Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Edukasi Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) Dalam Upaya Meningkatkan Kebersihan Lingkungan Kelas Di Sekolah Hengki Riadi; Rice Hernanda; Hafizh Taufixurohman; Melisa Shaqinah; Sonia Anggara; Chandra Pratama; Vingki Okta Ulfana; Roihani Ulfa Al-Aluf; Etika Anisa; Wulan Fatimatu Zahra; Dian Maria; Yulis Sukesi; Rani Dewi; Sandi Prabowo; Eka Kurniawati
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5137

Abstract

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan upaya penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang bersih dan mendukung kesehatan siswa. Observasi di SMP Muhammadiyah Gading Rejo menunjukkan rendahnya kebiasaan mencuci tangan, membuang sampah, dan menjaga kebersihan kelas. Tujuan Kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan dan perilaku siswa dalam menerapkan PHBS di lingkungan sekolah. Penelitian ini menggunakan metode Edukasi yang dilakukan melalui penyuluhan interaktif, diskusi, demonstrasi enam langkah cuci tangan, serta pembagian leaflet kepada 180 siswa kelas VII–VIII. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test, post-test, dan observasi perilaku. Hasil pengabdian masyarakat yaitu Pengetahuan siswa meningkat dari kategori baik 28,3% menjadi 60% setelah intervensi, sementara perilaku patuh PHBS meningkat dari 62,2% menjadi 86,6%. Edukasi terbukti efektif memperbaiki pemahaman dan praktik PHBS, terutama kebiasaan mencuci tangan dan menjaga kebersihan kelas sehingga dapat di simpulkan bahwa edukasi PHBS mampu meningkatkan pengetahuan dan perilaku sehat siswa secara signifikan serta memperkuat pembiasaan PHBS di sekolah. Program ini dapat menjadi model bagi sekolah lain dalam upaya pembentukan budaya sehat melalui edukasi terstruktur, kolaborasi guru, dan pembiasaan rutin yang melibatkan seluruh komunitas sekolah.
Studi Kasus Penerapan Burger Allen Exercise untuk Peningkatan Nilai Ankle Brachial Index Pasien Diabetes Melitus Tipe 2: Case Study on the Application of the Burger-Allen Exercise to Improve the Ankle-Brachial Index in Patients with Type 2 Diabetes Melisa Shaqinah; Hana Zumaedza Ulfa; Eko Wardoyo
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 4 (2026): EDISI APRIL
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i4.330

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Melitus (DM) sebagai salah satu penyakit mematikan di dunia. Salah satu komplikasi kronis yang paling sering dialami oleh pasien DM tipe 2 adalah neuropati perifer. Neuropati perifer berpotensi menurunkan perfusi ke ekstremitas bawah yang ditunjukkan oleh penurunan nilai Ankle Brachial Index (ABI). Upaya non-farmakologis seperti Buerger Allen Exercise (BAE) diketahui mampu meningkatkan perfusi perifer dan menurunkan gejala neuropati. Penelitian ini bertujuan menggambarkan penerapan asuhan keperawatan melalui intervensi BAE terhadap perubahan gejala neuropati dan nilai ABI pada pasien DM tipe 2. Metode: Desain penelitian menggunakan studi kasus dengan dua partisipan yang menjalani asuhan keperawatan penuh meliputi pengkajian, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Intervensi BAE diberikan selama 3 hari, dilakukan dua kali per hari, disertai pemantauan gejala neuropati dan nilai ABI. Hasil: Adanya perbaikan gejala neuropati seperti penurunan kesemutan, rasa terbakar, dan peningkatan kenyamanan kaki setelah  atihan. Pada klien 1, nilai ABI meningkat pada hari ke 1 nilai ABI 0,68, hari ke 2 nilai ABI 0,77, dan hari ke 3 nilai ABI 0,91. Sedangkan pada klien 2 meningkat pada hari ke 1 nilai ABI 0,53, hari ke 2 nilai ABI 0,58, dan hari ke 3 nilai ABI 0,61. Kedua partisipan juga menunjukkan peningkatan kekuatan ekstremitas, penurunan keluhan baal, serta peningkatan stabilitas saat berjalan. Kesimpulan: Penerapan Buerger Allen Exercise secara teratur dapat meningkatkan perfusi perifer dan menurunkan gejala neuropati pada pasien DM tipe 2, sehingga dapat direkomendasikan sebagai intervensi mandiri perawat dalam praktik klinis