Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) telah berjalan yang diawali oleh Sekolah Penggerak dan ketika Kurikulum Merdeka disahkan menjadi Kurikulum Nasional telah dilaksanakan oleh seluruh sekolah di Tanah Air. Namun, dalam praktiknya, masih terdapat sebagian guru di sekolah yang melaksanakan P5 namun belum mencapai tujuan utamanya, yakni membentuk peserta didik yang berkarakter Profil Pelajar Pancasila (3P). Karena itu, kajian ini menggali lima hal, pertama bagaimana wujud miskonsepsi P5 dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Kedua, bagaimana faktor munculnya miskonsepsi P5. Ketiga, bagaimana dampak miskonsepsi P5. Keempat, apa upaya yang dilakukan untuk mengatasi miskonsepsi P5. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Subyek penelitian ini adalah pengawas, kepala sekolah dan guru yang bejumlah 2800 yang tersebar pada jenjang Pendidikan dasar (SD dan SMP). Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Produk P5 yang kemudian dipamerkan pada periode tertentu tampak masih menjadi dominan. (2) Pelibatan stakeholder belum optimal. (3) Faktor kurangnya pelatihan tatap muka menjadi penghambat rendahnya pemahaman guru terhadap P5. (4) Keterbatasan dan kemampuan dalam pengelolaan waktu menjadi kendala utama. (5) Siswa tampak kecewa ketika praduk P5 tidak tuntas dan merasa puas jika praduk P5 dipamerkan, sehingga menjadi gambaran sebuah miskonsepsi P5. (6) Upaya yang dilakukan untuk mengatasi miskonsepsi P5, yakni melalui kegiatan di komunitas belajar (Kombel) (73%), melalui workshop dan IHT (58%), dan di komunitas belajar daring (58%).
Copyrights © 2024