Syarifah Najmah Khairiyyah
Universitas Tarumanagara

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Terapi Bermain Untuk Meningkatkan Self Control Pada Siswa SD Di RPTRA XY Vanessa Clarence; Agoes Dariyo; Ridwan Abdillah; Syarifah Najmah Khairiyyah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i4.860

Abstract

Bahasa memiliki peran penting dalam kehidupan sosial manusia, termasuk dalam membentuk karakter dan perilaku anak-anak. Salah satu permasalahan yang muncul dalam beberapa tahun terakhir adalah meningkatnya penggunaan bahasa kasar oleh anak-anak, yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial, keluarga, serta paparan media sosial dan game online. Penggunaan bahasa kasar tidak hanya berdampak pada komunikasi, tetapi juga dapat mempengaruhi perkembangan perilaku dan sosial anak. Salah satu faktor yang dapat mengurangi perilaku ini adalah kemampuan self-control atau kontrol diri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh permainan tradisional terhadap peningkatan self-control pada anak usia sekolah dasar di RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen one-group pre-test post-test. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan pengukuran menggunakan alat ukur Self Control Scale (SCS) milik Tangney, Baumeister, dan Boone (2004), yang mengukur lima dimensi: kontrol pikiran, emosi, impuls, regulasi performa, dan perubahan kebiasaan. Kegiatan berlangsung selama empat hari dengan sesi permainan tradisional seperti Red Light Green Light dan Simon Says (dimodifikasi menjadi "Kalau Saya Bilang"), serta edukasi self-control. Hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan peningkatan signifikan self-control anak setelah program, dengan 21 siswa mengalami kenaikan, 5 siswa tidak mengalami perubahan, dan hanya 2 siswa yang mengalami penurunan. Nilai signifikansi sebesar 0,00 (< 0,05) mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan antara skor pre-test dan post-test. Kategori self-control siswa juga mengalami peningkatan, ditandai dengan bertambahnya jumlah siswa dalam kategori tinggi dan berkurangnya siswa dalam kategori rendah dan sedang. Dengan demikian, permainan tradisional yang dikombinasikan dengan edukasi dan pengkondisian operan dapat meningkatkan self-control anak, namun diperlukan upaya berkelanjutan untuk menjaga stabilitas perilaku positif ini.
Mengoptimalkan Potensi Pariwisata di Pantai Pasir Putih Manokwari: Sebuah Analisis SWOT untuk Perencanaan Pengembangan Vanessa Clarence; Ridwan Abdillah; Syarifah Najmah Khairiyyah; Agoes Dariyo
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1858

Abstract

Sebagai salah satu daya tarik wisata terbaik di Manokwari, Pantai Pasir Putih memiliki beberapa keunggulan seperti aksessibilitas yang baik, pantai dengan pasir putih dan lembut, status kepemilikan lahan yang sudah jelas yakni dimiliki oleh Pemerintah daerah dan paling banyak dikunjungi. Akan tetapi pengelolaan seperti luput dari perhatian pemerintah, tidak jelas apakah dikelola oleh pemerintah atau oleh masyarakat, tidak ada pos keamanan, pagar sudah rusak, petugas parkir tidak jelas, loket kasir juga tidak jelas, sering orang mabuk disekitar lokasi wisata, banyak sampah bertebaran, dan sedikit sekali wahana yang ditawarkan kepada pengunjung wisata. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pengembangan objek wisata Pantai Pasir Putih, kabupaten Manokwari. Teknik pengmpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap Masyarakat, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga, Kepala Distrik, Kepala Kampung, dan Pengunjung wisata. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis SWOT (Strengths/ kekuatan, Weakness/ kelemahan, Opportunities/ peluang, dan Threats/Ancaman). Hasil penelitian menemukan kombinasi strategi SO yang bersifat Stable growth strategy, adalah strategi mempertahankan pertumbuhan yang ada. Rumusan strategi pengembangan adalah: 1). Membangun infrastruktur wisata yang representatif, 2). Menjaga kebersihan dan kualitas pasir tetap menarik. 3). Melakukan Promosi untuk meningkatkan minat berwisata. 4). Menambah wahana wisata. 5). Mengupayakan penambahan armada angkutan umum.
GAMBARAN KULINER BETAWI DALAM MEMPERKUAT JATI DIRI BANGSA Jauharah, Hasna; Sutiawan, Sutiawan; Najmah Khairiyyah, Syarifah; Ansika Cecilia, Fausta; Rahmad Endarto, Urip; Tiatri, Sri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8066

Abstract

This study analyzes the role of traditional Betawi food in strengthening the national identity of Indonesia through a social and cultural approach. Traditional Betawi food not only fulfills physical needs but also serves as a symbol of identity, solidarity, and the inheritance of national values. This research uses a descriptive qualitative method with a narrative approach based on a literature review. The findings reveal that traditional Betawi food reflects cultural acculturation that embodies the values of togetherness, openness, and mutual cooperation. These dishes carry historical, social, and spiritual meanings that contribute to the formation of collective identity. In addition to being local culturales symbols, traditional Betawi food also functions as an educational tool and instrument of cultural diplomacy. Therefore, its preservation is not only about maintaining regional flavors but also reinforcing awareness of the national values that shape the character of the Indonesian nation. ABSTRAK Penelitian ini menganalisis peran makanan tradisional Betawi dalam memperkuat jati diri bangsa Indonesia melalui pendekatan sosial dan budaya. Makanan tradisional Betawi tidak hanya memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga berfungsi sebagai simbol identitas, solidaritas, dan warisan nilai kebangsaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan naratif berbasis studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan tradisional Betawi mencerminkan akulturasi budaya yang menggambarkan nilai kebersamaan, keterbukaan, dan gotong royong. Hidangan-hidangan tersebut mengandung makna historis, sosial, dan spiritual yang berkontribusi pada pembentukan identitas kolektif masyarakat. Selain sebagai simbol budaya lokal, makanan tradisional Betawi juga berfungsi sebagai sarana edukasi dan diplomasi budaya. Oleh karena itu, pelestariannya tidak hanya menjaga cita rasa khas daerah, tetapi juga memperkuat kesadaran terhadap nilai-nilai kebangsaan yang membentuk karakter bangsa Indonesia.
Keterkaitan Identitas Sosial dan Resiliensi pada Individu Dewasa Awal Generasi Z Syarifah Najmah Khairiyyah; Agoes Dariyo
YASIN Vol 6 No 1 (2026): FEBRUARI
Publisher : Lembaga Yasin AlSys

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58578/yasin.v6i1.8890

Abstract

Generation Z is entering early adulthood amid complex and dynamic psychological challenges in the digital era, yet is often stigmatized as a “strawberry generation” perceived as fragile, sensitive, and unable to withstand life’s pressures. Social identity as part of a social group has the potential to serve as a source of strength and psychological support, but its association with psychological resilience among Generation Z in Indonesia has not been extensively examined. This study aimed to determine the significant relationship between social identity and psychological resilience among early adult members of Generation Z. A quantitative approach with a correlational design was employed, involving 535 Generation Z individuals aged 18–25 years residing in the Jabodetabek area (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi). Data were collected online using the 11-item Social Identity Scale to measure social identity and the 25-item Connor–Davidson Resilience Scale to measure psychological resilience. The main data analysis was conducted using Spearman’s rank correlation, while additional analysis employed Pearson’s correlation after classical assumption testing (validity, reliability, normality, and linearity). The results showed that respondents had moderate to high levels of social identity (M = 53.90; SD = 8.64) and high levels of psychological resilience (M = 100.07; SD = 12.21). Furthermore, a significant positive relationship was found between social identity and psychological resilience among early adult members of Generation Z, indicating that a strong and positive social identity can enhance individuals’ resilience in facing pressure, stress, and various life challenges.