Ines Alifah Wachidatun Chasanah
Universitas Negeri Yogyakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

TRANSFORMASI PENDIDIKAN DI ERA DIGITAL: TELAAH FILOSOFIS TENTANG TEKNOLOGI, PENDIDIKAN, DAN KEMANUSIAAN Ines Alifah Wachidatun Chasanah; Sudrajat Sudrajat
SOCIETY Vol. 17 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/society.v17i1.14737

Abstract

Studi ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam hubungan filosofis antara teknologi, pengetahuan, dan kemanusiaan. Studi ini juga berupaya untuk memahami teknologi sebagai kekuatan yang membentuk cara berpikir dan bertindak, tidak hanya sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan. Studi ini menggunakan metode narrative literature review untuk menganalisis teori dan penelitian terdahulu mengenai hubungan filosofis antara teknologi, pengetahuan, dan kemanusiaan. Hasil literature review menunjukkan bahwa integrasi teknologi dalam pendidikan harus didasarkan pada prinsip-prinsip filosofis, khususnya humanisme, eksistensialisme, dan pragmatisme. Dehumanisasi dan ketimpangan akses menjadi tantangan dalam transformasi pendidikan karena teknologi semestinya tidak hanya digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan, tetapi menjadi bagian integral dalam ekosistem belajar. Paulo Freire dan Ki Hadjar Dewantara mengadvokasi pendidikan untuk berjalan pada landasan yang humanis. Kurikulum harus dapat bertransformasi sejalan dengan perkembangan teknologi untuk memperluas esensi pendidikan. Hal ini dapat diintegrasikan secara holistik dalam pembelajaran yang menekankan nilai-nilai kemanusiaan, interaksi sosial, dan proses pembentukan karakter yang merupakan substansi dari pendidikan itu sendiri. Kata kunci: Pendidikan, Teknologi, Humanisme, Digital Transformasi
Mewujudkan equity melalui pendidikan inklusi: Sebuah tinjauan literatur sistematis tentang siswa disabilitas Ines Alifah Wachidatun Chasanah; Saliman Saliman; Riko Septiantoko
DWIJA CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik Vol 9, No 3 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jdc.v9i3.109596

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis peran pendidikan inklusi dalam mewujudkan prinsip equity bagi siswa dengan disabilitas. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) terhadap artikel nasional dan internasional yang terindeks Scopus dan Google Scholar, terbit pada rentang 2015–2025. Proses seleksi dilakukan melalui tahap identifikasi, penyaringan, eligibilitas, dan analisis tematik terhadap 27 artikel terpilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa publikasi mengenai pendidikan inklusif berprinsip equity mengalami fluktuasi, namun meningkat signifikan sejak 2021 seiring menguatnya perhatian terhadap keadilan substantif bagi siswa disabilitas. Temuan utama mengungkapkan bahwa equity tidak sekadar menekankan pemerataan akses, tetapi juga keadilan dalam proses pembelajaran dan capaian hasil belajar. Prinsip equity ditentukan oleh tiga aspek utama, yaitu akses input, proses instruksional, dan luaran pembelajaran. Simpulan penelitian menegaskan bahwa pendidikan inklusi berprinsip equity berperan strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan sekaligus membangun sistem pendidikan yang berkeadilan sosial. Realizing equity through inclusive education: A systematic literature review on students with disabilities Abstract: The purpose of this study is to analyze the role of inclusive education in realizing equity for students with disabilities. The method employed was a Systematic Literature Review (SLR) of national and international articles indexed in Scopus and Google Scholar, published between 2015 and 2025. The selection process followed identification, screening, eligibility, and thematic analysis stages, resulting in 27 selected articles. The results indicate that publications on equity-based inclusive education fluctuated but increased significantly after 2021, reflecting growing attention to substantive justice for students with disabilities. The findings reveal that equity extends beyond equal access to encompass fairness in instructional processes and learning outcomes. Equity-oriented inclusive education is shaped by three key dimensions: input access, instructional processes, and learning outputs. The conclusion confirms that implementing equity principles in inclusive education not only enhances educational quality through improved learning outcomes but also serves as a strategic instrument for developing a socially just education system.
HYBRIDIZATION OF INTERNATIONAL AND NATIONAL CURRICULA: CRITICAL REFLECTION THROUGH THE THOUGHT OF PAULO FREIRE Ines Alifah Wachidatun Chasanah; Rhoma Dwi Aria Yulianti
SOSIOEDUKASI Vol 15 No 2 (2026): SOSIOEDUKASI : JURNAL ILMIAH ILMU PENDIDIKAN DAN SOSIAL
Publisher : Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36526/sosioedukasi.v15i2.6732

Abstract

This article discusses how schools in Indonesia combine international and national curricula. This study was conducted through the systematic literature review (SLR) method which was analyzed using Paulo Freire's critical pedagogy framework. Based on 18 articles that have met the inclusion criteria, the adoption of international curricula, such as Cambridge or the International Islamic Boarding School (IIBS) is carried out by adjustment and negotiation that combines global standards with local cultural values, religion, and national identity based on Pancasila. The findings show that there is a pedagogical shift from traditional models to collaborative learning that is dialogical, project-based, and the use of technology, thus opening up the space for co-creation of knowledge as stated by Freire. This study confirms that curriculum hybridization can be a means of humanization when global and local knowledge can be placed equally and equitably. However, the implementation of the hybrid curriculum poses challenges in the form of access inequality due to differences in economic ability, geographical location, and school characteristics. The study also emphasizes the importance of education policies that ensure equitable distribution of service quality, strengthening teacher competencies, and curriculum design that allows for reflective dialogue between global contexts and cultural values and national identity.
Good citizenship and educated citizens: Social studies curricula comparison in Indonesia-England Ines Alifah Wachidatun Chasanah; Anik Widiastuti
Inovasi Kurikulum Vol. 22 No. 4 (2025): Inovasi Kurikulum, November 2025
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64014/jik.v22i4.192

Abstract

The primary objective of social studies education is to develop citizens with civic skills and the ability to analyze social issues critically. This study aims to examine the comparative orientation of the objectives of the social studies curriculum in Indonesia, which emphasizes the formation of good citizenship character, and the orientation of the curriculum in England, which emphasizes the profile of educated citizens. This study is important to understand the philosophical differences underlying how each country conceptualizes social studies education. This study employs a content analysis method to objectively, systematically, and comprehensively analyze the contents of texts and curriculum documents in both countries. This study analyzed 11 curriculum documents from both countries, comprising five from Indonesia and six from England, using the Atlas.In their application, researchers analyzed the learning objectives, social studies content, and learning approaches using search keywords. The results of the content analysis of the curriculum documents indicate that the objectives of the social studies curriculum in Indonesia are oriented towards strengthening national identity through values, character, and morals (good citizenship), while in England, they are oriented towards developing students' capacity to play an active role in a democratic and global society (educated citizens). This suggests that the development of social studies in both countries aligns with the curriculum's needs and objectives.   Abstrak Tujuan utama dari pendidikan IPS adalah untuk membentuk warga negara yang memiliki keterampilan kewargaan dengan analisis kritis tehadap isu-isu sosial. Studi ini bertujuan untuk mengkaji perbandingan orientasi tujuan kurikulum IPS di Indonesia yang menekankan pada pembentukan karakter good citizenship dan orientasi tujuan kurikulum di Inggris yang menekankan pada profil educated citizens. Studi ini penting untuk memahami perbedaan filosofis yang mendasari bagaimana setiap negara mengkonseptualisasikan pendidikan IPS. Studi ini menggunakan metode analisis konten untuk menganalisis isi teks dan dokumen kurikulum di kedua negara secara objektif, sistematis, dan generalisis. Studi ini menganalisis 11 dokumen kurikulum dari kedua negara, yang meliputi 5 dokumen kurikulum di Indonesia dan 6 dokumen kurikulum di Inggris. Dengan menggunakan aplikasi atlas.ti, peneliti melakukan analisis terhadap tujuan pembelajaran, konten materi social studies, dan pendekatan pembelajaran dengan menggunakan kata kunci pencarian. Hasil analisis konten terhadap dokumen-dokumen kurikulum menunjukan bahwa tujuan kurikulum IPS di Indonesia berorientasi pada penguatan identitas bangsa melalui nilai, karakter, dan moral (good citizenship), sementara di Inggris berorientasi pada pengembangan kapasitas siswa dalam berperan aktif pada masyakarat demokratis dan global (educated citizens). Hal ini menunjukan bahwa pengembangan social studies di kedua negara bersifat kontekstual, sesuai dengan kebutuhan dan orientasi tujuan kurikulum yang ingin dicapai. Kata Kunci: kewarganegaraan yang baik; kurikulum IPS; studi perbandingan; warga negara yang terdidik