganasan, terutama pada pasien dengan pneumonia berulang atau gejala respirasi persisten. Namun, beberapa kelainan non-neoplastik dapat menyerupai lesi massa secara radiologis. Ilustrasi Kasus: Seorang pria 61 tahun datang dengan dispnea memberat satu hari, disertai batuk produktif berwarna hijau kekuningan selama satu tahun. Pemeriksaan fisik menunjukkan penggunaan otot bantu napas, penurunan suara napas di paru kiri bawah, dan ronki bilateral. Saturasi oksigen 67% meningkat menjadi 98% dengan oksigen 15 L/menit melalui masker non-rebreathing. Laboratorium menunjukkan leukositosis (31,5×10³/µL), anemia, serta peningkatan urea; hasil TCM TB dan HIV negatif. Foto toraks menunjukkan fibrosis paru kanan dan opasitas di lapang paru kiri bawah. CT toraks dengan kontras memperlihatkan bronkiektasis dengan penebalan dinding bronkus, lesi hipodens berdinding tebal di lobus atas kiri, serta pola tree-in-bud di lobus bawah—menyingkirkan dugaan massa paru. Diagnosis kerja adalah bronkiektasis dengan pneumonia, dengan pertimbangan diferensial tuberkulosis paru. Pasien mendapat Seftriakson, Levofloksasin, terapi antituberkulosis, dan oksigen dengan perbaikan klinis bertahap. Diskusi: Pneumonia dapat menimbulkan konsolidasi lobar akibat eksudasi alveolar yang menyerupai keganasan. Pada kasus ini, CT menunjukkan dilatasi bronkus irreversibel menandakan bronkiektasis kronik. Di wilayah endemis TB, bronkiektasis pasca-TB merupakan penyebab tersering. HRCT menjadi standar emas membedakan bronkiektasis dari pneumonia atau lesi neoplastik, dengan pola signet-ring dan honeycomb sebagai temuan khas. Simpulan: CT toraks berperan penting membedakan infeksi paru kronik dari neoplasma, mencegah salah diagnosis dan terapi yang tidak tepat.
Hubungan Posisi Dan Durasi Duduk Saat Penggunaan Komputer Dengan Keluhan LBP Pada Tenaga Kependidikan Di Universitas Sulltan Ageng Tirtayasa Prameswari, Yuda Nabella; Gayatri, Alya Indah; Sianipar, Imelda Rosalyn
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 1 (2026): Volume 13 Nomor 1
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i1.20880

Abstract

Low back pain (LBP) merupakan masalah kesehatan global yang sering dialami oleh pekerja dengan aktivitas duduk berkepanjangan, termasuk tenaga kependidikan. Tujuan studi ini adalah menganalisis hubungan posisi dan durasi duduk saat menggunakan komputer dengan kejadian LBP pada tenaga kependidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Desain yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan potong lintang yang dilaksanakan di seluruh fakultas dan rektorat Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Analisis bivariat menggunakan uji Chi-square dan Fisher’s Exact menunjukkan bahwa postur duduk yang tidak ergonomis serta durasi duduk yang lama berhubungan signifikan dengan kejadian LBP, sedangkan indeks massa tubuh tidak menunjukkan hubungan yang bermakna. Kesimpulannya, postur duduk yang tidak tepat dan durasi duduk yang berkepanjangan merupakan faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian LBP pada tenaga kependidikan.