Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Impact of the White Label Model in the Global Market on the Local Fashion Industry Zulfa Nailin Najah; Fandy Ardiansyah; Muhammad Naufal Mahbub; Arifanny Cindy S; Arga Christian Sitohang
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.5658

Abstract

This study examines the impact of the white label production model within the global market and its implications for the development and sustainability of local fashion industries. Drawing on theoretical perspectives and empirical findings, the research reveals that white label systems provide significant advantages for emerging brands by reducing capital barriers, accelerating production processes, and enabling rapid market entry. The increasing digitalization of global supply chains further strengthens the accessibility of foreign manufacturers, allowing local brands to source ready-made products efficiently. However, the study also identifies substantial challenges, including product homogenization, declining brand differentiation, dependence on overseas manufacturers, and weakened competitiveness of domestic textile and garment sectors. Additionally, the widespread use of generic designs contributes to the erosion of cultural identity within local fashion. Overall, the findings indicate that while the white label model offers strategic opportunities for brand growth, it simultaneously poses long-term risks to industrial resilience and creative sustainability. The study highlights the need for balanced strategies that integrate white label advantages with efforts to strengthen originality, cultural expression, and local manufacturing capacity.
PENGARUH PDRB, IPM, DAN JUMLAH PENDUDUK TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN DI JAWA TIMUR TAHUN 2019–2023 Muchammad Aditya Ferdiansyah; Zulfa Nailin Najah; Arifanny Cindy Saputri; Risky Agustin Widiyanti; I Made Suparta
ECONOMOS Vol 6 No 02 (2026): EKONOMI DAN BISNIS
Publisher : KELOMPOK KOMUNITAS LABORATORIUM PENELITIAN (COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/grjb.v6i02.2943

Abstract

Provinsi Jawa Timur secara fundamental diakui sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia, yang ditandai dengan masifnya industrialisasi dan tingginya sirkulasi investasi, khususnya di kawasan Gerbangkertosusila. Namun, wilayah ini secara bersamaan menghadapi paradoks pembangunan yang persisten, di mana tingginya output makroekonomi tidak secara otomatis menghapuskan kemiskinan struktural di berbagai kabupaten/kota. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi secara empiris pengaruh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan jumlah penduduk terhadap tingkat kemiskinan di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur dari tahun 2019 hingga 2023. Desain penelitian kuantitatif eksplanatori diterapkan dengan memanfaatkan data sekunder berstruktur panel dari Badan Pusat Statistik (BPS). Data ditransformasikan ke dalam model logaritma natural (log-log) untuk menghasilkan interpretasi elastisitas yang presisi dari masing-masing determinan. Berdasarkan prosedur spesifikasi model yang ketat, termasuk uji Chow dan Hausman, Fixed Effect Model (FEM) ditetapkan sebagai estimator yang paling tangguh dalam mengontrol heterogenitas wilayah. Hasil estimasi membuktikan bahwa kapasitas ekonomi (PDRB) memiliki elastisitas negatif yang signifikan terhadap kemiskinan, mengonfirmasi perannya sebagai pengentas kemiskinan. Sebaliknya, modal manusia (IPM) menunjukkan anomali berupa elastisitas positif yang mengindikasikan adanya structural mismatch di pasar tenaga kerja, sementara jumlah penduduk tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Temuan ini memberikan implikasi kritis bagi pembuat kebijakan, menekankan urgensi pergeseran fokus pada pembangunan inklusif padat karya dan revitalisasi kurikulum pendidikan agar berkesesuaian dengan kebutuhan industri.