Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Epistemologi Dalam Konsep Islam: Epistemologi Bayani, Burhani, Dan ‘Irfani Aswandi Aswandi; Amril M; Eva Dewi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1412

Abstract

Tulisan ini membahas tiga pendekatan utama dalam epistemologi Islam, yaitu bayani, burhani, dan irfani. Ketiganya merepresentasikan cara umat Islam memperoleh dan memahami ilmu pengetahuan berdasarkan wahyu, rasio, dan intuisi spiritual. Epistemologi bayani menekankan otoritas teks-teks keagamaan seperti Al-Qur’an dan Hadis. Epistemologi burhani mengedepankan rasionalitas dan logika dalam mengembangkan ilmu, sementara epistemologi irfani berlandaskan pada pengalaman mistis dan penyucian diri sebagai jalan memperoleh pengetahuan. Makalah ini menganalisis perbedaan dan keunggulan masing-masing pendekatan serta pentingnya integrasi ketiganya dalam pengembangan ilmu pengetahuan Islam yang holistik. Integrasi epistemologi bayani, burhani, dan irfani diyakini mampu menjawab tantangan pendidikan dan ilmu pengetahuan Islam di era modern, dengan tetap menjaga keseimbangan antara wahyu, akal, dan spiritualitas.
Kebijakan Pemerintah Tentang Standar Nasioanal Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Aswandi Aswandi; M Syaifuddin; Asmuri Asmuri
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1413

Abstract

Tulisan ini membahas kebijakan pemerintah mengenai Standar Nasional Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah sebagai upaya strategis dalam membentuk karakter peserta didik yang religius, moderat, dan berwawasan kebangsaan. Penetapan standar ini didasari oleh kebutuhan peningkatan kualitas pendidikan agama, pencegahan radikalisme, serta pemerataan akses pendidikan Islam yang berkualitas. Kajian ini mengulas latar belakang kebijakan, regulasi yang mendasari, tantangan implementasi, serta pro dan kontra yang muncul di masyarakat. Analisis juga memuat pandangan para ahli serta refleksi kritis penulis terhadap kebijakan tersebut. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa meskipun kebijakan ini memiliki landasan dan tujuan yang kuat, implementasinya masih menghadapi kendala, seperti kekurangan guru berkualitas, kurikulum yang kaku, serta resistensi dari sebagian masyarakat. Oleh karena itu, evaluasi berkala, pelibatan lembaga keagamaan, dan fleksibilitas kurikulum menjadi kunci keberhasilan kebijakan ini. Kesimpulannya, kebijakan ini penting dalam mendukung pendidikan agama Islam yang inklusif dan kontekstual, namun perlu terus disempurnakan melalui pendekatan yang kolaboratif dan adaptif.
Dinasti Utsmani Di Turki : Kebijakan Pajak Dan Distribusi Ekonomi Dalam Dinasti Utsmani: Keadilan Atau Eksploitasi Aswandi Aswandi; Amril M
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1414

Abstract

Tulisan ini mengkaji kebijakan perpajakan dan distribusi ekonomi pada masa Dinasti Utsmani dengan menelaah sejauh mana kebijakan tersebut mencerminkan nilai-nilai keadilan Islam atau justru berpotensi menjadi instrumen eksploitasi. Dinasti Utsmani mengembangkan sistem perpajakan yang kompleks, termasuk kharaj, ‘usyur, jizyah, dan sistem iltizam, serta menerapkan mekanisme distribusi seperti sistem timar dan lembaga wakaf. Kajian ini menunjukkan bahwa secara normatif, sistem ekonomi Utsmani dirancang berdasarkan prinsip keadilan sosial dan kesejahteraan umat. Namun, dalam praktiknya, berbagai penyimpangan terjadi akibat lemahnya pengawasan, dominasi elite, dan ketimpangan antara pusat dan daerah. Studi ini menegaskan pentingnya integrasi nilai moral, pengawasan yang kuat, dan partisipasi publik dalam merancang sistem ekonomi Islam yang adil dan berkelanjutan.
The Concept of Islamic Education Reform in Indonesia: Perspectives of Harun Nasution and Nurcholish Madjid Aswandi Aswandi; Djeprin E. Hulawa; Alwizar
The Future of Education Journal Vol 3 No 5 (2024)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v3i5.243

Abstract

This study aims to analyze Harun Nasution's thoughts on Islamic education reform in Indonesia, examine the Islamic education reform concept proposed by Nurcholish Madjid, and compare the relevance and contributions of both thinkers to Islamic education in the modern era. This research is a literature study (library research) with a descriptive qualitative approach. Data was collected through literature reviews including books, articles, scientific journals, and other sources relevant to the ideas of Harun Nasution and Nurcholish Madjid. A comparative approach was used to analyze the similarities and differences between the thoughts of the two figures. Data analysis was conducted thematically to identify the main concepts and their implications for Islamic education in Indonesia. The results of this study show that Harun emphasized rationality in Islamic education by integrating religious and general knowledge, eliminating the dichotomy in education, and encouraging a more contextual theological reform. He believed that Islamic education should be responsive to the development of modern science. Nurcholish emphasized the importance of pluralism, modernization, and openness in Islamic education. He advocated for education that not only builds religious knowledge but also shapes moral character, tolerance, and openness to modern science. The conclusion of this research is that the ideas of both thinkers complement each other and are relevant for building an adaptive Islamic education system in response to changing times. Harun's focus is more on theological aspects and rationality, while Nurcholish focuses on pluralism and modernity. Both offer strategic solutions to integrate Islamic values with the demands of globalization.