Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan antara Efikasi Diri dan Dukungan Keluarga dengan Mekanisme Koping Klien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisa di RSU Royal Prima Medan Tahun 2024 Ramadhani Ramadhani; Nurul Amirah Tamimi; S. Cristin Tambunan; Cut Kanza Lindia Sari; Rael Malia Putri Wau; Karmila Br Kaban
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.43526

Abstract

Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan penyakit yang memerlukan perawatan jangka panjang, salah satunya melalui terapi hemodialisa. Pasien GGK menghadapi berbagai tantangan fisik dan psikologis yang dapat mempengaruhi mekanisme koping. Tujuan penelitian ini mengetahui Hubungan antara Efikasi Diri serta Dukungan Keluarga dengan Mekanisme Koping Klien Gagal Ginjal Kronik yang melaksanakan Hemodialisa di RSU Royal Prima Medan 2024. Jenis penelitian yang diunakan dengan studi analitik dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian diambil menggunakan teknik accidental sampling dari populasi pasien GGK yang berjumlah 127 orang. Data dikumpulkan melalui wawancara terpimpin, pengisian kuesioner, serta analisis rekam medis. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi variabel serta bivariat menggunakan uji chi-square guna menguji hubungan antarvariabel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang menjalani hemodialisa di RSU Royal Prima Medan memiliki tingkat efikasi diri sedang, yang mencerminkan keyakinan diri yang cukup dalam menghadapi penyakit, meskipun masih memerlukan dukungan tambahan. Dukungan keluarga terhadap pasien umumnya berada dalam kategori baik, yang berkontribusi dalam meningkatkan kesiapan mental pasien dalam menjalani terapi. Mekanisme koping yang digunakan mayoritas pasien bersifat adaptif, menunjukkan bahwa mereka mampu menghadapi stres dengan strategi yang positif. Selain itu, terdapat hubungan yang signifikan antara efikasi diri dengan mekanisme koping, di mana pasien dengan efikasi diri yang lebih tinggi cenderung menggunakan mekanisme koping yang lebih adaptif. Hubungan signifikan juga ditemukan antara dukungan keluarga dan mekanisme koping, di mana pasien dengan dukungan keluarga yang baik lebih mampu mengelola stres dengan cara yang positif.
Asuhan Keperawatan pada Tn. K dengan Masalah Sistem Respiratori TB Paru di RSU Royal Prima Medan Ranila Buulolo; Rael Malia Putri Wau; Nurul Amira Tamimi; Juniati Simanjuntak; ⁠Yusni Sianipar; Afeus Halawa
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 4 No. 3 (2026): July : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v4i3.1318

Abstract

Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi menular yang menyerang sistem respiratori dan dapat menimbulkan gangguan oksigenasi, penumpukan sekret, demam, nyeri dada, serta penurunan kondisi umum pasien. Studi kasus ini bertujuan menggambarkan asuhan keperawatan pada Tn. K dengan masalah sistem respiratori akibat tuberkulosis paru di RSU Royal Prima Medan. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan meliputi pengkajian, diagnosis, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, pemantauan tanda vital, pemeriksaan status respiratori, hasil laboratorium, dan dokumentasi keperawatan. Hasil pengkajian menunjukkan pasien mengalami sesak napas berat, batuk berdahak kental kehijauan, flek darah saat batuk, nyeri dada kanan, demam, keringat malam, penurunan berat badan, frekuensi napas 28 kali per menit, suhu 39,2°C, dan SpO₂ 90%. Diagnosis keperawatan yang ditegakkan meliputi gangguan pertukaran gas, bersihan jalan napas tidak efektif, hipertermia, dan nyeri akut. Implementasi dilakukan melalui pemantauan respirasi, posisi semi-Fowler, terapi medis, edukasi kesehatan, dan latihan batuk efektif. Evaluasi menunjukkan peningkatan SpO₂ menjadi 98 sampai 99%, penurunan frekuensi napas, suhu tubuh, serta berkurangnya sputum. Latihan batuk efektif membantu memperbaiki bersihan jalan napas pasien.