Akhmad Mauluddin
BPMP Kalimantan Selatan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Komunitas Belajar dalam Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM): Upaya Menggali Permasalahan dan Alternatif Pemecahannya Ella Agustina; Syaharuddin Syaharuddin; Yuli Haryanto; Akhmad Mauluddin; Purwanto Purwanto
Jurnal Penggerak Pendidikan dan Pembelajaran Vol 1 No 2 (2024): Jurnal Penggerak Pendidikan Dan Pembelajaran
Publisher : BPMP Provinsi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Komunitas belajar dalam Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) telah dilaksanakan dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah. Namun, dalam implementasinya tidak sedikit kendala yang dihadapi.  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripisikan (1) wujud masalah pada komunitas belajar dalam IKM di sekolah, (2) pemecahan masalah pada komunitas belajar,  dan (3) dampak pemecahan masalah dalam komunitas belajar di sekolah. Subjek penelitian ini adalah kepala sekolah 7 orang dan guru 13 orang yang tergabung dalam program sekolah penggerak (PSP) di kota Banjarmasin dan kabupaten Banjar. Data penelitian dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi. Analisis data mengikuti model Miles dan Huberman. Hasil penelitian, yaitu (1) wujud masalah komunitas belajar dalam IKM, yakni masih adanya mispersepsi guru tentang komunitas belajar; masih kurangnya pelatihan IKM bagi guru; Collaborative learning antarguru rendah; pertemuan guru secara rutin belum terprogram; sharing knowledge melalui pertemuan rutin komunitas belajar masih kurang; dan sarana pembelajaran yang perlu ditingkatkan. (2) pemecahan masalah komunitas belajar, yakni melalui penyediaan kelengkapan sarana dan prasarana, penyediaan waktu khusus bagi guru untuk berbagi praktik baik, kolaborasi antarguru senior dan guru junior, mendatangkan narasumber, penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan optimalisasi dalam pemanfaatan Platform Merdeka Mengajar (PMM). (3) Dampak pemecahan masalah komunitas belajar bagi kepala sekolah dan guru, yakni mendapatkan kemudahan dalam memeroleh informasi; saling bersinergi; dan muncul sikap saling memberi semangat.
Miskonsepsi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Jenjang Pendidikan Dasar Ella Agustina; Syaharuddin Syaharuddin; Eka Sri Handayani; Akhmad Mauluddin; Akhmad Gafuri
Jurnal Penggerak Pendidikan dan Pembelajaran Vol 2 No 1 (2024): Jurnal Penggerak Pendidikan Dan Pembelajaran
Publisher : BPMP Provinsi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) telah berjalan yang diawali oleh Sekolah Penggerak dan ketika Kurikulum Merdeka disahkan menjadi Kurikulum Nasional telah dilaksanakan oleh seluruh sekolah di Tanah Air. Namun, dalam praktiknya, masih terdapat sebagian guru di sekolah yang melaksanakan P5 namun belum mencapai tujuan utamanya, yakni membentuk peserta didik yang berkarakter Profil Pelajar Pancasila (3P). Karena itu, kajian ini menggali lima hal, pertama bagaimana wujud miskonsepsi P5 dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Kedua, bagaimana faktor munculnya miskonsepsi P5. Ketiga, bagaimana dampak miskonsepsi P5. Keempat, apa upaya yang dilakukan untuk mengatasi miskonsepsi P5. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Subyek penelitian ini adalah pengawas, kepala sekolah dan guru yang bejumlah 2800 yang tersebar pada jenjang Pendidikan dasar (SD dan SMP). Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Produk P5 yang kemudian dipamerkan pada periode tertentu tampak masih menjadi dominan. (2) Pelibatan stakeholder belum optimal. (3) Faktor kurangnya pelatihan tatap muka menjadi penghambat rendahnya pemahaman guru terhadap P5. (4) Keterbatasan dan kemampuan dalam pengelolaan waktu menjadi kendala utama. (5) Siswa tampak kecewa ketika praduk P5 tidak tuntas dan merasa puas jika praduk P5 dipamerkan, sehingga menjadi gambaran sebuah miskonsepsi P5. (6) Upaya yang dilakukan untuk mengatasi miskonsepsi P5, yakni melalui kegiatan di komunitas belajar (Kombel) (73%), melalui workshop dan IHT (58%), dan di komunitas belajar daring (58%).