Penelitian ini bertujuan untuk memahami persepsi komunikasi anggota Pusat Dakwah Islam Mahasiswa (PUSDIMA) Universitas Mulawarman dalam memutuskan membeli atau tidak membeli produk pro-Israel di tengah gerakan boikot. Fenomena boikot dipandang sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan terhadap Palestina dan menjadi isu global yang memengaruhi perilaku konsumsi mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik snowball sampling terhadap empat informan aktif PUSDIMA. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, dan dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman dengan kerangka Theory of Reasoned Action (TRA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi anggota PUSDIMA terbentuk melalui interaksi nilai agama, moral, pengalaman pribadi, dan pengaruh lingkungan sosial. Seluruh informan menunjukkan sikap negatif terhadap produk pro-Israel, didorong motivasi moral dan spiritual, serta diperkuat oleh norma sosial dalam komunitas dakwah kampus. Minat terhadap produk pro-Israel sangat rendah, bahkan cenderung nihil, meskipun secara kualitas dianggap baik. Keputusan untuk memboikot dilakukan secara konsisten dan tidak bersifat emosional sesaat, melainkan hasil pertimbangan etis yang matang. Temuan ini menegaskan bahwa sikap dan norma subjektif berperan penting dalam membentuk niat, yang kemudian diwujudkan dalam perilaku nyata berupa boikot. Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian ilmu komunikasi, khususnya mengenai persepsi komunikasi dalam kaitannya dengan perilaku konsumsi berbasis nilai ideologis dan etis di kalangan mahasiswa Muslim.