Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Bimbingan Dan Penyuluhan Islam Sebagai Solusi Krisis Moral Di Era Digital Ria Rezky Amir; Amiruddin Z Nur; Ibnu Hajar; Apriani Apriani
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1186

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang pesat membawa dampak signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam hal moralitas. Krisis moral di era digital ditandai dengan meningkatnya perilaku menyimpang seperti individualisme, hedonisme, penyebaran hoaks, dan degradasi nilai-nilai etika. Kondisi ini menuntut adanya solusi yang komprehensif dan berbasis nilai untuk membangun kembali karakter individu dan masyarakat. Bimbingan dan penyuluhan Islam hadir sebagai salah satu alternatif solusi strategis yang dapat memberikan arah dan nilai moral berlandaskan ajaran Islam. Melalui pendekatan spiritual, edukatif, dan psikologis, bimbingan dan penyuluhan Islam mampu menanamkan nilai-nilai keimanan, akhlak mulia, serta kesadaran akan tanggung jawab sosial dan etika digital. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi ceramah, diskusi kelompok, konseling individu, hingga pemanfaatan media digital secara positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran dan efektivitas bimbingan serta penyuluhan Islam dalam merespons krisis moral yang terjadi di masyarakat digital, khususnya di kalangan remaja dan generasi muda. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan Islam yang bersifat holistik, kontekstual, dan adaptif dapat menjadi pilar penting dalam membentuk pribadi yang berkarakter, beretika, dan memiliki kontrol diri yang kuat di tengah arus informasi yang bebas. Oleh karena itu, integrasi antara teknologi dan nilai-nilai Islam dalam bimbingan dan penyuluhan perlu terus dikembangkan sebagai langkah preventif dan kuratif terhadap tantangan moral di era digital.
Pengembangan Model Konseling Kelompok Islami Dalam Menangani Krisis Spiritual Remaja Di Era Digital: Studi Pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Amiruddin Z Nur; Apriani Apriani; Ibnu Hajar; Abdul Rahman; Ria Rezky Amir
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2950

Abstract

This study aims to develop an effective Islamic group counseling model to address adolescent spiritual crises in the digital era, particularly within the context of Islamic Religious Education (IRE) learning. The digitalization era has brought significant impacts on adolescent spiritual life, creating new challenges such as religious identity crisis, spiritual distraction, and disorientation of Islamic values. This research employs a Research and Development (R&D) approach with a mixed-method design, involving 180 high school students in Makassar City as research subjects. Data were collected through observation, in-depth interviews, Likert scale questionnaires, and focus group discussions (FGD). The developed Islamic group counseling model integrates modern psychological approaches with Islamic spiritual values, encompassing stages: (1) spiritual problem identification, (2) homogeneous group formation, (3) implementation of Quranic and Hadith-based Islamic counseling techniques, (4) spiritual evaluation and reflection. Results show that the Islamic group counseling model effectively enhances adolescent spiritual resilience with pre-test scores of 2.3 increasing to 4.2 in post-test (p<0.05). This model successfully reduced spiritual anxiety levels by 67%, increased worship practices by 73%, and strengthened religious identity by 81%. These findings indicate that integrating Islamic group counseling in IRE learning can be an effective solution to address adolescent spiritual crises in the digital era. The research implications highlight the importance of developing IRE teachers' competencies as Islamic counselors and the need for IRE curricula responsive to digitalization challenges.
Transformasi Bimbingan dan Penyuluhan Islam di Era Digital: Peluang dan Tantangan bagi Konselor Muslim Apriani Apriani; Ibnu Hajar; Abd Rahman; Nurlailah Nurlailah
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5174

Abstract

The digital era has brought significant changes to various aspects of life, including the field of Islamic guidance and counseling. Advances in information technology have opened new opportunities for Muslim counselors to expand their service reach and enhance the effectiveness of guidance through digital media. However, these developments also present several challenges, such as ethical issues, source authenticity, and the degradation of personal relationships between counselors and clients. This study aims to analyze the forms of transformation in Islamic guidance and counseling in the digital era, as well as to identify the opportunities and challenges faced by Muslim counselors. The research employs a library research method with a descriptive qualitative approach. The results indicate that digital transformation has shifted the paradigm of Islamic guidance from traditional face-to-face methods to a more flexible and interactive technology-based approach. Nevertheless, Muslim counselors are still required to uphold spiritual values, ethical principles, and the authenticity of Islamic teachings throughout the guidance process.
Peran Penyuluh Agama Dalam Pencegahan Pernikahan Dini Di Kecamatan Bontosikuyu Ibnu Hajar; Ria Rezky Amir; Abd Rahman; Ibnu Hajar; Amirullah Amirullah
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 5: Agustus 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/j-ceki.v5i5.20315

Abstract

Pernikahan dini masih menjadi persoalan sosial yang serius di Indonesia, termasuk di wilayah Kecamatan Bontosikuyu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Fenomena ini tidak hanya berimplikasi pada aspek hukum dan kesehatan, melainkan juga menimbulkan dampak psikologis yang cukup dalam bagi pelakunya, terutama perempuan muda. Di sinilah peran penyuluh agama menjadi sangat krusial sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam bentuk-bentuk peran yang dimainkan penyuluh agama, strategi dakwah yang mereka gunakan, serta hubungan antara pernikahan dini dan dampak psikologis yang ditimbulkannya di Kecamatan Bontosikuyu. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan rancangan studi kasus, melibatkan penyuluh agama, tokoh masyarakat, aparatur KUA, dan warga terdampak sebagai informan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyuluh agama menjalankan peran ganda sebagai edukator, fasilitator, dan mediator dengan menerapkan strategi dakwah bil-lisan, bil-hal, dan bil-kitabah. Pendekatan berbasis komunitas melalui pengajian, bimbingan pra-nikah, serta kolaborasi lintas sektor terbukti efektif dalam menurunkan kesadaran masyarakat terhadap risiko pernikahan dini. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan kapasitas penyuluh agama dan integrasi pendekatan psikologis dalam program pencegahan pernikahan dini. Kata kunci: Penyuluh Agama, Pernikahan Dini, Dakwah       Abstract Child marriage remains a serious social problem in Indonesia, including in Bontosikuyu District, Kepulauan Selayar Regency, South Sulawesi. This phenomenon carries not only legal and health implications but also profound psychological impacts, particularly on young women. The role of religious counselors (penyuluh agama) thus becomes pivotal as the frontline force in prevention efforts. This study aims to analyze in depth the forms of roles played by religious counselors, the dakwah strategies they employ, and the relationship between child marriage and its psychological consequences in Bontosikuyu District. A qualitative approach with a case study design was used, involving religious counselors, community leaders, KUA officials, and affected residents as informants. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and document review, then analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña model. The findings reveal that religious counselors perform dual roles as educators, facilitators, and mediators by applying dakwah strategies of bil-lisan, bil-hal, and bil-kitabah. Community-based approaches through religious study groups, pre-marital guidance, and cross-sector collaboration have proven effective in raising public awareness of the risks of child marriage. This research affirms the importance of strengthening the capacity of religious counselors and integrating psychological approaches into child marriage prevention programs. Keywords: Religious Counselor, Child Marriage, Dakwah