Putri Delfyrah
Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Membangun Kesetaraan Hak Asasi Manusia dari Bangku Sekolah Lanjut Tingkat Pertama Putri Delfyrah; Sumiati Anggraini; Elvina Windy Oktavia; Abdul Syahib; Risna Risna; Muhammad Irwansyah Irhaska; Rizal Effendie; Sunariyo Sunariyo
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4440

Abstract

Pendidikan karakter di sekolah memegang peran krusial dalam menghadapi tantangan keberagaman sosial dan mencegah tumbuhnya benih intoleransi di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, Kegiatan Pengabdian Masyarakat (PkM) dengan tema “Semua Setara, Tak Ada Batasan: Membangun Kesetaraan dari Bangku Sekolah” dirancang sebagai bentuk implementasi strategis dari Pembentukan Karakter, Moral, dan Keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Kegiatan ini berfokus secara spesifik pada edukasi intensif mengenai nilai-nilai fundamental kesetaraan dan Hak Asasi Manusia (HAM) kepada siswa di SMP Muhammadiyah 2 Samarinda. Tujuan utama dari program ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran kritis siswa terhadap pentingnya menghargai perbedaan, memberikan pemahaman untuk mencegah segala bentuk diskriminasi, serta berkontribusi aktif dalam membangun lingkungan belajar yang inklusif dan aman bagi semua. Metode yang digunakan adalah sosialisasi dan edukasi langsung yang bersifat partisipatif. Penyampaian materi dilakukan melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok terbuka untuk menganalisis studi kasus sederhana yang relevan dengan kehidupan siswa, serta sesi tanya jawab yang mendalam untuk memastikan pemahaman yang utuh. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan dampak positif yang signifikan. Evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman konseptual siswa terhadap isu kesetaraan dan HAM, yang terindikasi jelas dari partisipasi aktif selama diskusi dan peningkatan kemampuan mereka dalam mengidentifikasi berbagai bentuk diskriminasi di lingkungan sekitar. Lebih penting lagi, observasi pasca-kegiatan menunjukkan adanya penumbuhan sikap afektif seperti empati, peningkatan nyata dalam toleransi antar siswa yang beragam, dan kebangkitan rasa tanggung jawab sosial kolektif untuk saling menghargai dan membela kesetaraan. Dengan demikian, kegiatan ini berhasil menjadi langkah awal yang efektif dalam membentuk fondasi generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga adil, berkeadaban, dan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
MAZHAB SEJARAH HUKUM DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PERKEMBANGAN HUKUM DI INDONESIA Putri Delfyrah; Maulana Maulana; Safar Nasa; Elviandri Elviandri
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.14485

Abstract

ABSTRAK Mazhab Sejarah Hukum lahir sebagai respons kritis terhadap dominasi aliran Hukum Alam dan Positivisme Hukum yang cenderung merumuskan aturan secara abstrak tanpa mempertimbangkan konteks kebudayaan masyarakat. Artikel ini bertujuan untuk menelaah secara mendalam sejarah perkembangan Mazhab Sejarah Hukum, kontribusinya terhadap pemikiran hukum global, serta implikasinya terhadap praktik penemuan hukum di Indonesia. Menggunakan pendekatan penelitian hukum normatif dengan metode studi pustaka, penelitian ini menganalisis pemikiran Friedrich Carl von Savigny mengenai konsep Volksgeist atau jiwa bangsa sebagai sumber utama otoritas hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mazhab Sejarah Hukum telah memberikan kontribusi epistemologis yang signifikan terhadap lahirnya Sociological Jurisprudence, Legal Realism, serta teori pluralisme hukum secara global. Dalam konteks Indonesia, pemikiran ini memiliki relevansi yang nyata dalam penemuan hukum, di mana hakim didorong untuk tidak hanya terpaku pada teks undang-undang, tetapi juga menggali nilai-nilai hukum yang hidup (living law) serta keadilan substantif yang bersumber dari kebudayaan dan sejarah bangsa. Pengakuan terhadap hukum adat dan pentingnya kearifan lokal dalam pembangunan hukum nasional merupakan cerminan nyata dari keberlanjutan pemikiran Mazhab Sejarah Hukum di Indonesia. ABSTRACT The Historical School of Law emerged as a critical response to the dominance of the Natural Law and Legal Positivism schools, which tended to formulate rules abstractly without considering the cultural context of society. This article aims to examine in depth the historical development of the Historical School of Law, its contribution to global legal thought, and its implications for the practice of legal discovery in Indonesia. Using a normative legal research approach with a literature review method, this study analyzes Friedrich Carl von Savigny's thinking on the concept of Volksgeist, or the soul of the nation, as the primary source of legal authority. The results show that the Historical School of Law has made significant epistemological contributions to the emergence of Sociological Jurisprudence, Legal Realism, and the theory of legal pluralism globally. In the Indonesian context, this thinking has real relevance in legal discovery, where judges are encouraged not to focus solely on statutory texts but also to explore the values ​​of living law and substantive justice derived from the nation's culture and history. The recognition of customary law and the importance of local wisdom in the development of national law clearly reflects the continuity of the Historical School of Law's thinking in Indonesia.