Albaburrahim Albaburrahim
Universitas Islam Negeri Madura

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Validitas Konstruk Soal Asesmen Madrasah Bahasa Indonesia Kelas XI MA: Perspektif Taksonomi Bloom. Albaburrahim Albaburrahim; Febriana Nikmatul Khair; Liana Rochmatul Wachidah
Social, Humanities, and Educational Studies (SHES): Conference Series Vol 8, No 3 (2025): Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/shes.v8i3.107312

Abstract

Madrasah assessment questions as an evaluation instrument for learning to measure students' thinking skills need to ensure that the questions are by what will be measured and with the learning indicators. This study aims to determine the validity of the Indonesian language madrasah assessment questions in terms of the Bloom taxonomy perspective, construct and describe the role of teachers in ensuring valid questions. The method used is qualitative research with data in the form of Indonesian language assessment questions for class XI, MA Matsaratul Huda and indicators on the grid. Data analysis was carried out by comparing the suitability of the cognitive level in the assessment questions with the cognitive level in the indicators in the grid based on Bloom's taxonomy. The results of the study showed that out of ten exam questions, eight questions were valid in terms of construction because they had a match between their cognitive levels. Therefore, a re-evaluation is needed so that the questions have high quality, so that they can measure the abilities of students. This shows the importance of teachers in understanding the preparation of evaluation instruments so that learning objectives can be achieved properly.Soal asesmen madrasah sebagai instrumen evaluasi pembelajaran untuk mengukur kemampuan berpikir siswa perlu dipastikan bahwa soal tersebut sudah sesuai dengan apa yang akan diukur dan sesuai dengan indikator pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kevalidan soal asesmem madrasah Bahasa Indonesia secara konstruk perspektif taksonomi bloom dan mendeskripsikan peran guru dalam menjamin soal yang valid. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan data berupa soal asesmen Bahasa Indonesia kelas XI MA Matsaratul Huda dan indikator pada kisi-kisi. Analisis data dilakukan dengan membandingkan kesesuaian level kognitif pada soal asesmen dengan level kognitif pada indikator dalam kisi-kisi yang berdasar pada taksonomi bloom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sepuluh soal ujian terdapat delapan soal yang valid secara kontruksi karena memiliki kesesuaian antara level kognitifnya. Oleh karena itu perlu adanya evaluasi kembali agar soal memiliki kualitas yang tinggi sehingga dapat mengukur kemampuan yang dimiliki siswa. Hal tersebut menunjukkan pentingnya guru dalam memahami penyusunan instrumen evaluasi agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
Penanaman Pekerti melalui Simbol Makanan Rakyat dalam Cerita Digital: Perspektif Gastrosemiotik tentang Kecerdasan Majemuk Liana Rochmatul Wachidah; Henny Subandiyah; Titik Indarti; Albaburrahim Albaburrahim; Mochamad Arifin Alatas
Social, Humanities, and Educational Studies (SHES): Conference Series Vol 8, No 3 (2025): Social, Humanities, and Educational Studies (SHEs): Conference Series
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/shes.v8i3.107327

Abstract

Digital folklore with culinary themes contains cultural values and social ethics that are close to children's lives. This study aims to examine the symbolism of food in digital culinary stories as a means of instilling character values, as well as educating them with the potential to develop children's multiple intelligences. This study uses a qualitative descriptive method through literature study, based on a digital book (BUDI) published by the Ministry of Education and Culture entitled Cerita Kuliner Indonesia by Olany Agus Widiyani. The results of the study show that traditional foods and drinks such as klepon, cenil, onde-onde, lemper, getuk, sekoteng, and angsle are proven to contain living symbols of welfare. The wrapping of forms, local ingredients, presentation methods, and social contexts in digital narratives contain character values such as honesty, mutual cooperation, ease, hard work, empathy. This digital story presents a contextual and multisensorial learning experience. Story-based literacy activities can effectively accommodate the diversity of children's learning styles through linguistic, kinesthetic, spatial, interpersonal, and naturalist aspects. Thus, folk food in the story is not only a tool for preserving culture, but also a means of fun character education and a learning strategy that is oriented towards the diversity of children's potential.Cerita rakyat digital bertema kuliner menyimpan nilai-nilai budaya dan etika sosial yang dekat dengan kehidupan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji simbolisme makanan dalam cerita kuliner digital sebagai sarana penanaman nilai pekerti, serta mengaitkannya dengan potensi pengembangan kecerdasan majemuk anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi pustaka, bersumber pada buku digital (BUDI) terbitan Kemendikbud berjudul Cerita Kuliner Indonesia karya Olany Agus Widiyani. Tahapan analisis data dalam penelitian ini mencakup reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan dan minuman tradisional seperti klepon, cenil, onde-onde, lemper, getuk, sekoteng, dan angsle terbukti menyimpan simbol-simbol kebajikan yang hidup. Balutan bentuk, bahan lokal, cara penyajian, serta konteks sosial dalam narasi digital memuat nilai-nilai karakter seperti kejujuran, gotong royong, kesederhanaan, kerja keras, empati. Cerita digital ini menghadirkan pengalaman belajar yang kontekstual dan multisensorial. Aktivitas literasi berbasis cerita dapat secara efektif mengakomodasi keragaman gaya belajar anak melalui aspek linguistik, kinestetik, spasial, interpersonal, dan naturalis. Dengan demikian, makanan rakyat dalam cerita tidak hanya menjadi alat pelestarian budaya, tetapi juga sarana pendidikan pekerti yang menyenangkan dan strategi pembelajaran yang berorientasi pada keberagaman potensi anak.