Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

The Relationship Between Social Support And Culture Shock Among Overseas Students At Malikussaleh University Rini Julistia; Yara Andita Anastasya; Widi Astuti; Leni Maszura; Zurratul Muna; Chindy Novita Rahmadani
Jurnal Ners Vol. 9 No. 4 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i4.49718

Abstract

Aceh merupakan salah satu daerah istimewa di Indonesia yang memiliki status otonomi khusus, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan sosial dengan culture shock pada mahasiswa rantau di Universitas Malikussaleh. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan teknik insedental sampling. Subjek penelitian ini berjumlah 338orang mahasiswa rantau di Universitas Malikussaleh. Teknik pengumpulan data menggunakan skala dukungan sosial yang terdiri dari empat puluh sembilan aitem dan skala culture shock yang terdiri dari dua puluh enam aitem. Hasil penelitian menggunakan analisis spearman’s rho dengan nilai (r)= -0,233 dengan signifikansi (P<0.000) menunjukkan terdapat hubungan negatif antara dukungan sosial dengan culture shock yang artinya semakin tinggi dukungan sosial maka semakin rendah culture shock, begitu sebaliknya semakin rendah dukungan sosial maka semakin tinggi culture shock pada mahasiswa rantau di Universitas Malikussaleh. Hal ini bermakna bahwa mahasiswa rantau yang mendapatkan dukungan sosial dari keluarga, teman, dan orang lain dapat membantunya agar terhindar dari hal-hal negatif serta mengatasi gejala culture shock.
Program Pelatihan Personal Safety Skill bagi Masyarakat Desa Blang Pulo Sebagai Upaya pencegahan Terjadinya Kekerasan Seksual pada Anak dan Remaja Ella Suzanna; Rahmia Dewi; Maya Lestari; Febriani Rahma; Leni Maszura; Nursan Junita; Fahru Azra'i Ansori; Galih Trisurya Nugraha
Gotong Royong: Jurnal Pengabdian, Pemberdayaan Dan Penyuluhan Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2026): Gotong Royong (JP3KM) Juni 2026
Publisher : Yayasan Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/jp3km.v5i2.113

Abstract

Kekerasan seksual pada anak dan remaja ialah salah satu bentuk kejahatan yang semakin meningkat di berbagai daerah, termasuk di Provinsi Aceh. Tingginya angka kasus, ditambah minimnya pemahaman masyarakat mengenai bentuk-bentuk kekerasan seksual serta prosedur penanganannya, menjadikan intervensi berbasis komunitas sangat penting dilakukan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan guna meningkatkan pengetahuan, kemampuan identifikasi, dan keterampilan kader, perangkat desa, orangtua, serta ibu-ibu rumah tangga dalam mencegah dan menangani kasus kekerasan seksual pada anak di Desa Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe. Metode kegiatan meliputi psikoedukasi, penyampaian data statistik kasus di Aceh, pelatihan berbasis role play, diskusi kelompok, serta pretest dan posttest. Sebanyak 20 peserta terlibat aktif dalam kegiatan ini. Hasil pelaksanaan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta, peningkatan kemampuan identifikasi kasus secara tepat, serta meningkatnya kepercayaan diri peserta dalam memberikan edukasi kepada anak dan remaja. Peserta juga mampu menyusun langkah penanganan awal berdasarkan studi kasus yang mereka tuliskan sendiri. Kegiatan ini terbukti efektif dalam membangun kapasitas perangkat desa serta meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat guna mencegah terjadinya kasus kekerasan seksual pada anak dan remaja.
Hubungan Antara Motivasi Kerja dan Kepuasan Kerja dengan Stres Kerja pada Perawat di Rumah Sakit Umum Haji Medan M. Fikri Jaka Pratama; Yulia Nanda Safitri; Leni Maszura
Jurnal Penelitian Pendidikan, Psikologi Dan Kesehatan (J-P3K) Vol 6, No 4 (2025): J-P3K
Publisher : Yayasan Mata Pena Madani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51849/j-p3k.v7i2.1058

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara motivasi kerja dan kepuasan kerja dengan stres kerja pada perawat Rumah Sakit Umum Haji Medan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan analisis regresi berganda pada 130 orang perawat yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Instrumen yang digunakan meliputi Skala Motivasi Kerja berdasarkan Herzberg’s Two-Factor Theory, Skala Kepuasan Kerja berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan Robbins dan Judge, serta Skala Stres Kerja berdasarkan aspek fisiologis, psikologis, dan perilaku, yang seluruhnya telah diuji cobakan pada 30 perawat RSU Haji Medan sebelum digunakan dalam penelitian utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang sangat signifikan antara motivasi kerja dengan stres kerja (r = −0,349; p < 0,001; SE = 12,2%), serta hubungan negatif yang sangat signifikan antara kepuasan kerja dengan stres kerja (r = −0,316; p < 0,001; SE = 10,0%). Secara simultan, motivasi kerja dan kepuasan kerja bersama-sama berhubungan secara sangat signifikan dengan stres kerja (Freg = 141,302; R² = 0,204; p < 0,001), dengan kontribusi gabungan sebesar 20,4%. Gambaran kondisi subjek menunjukkan bahwa perawat memiliki motivasi kerja yang rendah, kepuasan kerja yang cenderung tinggi, namun stres kerja yang berada pada kategori sangat tinggi.
Exploring the Link between Neuroticism and Work–Life Balance in High-Pressure Banking Jobs Leni Maszura; M. Fikri Jaka Pratama; Yulia Nanda Safitri
Nusantara Journal of Behavioral and Social Science Vol. 4 No. 3 (2025)
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/njbss.202512443

Abstract

The banking sector is characterized by high work pressure, long working hours, and demanding performance targets, making it one of the most vulnerable industries to occupational stress and work–life imbalance. While organizational factors such as workload, supervisor support, and company policies are recognized as critical determinants of work–life balance (WLB), studies focusing on dispositional factors, particularly personality traits, remain limited. Neuroticism, as one of the Big Five personality dimensions, is strongly associated with emotional instability, anxiety, and rumination, which may hinder employees’ ability to manage competing role demands effectively. This study aims to examine the relationship between neuroticism and WLB among banking employees in Indonesia, where cultural values and organizational contexts may shape employees’ experiences differently than in Western settings. Using a quantitative correlational design, data were collected from 234 banking employees through purposive sampling. Neuroticism was measured using the Big Five Inventory, while WLB was assessed with the Work–Life Balance Scale. Pearson’s correlation analysis revealed a significant negative relationship between neuroticism and WLB (r = –.210, p < .001, 95% CI [–.320, –.090]), with a small-to-moderate effect size. These findings are consistent with global literature linking neuroticism to poor work–family outcomes, while also highlighting contextual factors that may buffer or intensify this relationship. Theoretically, this study contributes by extending the scope of WLB research to include personality-based determinants in a Southeast Asian context. Practically, the results suggest that banking organizations should design interventions such as stress management training, resilience-building programs, and flexible work arrangements to support employees with high neuroticism profiles.   Abstrak: Sektor perbankan dikenal memiliki karakteristik pekerjaan dengan tekanan tinggi, jam kerja yang panjang, serta tuntutan target yang ketat. Kondisi tersebut seringkali menimbulkan risiko stres kerja dan mengurangi kesempatan karyawan untuk menyeimbangkan peran antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Work-life balance tercapai ketika seseorang mampu memenuhi tuntutan dari kedua ranah tersebut secara proporsional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan neuroticism dengan work-life balance pada karyawan perbankan. Subjek dalam penelitian ini adalah pekerja di sektor perbankan yang berjumlah 234 orang. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasional, pengukuran variabel dilakukan menggunakan skala big-five personality dan skala-work life balance dengan format likert. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan pearson product moment correlation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa neuroticism berhubungan negatif secara signifikan dengan work-life balance (r = -0.210, p < .001) artinya semakin tinggi neuroticism, semakin rendah work-life balance dan sebaliknya semakin rendah neuroticism maka semakin tinggi work-life balance. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah pentingnya organisasi perbankan menyediakan dukungan kerja yang memadai serta mengembangkan kebijakan work–life balance terutama bagi karyawan dengan profil neuroticism lebih tinggi.