Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Al-Zarnuji’s Character Concept in Strengthening Character Education in Indonesia Djeprin E. Hulawa
Jurnal Pendidikan Islam Vol 4, No 2 (2018): Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : The Faculty of Tarbiyah and Teacher Training associated with PSPII

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jpi.v4i2.2395

Abstract

This study aims to find the relevance and contextualization of the thoughts of al-Zarnuji's character in the present context especially in relation to strengthening character education in Indonesia. The research used the incorporative approach and descriptive, heuristic and hermeneutic methods. The analysis technique used analytical content. The study found that there was relevance in the concept of al-Zarnuji's character to the concept of strengthening character education in Indonesia, where both of them made aspects of noble character and morality as the pillars and main souls of humans in nation-building. Although in a different socio-cultural context, the concept of al-Zarnuji's character and the concept of character education in Indonesia both go in the same direction, namely the effort to establish positive characters for students through education. 
Penguatan Nilai-Nilai Pendidikan Kesalehan tentang Menuntut Ilmu Pengetahuan dan Norma Sosial Bagi Anak Usia Dini dalam Syair Ibarat dan Khabar Qiyamat Karya Syeikh Abdurrahman Shiddiq Al-Banjari (SUATU KAJIAN MEMOTIVASI) ARBI YASIN; M. Arrafie Abduh; Abu Anwar; Djeprin E. Hulawa
KINDERGARTEN: Journal of Islamic Early Childhood Education Vol 4, No 1 (2021): April
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/kjiece.v4i1.12247

Abstract

Persoalan kesalehan merupakan persoalan besar, mendasar dan esensial, karena memperbincangkan mutu amalan, kualitas perilaku manusia beragama, sifat dan nilai-nilai agung keberagamaan, apalagi bila disampaikan oleh seorang ulama besar, mufti kerajaan, tokoh sufi tersohor, Tuan Guru yang kharismatik, yang dituangkannya dalam bentuk untaian kata-kata indah lewat media syair Melayu  berkelas, berisikan nasehat keberagamaan yang khas, nilai-nilai pendidikan kesalehan yang utama, petuah-petuah menuntut ilmu pengetahuan, pesan-pesan norma sosial yang ditujukan buat kalangan anak-anak usia belia,  maka bertambah-tambah lagi urgensi faedahnya. Olehkarena itu, tujuan utama penelitian ini difokuskan untuk mengetahui keberadaan ketokohan dan peran Tuan Guru Sapat dalam bidang Pendidikan kesalehan, serta mengkaji nilai-nilai pendidikan kesalehan tentang menuntut ilmu pengetahuan dan norma sosial di kalangan anak-anak usia dini yang terkandung dalam kitab syairnya. Kajian nilai-nilai pendidikan kesalehan yang sengaja dilakukan pada kitab syair tersebut merupakan penelitian kepustakaan, dimana data dikumpulkan dengan menggunakan strategi studi teks. Sedangkan untuk menganalisis data penulis memanfaatkan teknik analisis isi (content analysis). Dari hasil kajian dapat diketahui bahwa Syeikh Abdurrahman Shiddiq al-Banjari (SASA) bila ditinjau dari segi khazanah keintelektualitasnya, ketokohan dan perannya di dunia Pendidikan Islam memang diakui sebagai salah seorang ulama besar dan tangguh nusantara serta berpredikat sebagai ulama-penyair Asia Tenggara. Bila ditelaah pula dari segi nilai-nilai pendidikan kesalehan tentang menuntut ilmu pengetahuan, SASA menuqilkan bait-bait syair tentang pentingnya menuntut ilmu dunia-akhirat, akan tetapi menuntut ilmu ukhrawi dengan landasan akhirat lebih utama. Namun tatkala membicarakan kesalehan tentang norma sosial bagi anak-anak belia, beliau menuqilkan untaian bait-bait syair yang  menggambarkan nilai dan norma sosial harus berorientasi akhirat.  Ini sekaligus mengisyaratkan kesalehan ideal menurut SASA adalah kesalehan terpadu atau timbalbalik, akan tetapi berbasis ukhrawi atau keakhiratan.Kata Kunci: Nilai,  Pendidikan, Kesalehan, Ilmu Pengetahuan, Norma Sosial, Syair, Motivasi.
Pedagogi Pembentukan Karakter Ulul Albab pada Anak Usia Dini Djeprin E. Hulawa
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol 6, No 6 (2022)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v6i6.3254

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan pendidikan karakter yang hingga kini belum menunjukkan hasil yang memuaskan ditandai dengan munculnya berbagai tindakan destruktif seperti korupsi, kekerasan, kejahatan seksual, narkoba, dan perusakan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pola pembentukan karakter ulul albab pada anak usia dini berdasarkan isyarat Al-Qur’an melalui pola pembelajaran pedagogikal sebagai upaya meminimalisir tindakan destruktif. Metode penelitian ini menggunakan studi pustaka sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi dengan melacak berbagai referensi kepustakaan sebanyak 50 literatur yang relevan bersumber dari berbagai jurnal, buku dan kitab serta referensi lainnya yang terbit minimal 10 tahun terakhir. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pembentukan karakter ulul albab pada anak usia dini harus dimulai dengan pembentukan pendengaran, penglihatan, dan hati (nalar fitri) yang didesain secara terstruktur melalui pola pendekatan pedagogis.
Perbandingan Konsep Lingkungan Pendidikan menurut Ibnu Khaldun dan Hassan Hanafi Akbar, Nurul; Alwizar, Alwizar; Hulawa, Djeprin E
eScience Humanity Journal Vol 4 No 2 (2024): eScience Humanity Journal Volume 4 Number 2 May 2024
Publisher : Asosiasi Ide Bahasa Kepri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37296/esci.v4i2.104

Abstract

In the modern world of Islamic education, the inculcation of values that are in line with the teachings of the Qur'an and Sunnah is essential. To cope with rapid technological advances, the Islamic generation needs a deep understanding of these values in order to dynamically and proactively face the challenges of the future. This study aims to compare the concepts of Islamic education within the scope of Islamic education reform proposed by two modern Islamic reformers, Hasyim Muzaddi and Syafi'i Ma'arif. Conducted as a literature review analysis, this study examines their perspectives on Islamic education.Hasyim Muzaddi emphasizes multicultural Islamic education rooted in the concept of rahmatan lil 'alamin, advocating integration rather than segregation of religious and secular sciences. His educational goals include instilling the values of tolerance, mutual respect and egalitarianism to combat radicalism and extremism. On the other hand, Syafi'i Ma'arif highlights the integration of religious knowledge (dzikr) and secular knowledge (fikr) in fostering a civilized society, in line with the Islamic concept of Tawhid. His educational goals aim to foster individuals who are devout and God-fearing, able to free themselves from dependency. He emphasized improving the professional quality of teachers, curriculum integration, and developing students' potential. By juxtaposing these viewpoints, this study contributes to understanding the diverse approaches in modern Islamic educational thought, providing insights into how these concepts can shape educational practices to effectively face contemporary challenges.
Hasan Al-Banna's Concept of Thought in the Perspective of Islamic Education Aswanda, Jais; Hulawa, Djeprin E.; Dewi, Eva
Al-Aulia: Jurnal Pendidikan dan Ilmu-Ilmu Keislaman Vol. 9 No. 2 (2023): Al-Aulia: Jurnal Pendidikan dan Ilmu-Ilmu Keislaman
Publisher : Unit Pelaksana Teknis Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (UPT-P4M) STAI Auliaurrasyidin Tembilahan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46963/aulia.v9i2.1429

Abstract

This article attempts to examine and understand Hasan Al-Banna's thoughts from an Islamic Education Perspective. And the thought of Islamic education is a series of work processes of the mind and heart that are carried out seriously in looking at various problems that exist in Islamic education and trying to build an educational paradigm that can become a vehicle for complete guidance and development of students. Hasan Al-Banna is the founder of the Ikhwan al-Muslimin movement, one of the largest and most influential Islamic organizations in the 20th century. As for this research, which is in the form of library research, in the process of collecting data, the author collects data in the form of information through literature that the author obtains in the form of books or articles, magazines, or seminar results. and other information related to the issue being raised, namely reviewing the thoughts on Islamic education according to Hasan al-Banna. Considering that this research is qualitative research, data analysis was carried out using the following approach: First, a historical approach. Second, the descriptive approach. Each material or data is analysed, analysed, described, and concluded inductively. This research is descriptive analysis. The research results show that the idea of ​​thinking in education is total and holistic, divinely oriented, universal, integrated, balanced, and full of positive and constructive skills. then data analysis was carried out using the following approach: First, a historical approach. Second, the descriptive approach. Each material or data is analysed, analysed, described, and concluded inductively. This research is descriptive analysis. The research results show that the idea of ​​thinking in education is total and holistic, divinely oriented, universal, integrated, balanced, and full of positive and constructive skills. then data analysis was carried out using the following approach: First, a historical approach. Second, the descriptive approach. Each material or data is analysed, analysed, described, and concluded inductively. This research is descriptive analysis. The research results show that the idea of ​​thinking in education is total and holistic, divinely oriented, universal, integrated, balanced, and full of positive and constructive skills.
Analisis Faktor Kesulitan Pembelajaran Maharah Kalam Pada Siswa MAN 2 Tanah Datar (Prespektif B.F Skinner) Maidarlis, Safni; Djeprin E Hulawa; Hakmi Wahyudi; Kasmiati
Muhadasah: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab Vol. 5 No. 2 (2023): Muhadasah : Jurnal Pendidikan Bahasa Arab
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51339/muhad.v5i2.1499

Abstract

Menguasai keterampilan berbicara merupakan aspek penting yang harus diketahui dalam mempelajari bahasa Arab. Bahasa Arab merupakan bahasa kedua yang dipelajari oleh siswa di sekolah sehingga dalam mempraktekkan keterampilan berbicara terdapat siswa yang memiliki kesulitan dalam mempraktekkannya. Kesulitan-kesulitan tersebut dilatarbelakangi oleh faktor-faktor eksternal maupun internal. Tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu untuk menggali lebih dalam mengenai faktor faktor yang mempengaruhi siswa dalam mempraktekkan keterampilan berbicara bahasa Arab dan solusi dari faktor kesulitan tersebut menurut B.F Skinner. Metode yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif lapangan dengan pendekatan studi kasus. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu observasi wawancara dan dokumentasi. Adapun hasil penelitian yang peneliti temukan yaitu ada beberapa faktor kesulitan yang dihadapi oleh siswa saat berbicara bahasa Arab dari  faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal diantaranya adalah latar belakang pendidikan atau sekolah siswa yang beragam, lingkungan bahasa yang kurang mendukung terciptanya suasana berbahasa, sarana dan fasilitas sekolah. Sedangkan faktor internalnya adalah minat belajar siswa yang kurang dalam berbicara bahasa Arab dan  siswa malu untuk berbicara bahasa Arab.
Tahlîlu Khurûji Uslûbi Istifhậmi “Kayfa” ‘an Ma’nậhu al-Haqîqiy fil Qur’ận/ تحليل خروج اسلوب الاستفهام "كيف " عن معناه الحقيقي في القران pasaribu, mudiul hayat; hulawa, djeprin e.
Al-Manar Vol 15, No 3 (2024): Al Manar: September-Desember
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/al-manar.v15i3.33022

Abstract

The purpose of this study was to examine the deviations of Uslub Istifham with Thoriqah Kaifa from the original meaning in Al-Qur’an. It was a qualitative research conducted using library resources. The focus of the study was on Uslub Istifham using Kaifa in Al-Qur’an. Both primary and secondary sources related to the research subject were utilized. Data collection involved the use of library research, observation, and reading relevant books. Content analysis using tables was employed to analyze the gathered data. The results indicated that there were 80 verses in the form of Uslub Istifham using Kaifa in Al-Qur'an. Of the 80 verses, 70 showed different meanings from the original, while 10 accurately conveyed the intended meaning. The variations in the interpretation of Uslub Istifham were determined through analysis and included: 1) prohibition, 2) denial, 3) decree, 4) reproach, 5) humiliation, 6) glorifying, 7) asking late, 8) wondering, 9) generalizing, 10) expecting, 11) longing.
Pendidikan Akhlak Dalam Perspektif Imam Al-Ghazali Delviany, Venny; Dewi, Eva; Hulawa, Djeprin E.; Alwizar, Alwizar
Counselia Jurnal Bimbingan Konseling Pendidikan Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/counselia.v5i2.139

Abstract

Tujuan penelitian untuk membahas tentang pendidikan akhlak menurut Imam Al-Ghazali. Jenis penelitian ini yakni penelitian kepustakaan (library research), bercorak historis faktual mengenai pemikiran tokoh. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu data yang tertulis di dalam buku, jurnal dan hasil penelitian sebelumnya yang masih berkaitan. Lalu peneliti berusaha menelaah dan menganalisis pola pemikiran Muhammad Al-Gazhali pada pendidikan Islam. Temuan dari penelitian ini memperlihatkan bahwa pemikiran Imam Al-Ghazali terkait pendidikan islam terdiri dari a) Konsep Dasar Pendidikan Akhlak terdiri dari definisi: pendidikan akhlak menurut Imam Al-Ghazali adalah usaha pendidik untuk menanamkan sikap terpuji dalam diri peserta didik sehingga mengakar dalam jiwa peserta didik yang darinya lahir berbagai perbuatan baik dan terpuji dengan otomatis, tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan serta menghilangkan sikap buruk hingga menjadi insan kamil yang dekat kepada Allah dan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Lalu prinsip-prinsip pendidikan akhlak: al-hikmah, al-adl, syaja’ah, & ‘iffah. Adab guru & peserta didik. b) Pemikiran Imam Al-Ghazali terkait pendidikan akhlak terdiri dari penanaman nilai akhlak dalam kitab Minhajul Abidin: Adanya pendidik, menanamkan iman, memberikan pengarahan, muhasabah, bisa membedakan yang baik dan buruk, lingkungan yang mendukung. Metode pendidikan akhlak: Pembiasaan, keteladanan, nasihat, hukuman & ganjaran. Konsep guru PAI yang ideal: Guru berorientasi pada kebahagiaan di akhirat, taat beribadah, membersihkan jiwa, cerdas & cakap, mencintai peserta didik, memberi arahan peserta didik untuk meluruskan niat, beribadah, menimba ilmu. dan konsep pendidikan akhlak: non formal dan formal. Konsep akhlak yaitu: akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap orang tua, akhlak kepada diri sendiri, dan akhlak kepada orang lain.
Relevansi Pemikiran Fazlur Rahman terhadap Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Kurikulum Merdeka Oktaria, Ira; Alwizar, Alwizar; Ehulawa, Djeprin
Al-Fikri: Jurnal Studi dan Penelitian Pendidikan Islam Vol 8, No 1 (2025): Pendidikan Islam Masa Kini: Perspektif dan Tantangan
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jspi.8.1.31-46

Abstract

Pemikiran Fazlur Rahman sangat penting dipelajari khususnya dalam lingkup pendidikan Islam sebagai upaya untuk mengatasi dualisme dalam lingkup pendidikan dan kurikulum pendidikan Islam. Fazlur Rahman dikenal dengan pemikirannya yang cerdas sehingga dijuluki sebagai sosok intelektualisme Islam. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan dengan metode analisis isi. Sumber utamanya adalah buku-buku primer Fazlur Rahman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Fazlur Rahman terhadap nilai-nilai pendidikan Islam di antaranya: a) Integrasi Ilmu dan Agama, b) Pendidikan sebagai proses yang dinamis, c) Kontekstualisasi, d) Pendidikan untuk semua. Kemudian dalam kaitannya dengan kurikulum merdeka di antaranya: a) Profil Pelajar Pancasila, b) Mengimplementasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan hadis, c) Menanamkan nilai-nilai kejujuran, disiplin dan tanggung jawab, d) Integrasi ilmu di berbagai mata pelajaran, e) Pengembangan kemampuan berpikir kritis kreatif dan kolaboratif, f) Menggunakan metode pembelajaran yang dapat memperkuat pemahaman ajaran Islam, g) Pelatihan dan pengembangan kompetensi guru. Sementara itu, relevansi pemikiran Fazlur Rahman terhadap nilai-nilai pendidikan Islam dalam kurikulum Merdeka diharapkan dapat membuat pribadi peserta didik menjadi sosok yang kreatif. 
Gender Dalam Pendidikan Islam: Peluang dan Tantangan Asri Yanti Siregar; Djeprin E. Hulawa; Alwizar Alwizar
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 4 No. 2: Februari 2025
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v4i2.6643

Abstract

Pendidikan merupakan hak dasar yang dijamin dalam Islam bagi setiap individu tanpa memandang jenis kelamin. Namun, di beberapa negara Muslim, perempuan sering menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan yang setara. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tantangan kesetaraan gender dalam pendidikan Islam serta mencari solusi yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif, memanfaatkan sumber primer seperti Al-Qur'an dan Hadits, serta sumber literatur sekunder seperti artikel jurnal, buku, dan laporan kebijakan pendidikan. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa hambatan gender dalam pendidikan disebabkan oleh interpretasi agama yang tidak fleksibel, norma sosial yang membatasi, dan kebijakan pendidikan yang kurang inklusif. Meskipun demikian, beberapa negara seperti Indonesia, Turki, dan Tunisia berhasil mengurangi kesenjangan gender melalui kebijakan pendidikan yang mendukung Perempuan. Islam sebagai agama yang menempatkan keadilan sebagai prinsip utama, memiliki potensi besar untuk menjadi solusi atas permasalahan ini. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesetaraan gender dalam pendidikan dapat terwujud melalui pemahaman Islam yang inklusif dan formasi kebijakan yang berpihak kepada kaum perempuan.