Elviani
Institut Sains Al Qur`an Syekh Ibrahim Pasir Pangaraian

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Mahasin At-Ta’wil Karya Jamaluddin Al-Qasamy : Thaharah Dan Wudhu Vivy Alvionika; Rani Safitri; Elviani
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 1 No. 2 (2025): 2025
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v1i2.494

Abstract

Thaharah merupakan konsep fundamental dalam Islam yang tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lahiriah, tetapi juga kesucian batin yang menjadi syarat sah pelaksanaan ibadah, khususnya shalat. Wudhu sebagai salah satu bentuk thaharah memiliki kedudukan penting karena selain membersihkan hadas kecil, juga mempersiapkan kondisi spiritual seorang Muslim. Artikel ini bertujuan mengkaji konsep thaharah dan wudhu dalam perspektif tafsir Al-Qur’an melalui analisis terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan pensyariatan bersuci, khususnya Surah Al-Mā’idah ayat 6, serta pandangan para mufasir tentang makna, hukum, dan nilai spiritualnya. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan tafsir tematik dan ayat ahkām untuk menggali pemahaman komprehensif terkait landasan normatif dan implikasi ibadah dari praktik thaharah dan wudhu. Hasil kajian menunjukkan bahwa thaharah bukan hanya kewajiban ritual, tetapi merupakan sarana pembinaan kesucian lahir dan batin, penguatan disiplin ibadah, serta pembentukan kesadaran spiritual dalam kehidupan seorang Muslim. Temuan ini menegaskan bahwa pemahaman yang benar terhadap thaharah dan wudhu memiliki pengaruh signifikan terhadap kesempurnaan ibadah dan kualitas keberagamaan
Zihār Dalam Tafsir Adhwā’ Al-Bayān Fi Tafsīr Al-Qur’ān Bi Al-Qur’ān Karya Muhammad Al-Amin Al-Mukhtar Asy-Syinqiti Afriani; Selvina Sari; Elviani
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 1 No. 2 (2025): 2025
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v1i2.516

Abstract

Zihār merupakan praktik lisan dalam rumah tangga yang berasal dari tradisi Arab pra-Islam, di mana seorang suami menyerupakan istrinya dengan perempuan yang haram dinikahi secara permanen, sehingga menimbulkan ketidakjelasan status hukum dan ketidakadilan bagi perempuan. Islam secara tegas menghapus praktik tersebut melalui Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Mujādilah ayat 2–4, dengan menetapkan zihār sebagai ucapan mungkar dan tidak sah sebagai bentuk talak. Artikel ini bertujuan mengkaji konsep zihār berdasarkan penafsiran Muhammad al-Amīn al-Mukhtār asy-Syinqīṭī dalam kitab Adhwā’ al-Bayān fī Tafsīr al-Qur’ān bi al-Qur’ān. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan tafsir tematik dan analisis deskriptif-analitis terhadap teks tafsir, ayat-ayat zihār, serta implikasi hukumnya dalam perspektif hukum keluarga Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa asy-Syinqīṭī menegaskan keharaman zihār, menolak kedudukannya sebagai talak, serta menetapkan kafārat sebagai mekanisme korektif yang bersifat edukatif, melindungi hak perempuan, dan menegakkan keadilan rumah tangga. Dengan demikian, konsep zihār dalam tafsir Adhwā’ al-Bayān menegaskan prinsip keadilan, perlindungan martabat perempuan, dan tanggung jawab moral dalam hukum keluarga Islam
Jami` Al-Bayan Fi Ta`Wil Al-Qur`An Karya Ibnu Jarir Ath-Thabari Indah Permata Sapihak; Nurul Fadillah Hasanah; Elviani
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 1 No. 2 (2025): 2025
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v1i2.526

Abstract

Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam memerlukan pendekatan penafsiran yang komprehensif dan bertanggung jawab agar kandungan maknanya dapat dipahami secara tepat. Salah satu karya monumental dalam tradisi tafsir klasik adalah Jāmi‘ al-Bayān fī Ta’wīl al-Qur’ān karya Ibnu Jarir Ath-Thabari yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu tafsir. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji latar belakang penulisan, karakteristik metodologi, serta corak penafsiran yang digunakan Ath-Thabari dalam karyanya tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dengan menelaah kitab utama dan literatur pendukung terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir Ath-Thabari merupakan jenis tafsīr bi al-ma’tsūr yang bertumpu pada Al-Qur’an, hadis, serta riwayat sahabat dan tabi’in, namun tetap didukung oleh analisis rasional dalam menentukan pendapat yang paling kuat. Tafsir ini tidak hanya berkontribusi besar bagi perkembangan tafsir klasik, tetapi juga menjadi rujukan penting bagi kajian tafsir kontemporer. Implikasi kajian ini menegaskan bahwa penafsiran Al-Qur’an memerlukan ketelitian ilmiah, akurasi metodologis, dan tanggung jawab akademik agar pesan Al-Qur’an dapat dipahami secara benar.
Talak Dalam Perspektif Tafsir Ibn Katsīr: Analisis Penafsiran Qs. Al-Baqarah Ayat 229–230 Anggi Wahyuni; Intan Purnama Sari; Elviani
QAYID : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 1 No. 2 (2025): 2025
Publisher : PT. Hassan Group Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/qd.v1i2.636

Abstract

Talak merupakan institusi hukum keluarga Islam yang disyariatkan sebagai solusi terakhir untuk menjaga keadilan dan kemaslahatan rumah tangga. Artikel ini bertujuan menganalisis konsep talak dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm karya Ibn Katsīr melalui penafsiran QS. al-Baqarah ayat 229–230. Kajian ini menggunakan penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, dengan sumber primer berupa tafsir Ibn Katsīr serta sumber sekunder dari kitab fikih, tafsir klasik, dan literatur ilmiah relevan, yang dianalisis menggunakan metode analisis isi. Hasil kajian menunjukkan bahwa Ibn Katsīr memandang talak sebagai mekanisme syar‘i yang dibatasi secara ketat oleh aturan dan etika, antara lain pembatasan talak raj‘i, kebolehan khulu‘ dalam kondisi tertentu, serta pelarangan praktik nikah taḥlīl yang direkayasa. Penafsiran tersebut menegaskan bahwa tujuan pensyariatan talak adalah mencegah kezaliman, melindungi kehormatan perempuan, dan mewujudkan keadilan dalam kehidupan rumah tangga. Implikasi kajian ini menegaskan relevansi tafsir Ibn Katsīr sebagai landasan normatif dan etis dalam pengembangan hukum keluarga Islam yang berkeadilan dan berorientasi pada kemaslahatan.