Akselerasi digital Abad ke-21 menghasilkan diskrepansi antara capaian kompetensi teknis (4C dan literasi digital) dengan ketangguhan karakter moral-spiritual peserta didik. Ketimpangan ini termanifestasi dalam rapuhnya regulasi diri, krisis identitas, dan literasi digital yang belum beradab. Penelitian ini bertujuan merumuskan kerangka konseptual untuk mengintegrasikan Tazkiyatun Nafs Al-Ghazali dengan kerangka kompetensi modern. Menggunakan studi kepustakaan dan analisis filosofis, penelitian ini menyintesis Tazkiyatun Nafs melalui poros takhalli (pelepasan sifat negatif), tahalli (penanaman kebajikan), dan tajalli (aktualisasi nilai) sebagai arsitektur nilai yang ko-evolutif dengan 4C. Hasilnya, takhalli memperkuat critical thinking sebagai disiplin batin; tahalli menopang collaboration dan communication berbasis adab; sementara tajalli mengarahkan creativity pada kemaslahatan publik (maqashid). Penelitian ini menawarkan novelty dalam pemadanan eksplisit Tazkiyatun Nafs dengan indikator kompetensi abad ke-21 secara operasional, menghasilkan kerangka kurikulum-pedagogi-asesmen yang dapat diturunkan menjadi praktik pembelajaran holistik, alih-alih sekadar moralitas tambahan. Kesimpulan menegaskan bahwa Tazkiyah adalah mekanisme integratif yang mengikat domain intrapersonal, interpersonal, dan transpersonal untuk merespons krisis etis generasi modern.