Akhmad Gafuri
BPMP Kalimantan Selatan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Miskonsepsi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Jenjang Pendidikan Dasar Ella Agustina; Syaharuddin Syaharuddin; Eka Sri Handayani; Akhmad Mauluddin; Akhmad Gafuri
Jurnal Penggerak Pendidikan dan Pembelajaran Vol 2 No 1 (2024): Jurnal Penggerak Pendidikan Dan Pembelajaran
Publisher : BPMP Provinsi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) telah berjalan yang diawali oleh Sekolah Penggerak dan ketika Kurikulum Merdeka disahkan menjadi Kurikulum Nasional telah dilaksanakan oleh seluruh sekolah di Tanah Air. Namun, dalam praktiknya, masih terdapat sebagian guru di sekolah yang melaksanakan P5 namun belum mencapai tujuan utamanya, yakni membentuk peserta didik yang berkarakter Profil Pelajar Pancasila (3P). Karena itu, kajian ini menggali lima hal, pertama bagaimana wujud miskonsepsi P5 dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Kedua, bagaimana faktor munculnya miskonsepsi P5. Ketiga, bagaimana dampak miskonsepsi P5. Keempat, apa upaya yang dilakukan untuk mengatasi miskonsepsi P5. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Subyek penelitian ini adalah pengawas, kepala sekolah dan guru yang bejumlah 2800 yang tersebar pada jenjang Pendidikan dasar (SD dan SMP). Hasil penelitian sebagai berikut: (1) Produk P5 yang kemudian dipamerkan pada periode tertentu tampak masih menjadi dominan. (2) Pelibatan stakeholder belum optimal. (3) Faktor kurangnya pelatihan tatap muka menjadi penghambat rendahnya pemahaman guru terhadap P5. (4) Keterbatasan dan kemampuan dalam pengelolaan waktu menjadi kendala utama. (5) Siswa tampak kecewa ketika praduk P5 tidak tuntas dan merasa puas jika praduk P5 dipamerkan, sehingga menjadi gambaran sebuah miskonsepsi P5. (6) Upaya yang dilakukan untuk mengatasi miskonsepsi P5, yakni melalui kegiatan di komunitas belajar (Kombel) (73%), melalui workshop dan IHT (58%), dan di komunitas belajar daring (58%).
Strategi Manajemen Akreditasi: Studi SDN Banjarbaru Akhmad Gafuri
Jurnal Penggerak Pendidikan dan Pembelajaran Vol 1 No 1 (2023): Jurnal Penggerak Pendidikan Dan Pembelajaran
Publisher : BPMP Provinsi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perencanaan, pengorganisasian, pengerahan, pengawasan, permasalahan dan strategi pemecahan masalah akreditasi pada SDN Banjarbaru Utara 2. Penelitian ini jenis deskriptif kualitatif dari sumber primer dan sekunder, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian: (1) strategi perencanaan akreditasi telah dilaksanakan dalam jangka pendek (1 tahun) berupa Rencana Kerja Anggaran Sekolah (RKAS), (2) strategi pengorganisasian akreditasi kepala sekolah mengorganisasikan ketenagaan, menyiapkan guru-guru dan dokumen, (3) strategi pengerahan akreditasi dilaksanakan sejak sekolah ditetapkan sebagai sekolah yang dinilai BAN, memfotokopi instrumen dan koordinator tim akreditasi untuk mengisi centangan sesuai dokumen yang dimiliki. Pengarahan dilaksanakan sejak persiapan sampai pelaksanaan dilaksanakan dalam waktu 6 bulan, (4) strategi pengawasan akreditasi dilakukan kepala sekolah, yaitu melalui tim koordinator, selalu mencek kesesuaian dengan data dan dokumen, menyimpan dokumen dalam softcopy, dalam waktu 3 bulan sampai penyerahan ke tim BAN provinsi, (5) permasalahan dan strategi pemecahan masalah akreditasi berasal dari aspek internal yaitu sumber daya manusia sebagian guru yang belum memiliki ijazah S1 dan tenaga honorer yang belum menguasai dokumen akreditasi dan permasalahan aspek eksternal, yaitu dari tim penilai akreditasi tidak sama persepsi dengan tim akreditasi sekolah mengenai dokumen yang disiapkan.  Strategi pemecahan masalah, kepala sekolah dan pengawas membimbing guru-guru dalam pembuatan dokumen, meminta tambahan waktu penilaian.