Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Optimizing Glycemic Control through Multidisciplinary Care: A Case of Type 2 Diabetes Mellitus with Foot Ulceration Kheru, Akhmad; Juraini, Novi Amin; Dien, Khaula Azzahra Muslihah; Rahayu, Kirana Dwi; Ayudya, Komang Angel; Oktapiani, Laeli Resti; Anggun, Lattifah; Nurdiantami, Yuri
Biomedical Research and Theory Letters Vol. 1 No. 1 (2025): Biomedical Research and Theory Letters
Publisher : CV. FOUNDAE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58524/brtl.v1i1.68

Abstract

Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is a chronic metabolic disorder characterized by impaired insulin secretion or resistance, which frequently remains undiagnosed until complications develop, and persistent hyperglycemia contributes to multisystem damage, particularly involving vascular, neural, renal, and integumentary systems, with major risk factors including family history, obesity, unhealthy dietary patterns, and physical inactivity; in this context, a 63-year-old woman presented with blistering lesions on the left hallux accompanied by swelling, pain, and paresthesia, with a medical history of hypertension, irregular eating habits, insufficient physical activity, and a familial predisposition to diabetes, while physical examination revealed a body mass index of 26.84 kg/m² with stable vital signs, and random blood glucose was 328 mg/dL, confirming severe hyperglycemia and establishing the diagnosis of T2DM, for which management encompassed pharmacological therapy (metformin, glimepiride, amlodipine, antibiotics, analgesics), patient education, psychosocial support, and lifestyle modification, and following comprehensive intervention the patient demonstrated improved disease awareness, enhanced family support, and better adherence to lifestyle changes, with outcomes emphasizing stabilization of glycemic levels, prevention of further complications, and improvement in overall quality of life, thereby underscoring the significance of a multidisciplinary approach in T2DM management that integrates medical therapy, education, psychosocial support, and behavioral as well as environmental modifications, and highlighting that such comprehensive strategies are essential to achieve optimal glycemic control and reduce the risk of long-term complications, while also illustrating the clinical relevance of early detection and holistic intervention in patients with diabetes who present with foot lesions, since these manifestations often indicate advanced disease progression and require coordinated care to prevent disability and improve prognosis, and ultimately this case contributes to the growing evidence that effective diabetes management must extend beyond pharmacological treatment to encompass patient-centered education, psychosocial reinforcement, and lifestyle restructuring, thereby offering a model of integrated care that can be applied more broadly in clinical practice to enhance outcomes in individuals living with T2DM.
Pencegahan stunting pada generasi emas berbasis gizi dan edukasi sehat (GENIUS) Sari, Widya Karina; Yulanda, Elvis; Sudestia, Nabila; Adelia, Monica; Andrian, Johan; Ayudya, Komang Angel
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 2 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i2.3067

Abstract

Background: Stunting is a priority health issue, both globally and locally, due to its multidimensional impacts, ranging from health problems to the risk of death. In the medium term, the stunting prevalence is targeted to decrease to 14.2% by 2029. The 2023 Indonesian Health Survey recorded a stunting rate of 21.5% in Indonesia, a decrease of only 0.1% from 21.6% in 2022. This indicates that Indonesia has not yet achieved its target in the National Medium-Term Development Plan (RPJMN). Considering this situation, accelerating stunting reduction is crucial for realizing Indonesia's Golden Generation by 2045. Purpose: Provide education to increase knowledge about stunting and skills in early stunting prevention. Method: This stunting prevention outreach activity was held on Saturday, August 23, 2025, with a high level of participation, with 110 participants representing the target group, including toddlers, pregnant women, and breastfeeding mothers. The event took place at the Integrated Health Service Post (Posyandu) Center in Sri Melati Village, Wonosobo District, Tanggamus Regency, Lampung Province. The material was delivered through interactive lectures and question-and-answer discussions. Evaluation of the activity was based on descriptive observations of participants' achievements during the event. Results: Most participants gained knowledge that stunting prevention is carried out from pregnancy until the child is 2 years old, that adequate nutritional intake during pregnancy prevents fetal malnutrition, that compliance with routine checkups during pregnancy or monitoring toddler growth and development at the Posyandu/Puskesmas is crucial, and that maintaining environmental cleanliness and providing appropriate nutrition to prevent diseases that impact child growth and development. Meanwhile, improving participant skills includes conducting accurate anthropometric measurements (height/weight) for early detection of stunting, being more confident in identifying signs of stunting, being able to determine the type of food needed to fulfill balanced nutrition and communicating and consulting with Posyandu/Puskesmas regarding stunting. Conclusion: This community service activity, which involved interactive education using leaflets, was highly effective in increasing knowledge about stunting and enhancing community skills and awareness about how to prevent it. This increased knowledge and skills also motivated the community to adopt healthy lifestyles by providing balanced nutrition for their families, contributing to the accelerated reduction of stunting in Indonesia, particularly in rural areas. Suggestion: This same program needs to be implemented sustainably, involving village governments, health workers, and integrated health post (Posyandu) cadres in efforts to prevent stunting in children. Keywords: Community service; Nutrition education; Prevention; Stunting Pendahuluan: Stunting menjadi salah satu masalah kesehatan prioritas, baik secara global maupun lokal, karena dampaknya yang multidimensi mulai dari masalah kesehatan hingga risiko kematian. Dalam jangka menengah, prevalensi stunting ditargetkan turun menjadi 14.2% pada tahun 2029. Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 mencatat angka stunting di Indonesia sebesar 21.5%, hanya turun 0.1% dari 21.6% pada tahun 2022, hal ini dapat diartikan belum tercapainya target Indonesia dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Dengan mempertimbangkan situasi ini, percepatan penurunan stunting sangat penting dalam mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045. Tujuan: Memberikan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan mengenai stunting dan kemampuan dalam melakukan pencegahan stunting sejak dini. Metode: Kegiatan penyuluhan pencegahan stunting ini diselenggarakan pada Sabtu, 23 Agustus 2025. dengan partisipasi yang cukup tinggi, tercatat sebanyak 110 orang yang merupakan kelompok sasaran, termasuk anak balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Bertempat di Balai Posyandu Desa Sri Melati, Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Materi disampaikan melalui ceramah interaktif dan diskusi tanya-jawab. Evaluasi penilaian kegiatan berdasarkan observasi pencapaian deskriptif pada peserta selama kegiatan berlangsung. Hasil: Sebagian besar peserta mendapatkan pengetahuan bahwa pencegahan stunting dilakukan sejak masa kehamilan hingga anak usia 2 tahun, pemenuhan asupan nutrisi di masa kehamilan untuk mencegah janin kurang gizi, pentingnya kepatuhan dalam pemeriksaan rutin di masa kehamilan atau memantau tumbuh kembang balita di Posyandu/Puskesmas dan menjaga kebersihan lingkungan dan pemberian makanan yang tepat untuk mencegah terjadinya penyakit yang berdampak pada tumbuh kembang anak. Sedangkan peningkatan kemampuan peserta meliputi melakukan pengukuran antropometri (tinggi/berat badan) secara akurat untuk deteksi dini stunting, lebih percaya diri dalam melakukan identifikasi tanda-tanda stunting, dapat menentukan kebutuhan jenis makanan dalam pemenuhan gizi seimbang dan melakukan komunikasi dan konsultasi dengan Posyandu/Puskesmas terkait stunting. Simpulan: Kegiatan pengabdian berupa edukasi yang interaktif dengan media leaflet sangat efektif telah meningkatkan pengetahuan mengenai stunting dan meningkatkan kemampuan serta kesadaran masyarakat tentang cara mencegah stunting. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan juga memberikan peningkatan motivasi masyarakat dalam menerapkan perilaku hidup sehat dengan pemenuhan gizi seimbang bagi keluarganya sehingga kegiatan ini berkontribusi dalam mendukung percepatan penurunan stunting di Indonesia, khususnya wilayah pedesaan. Saran: Program yang sama perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan kader posyandu dalam rangka upaya pencegahan stunting pada anak.