Anak-anak termasuk dalam kelompok yang rentan terhadap polusi udara yang berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan, termasuk asma. Edukasi sejak dini penting untuk mengenalkan asma dan menumbuhkan kesadaran menjaga kesehatan paru. Tim Pengabdi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (FKIK-UAJ) terlibat dalam acara Science Day 2025 di Kota Bandung untuk melaksanakan pengabdian masyarakat. Kegiatan bertujuan untuk mengenalkan asma melalui edukasi interaktif dan penilaian fungsi paru anak sekolah dasar (SD). Aktivitas meliputi pemutaran video edukasi, pengisian kuesioner pengetahuan, dan penentuan indikasi obstruksi paru atau peak expiratory flow (PEF) menggunakan peak flow meter (PFM). Hasil kuesioner menunjukkan sebesar 81,4% dari 43 siswa memperoleh nilai sempurna, menandakan siswa dapat menerima materi yang disampaikan melalui media video dengan baik. Sedangkan pengukuran PEF pada 48 siswa menunjukkan sebagian besar siswa (56,3%) berada di zona kuning yang mengindikasikan adanya penyempitan saluran napas ringan hingga sedang yang perlu diperhatikan. Secara spesifik, 8 anak perlu memperhatikan kesehatan paru mereka dikarenakan nilai PEF yang mengindikasikan adanya obstruksi paru yang berat. Analisis statistik tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara kategori PEF berdasarkan jenis kelamin (p=0,285) maupun usia (p=0,133), menandakan semua anak berisiko sama terhadap asma. Akhirnya, edukasi serta tindakan preventif sejak dini perlu ditekankan untuk menjaga kesehatan pernapasan anak-anak.