Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pembentukan Karakter Melalui Pelatihan Pengolahan Ulang Barang Bekas di Panti Asuhan An-Nuur Yohamintin Yohamintin; Suharjuddin Suharjuddin; Fara Diba Catur Putri; Yayah Huliatunisa; Ahmad Hafidh Alkaf; Ella Yanova
Jurnal Abdimas BSI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2025): Juli
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/jabdimas.v8i2.9108

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini berfokus pada pengembangan karakter mandiri, kreativitas dan potensi diri anak-anak di Panti Asuhan An-Nuur, dimana karakter yang tangguh menjadi kebutuhan bagi anak bangsa. Program ini melibatkan 27 anak berusia 10-13 tahun dengan fokus pada pengolahan ulang barang bekas untuk lingkungan hidup. Metode yang digunakan adalah metode pemberian informasi dengan sosialisasi dan pelatihan praktik. Hasil pengabdian menunjukan bahwa kegiatan ini berhasil meningkatkan kesadaran diri dan rasa percaya diri pada anak-anak panti. Mereka belajar untuk mengatasi rasa sedih, saling mendukung, dan memiliki motivasi yang lebih kuat untuk meraih cita-cita, yang ditunjukan dari hasil evaluasi kegiatan anak-anak sangat antusias (95%), kegiatan berjalan lancar (90%), memberikan manfaat bagi anak-anak (85%), dan direkomendasikan untuk dilakukan secara rutin (88%). Selain itu, program ini berhasil mengembangkan keterampilan kreativitas anak-anak dalam membuat pot tanaman dari barang bekas. Mereka menunjukkan kemampuan untuk bekerja sama dalam tim, berkomunikasi secara efektif, dan bertanggung jawab dalam merawat tanaman dengan memanfaatkan prodak reuse. Program ini memberikan dampak jangka panjang berupa peningkatan kesadaran lingkungan dan pelestarian alam. Meskipun terdapat beberapa tantangan seperti rendahnya kepercayaan diri pada awal kegiatan, secara keseluruhan program pengabdian ini berhasil mencapai tujuannya. Kegiatan ini memberikan pengalaman positif bagi anak-anak panti, membantu mereka membangun rasa percaya diri, mengembangkan kreativitas, dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Influencers’ Impact on Moral Degradation of Betawi Generation Alpha in Shaping Pancasila Character Values Anastya Basyith Ad Dauwi; Evi Dalilah; Ella Yanova; Mercynda Putri; Yohamintin Yohamintin
Journal of Social Knowledge Education (JSKE) Vol. 7 No. 1 (2026): January
Publisher : Cahaya Ilmu Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37251/jske.v7i1.2553

Abstract

Purpose of the study: This study aims to analyze the impact of social media influencers on the moral degradation of Betawi Generation Alpha and its implications for shaping character based on Pancasila values. Methodology: This research employed a qualitative design using a phenomenological approach. Data were collected through in-depth interviews, classroom and social observations, and documentation. Informants consisted of five Generation Alpha children, two teachers, two parents, and two community leaders selected through purposive and snowball sampling techniques. Data analysis followed the interactive model proposed by Miles and Huberman. Main Findings: The findings reveal that social media influencers exert a substantial influence on the character development of Betawi Generation Alpha. Early exposure to digital technology, intensive social media use, and limited parental supervision position influencers as prominent role models in children’s daily lives. Consequently, there is a noticeable decline in religious commitment, moral and ethical conduct, responsibility, national (Pancasila) values, and Betawi socio-cultural identity, as reflected in changes in behavior, language patterns, discipline, and cultural awareness. Novelty/Originality of This Study:This study contributes novel insights by contextualizing the influence of social media influencers within Betawi local culture and Pancasila-based character education. It highlights the interaction between digital exposure, moral internalization failure, and the erosion of local cultural values, offering an integrated perspective that enriches current discussions on character education in the digital era.