Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Peran Modal Sosial sebagai Strategi Bertahan UMKM Kuliner di Cibiru Kota Bandung Dinda Anisa; Willis Putri Salsabilla; Zahra Listianingsih; Sri Damayanti
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.5480

Abstract

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu sektor ekonomi yang memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta menjaga stabilitas ekonomi, khususnya di tingkat lokal. Dalam praktiknya, keberlangsungan UMKM tidak hanya ditentukan oleh faktor ekonomi, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor sosial yang melekat dalam aktivitas usaha. Salah satu bentuk strategi yang dapat digunakan dalam mempertahankan usaha adalah pemanfaatan modal sosial yang meliputi kepercayaan, jaringan sosial, dan norma sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran modal sosial sebagai strategi bertahan UMKM kuliner di wilayah Cibiru Kota Bandung serta mengkaji dampaknya terhadap keberlangsungan usaha di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam dengan pelaku UMKM kuliner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial berperan penting dalam mendukung keberlangsungan UMKM kuliner. Kepercayaan antara pelaku usaha dan konsumen mampu meningkatkan loyalitas pelanggan, sementara jaringan sosial dimanfaatkan untuk memperoleh informasi, sumber daya, serta dukungan dalam menghadapi berbagai kendala usaha. Selain itu, norma sosial yang berkembang di lingkungan masyarakat turut menciptakan iklim usaha yang kondusif melalui hubungan yang harmonis antar pelaku usaha. Modal sosial juga berkontribusi dalam meningkatkan kemampuan adaptasi pelaku UMKM terhadap perkembangan teknologi digital melalui pertukaran informasi dalam jaringan sosial. Dengan demikian, modal sosial dapat dipahami sebagai salah satu strategi yang efektif dalam mempertahankan keberlangsungan UMKM kuliner serta meningkatkan daya saing usaha di tengah perubahan ekonomi
Analisis Adaptasi Pedagang Kue Tradisional Terhadap Produk Makanan Modern Di Pasar Mingguan Manglayang Shabitha Romdona Anisa Fitri; Ahmad Hilmi Qolyubi; Muhammad Azmul Warid; Sri Damayanti
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i3.5531

Abstract

Perkembangan ekonomi dan globalisasi mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat, khususnya dalam preferensi terhadap produk makanan. Kondisi ini berdampak pada menurunnya minat terhadap kue tradisional di tengah maraknya produk makanan modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk adaptasi pedagang kue tradisional dalam menghadapi persaingan dengan produk makanan modern di pasar mingguan Manglayang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif, melalui teknik observasi dan wawancara mendalam terhadap pedagang dan konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi ketimpangan daya saing antara kue tradisional dan makanan modern yang dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup dan preferensi konsumen. Kue tradisional dinilai kurang praktis dan kurang menarik secara visual dibandingkan produk modern, sehingga berdampak pada penurunan jumlah pembeli dan ketidakstabilan pendapatan pedagang. Meskipun demikian, kue tradisional masih memiliki daya tarik dari segi rasa autentik dan nilai budaya. Pedagang melakukan berbagai strategi adaptasi, seperti inovasi kemasan, variasi produk, serta mempertahankan kualitas dan nilai tradisional. Dalam perspektif sosiologi ekonomi, fenomena ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi melekat pada hubungan sosial dan budaya (embeddedness). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa keberlangsungan usaha kue tradisional bergantung pada kemampuan pelaku usaha dalam mengintegrasikan nilai tradisional dengan tuntutan modernisasi.
Negosiasi Peran dan Fungsi Keluarga dalam Long Distance Marriage pada Masa Kehamilan Keluarga Transnasional Isti Rizka Amalia; Natasya Bela Sutrisna; Rasqia Maulida Andliana; Sri Damayanti
Jurnal Sosial Humaniora Sigli Vol 9, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Jabal Ghafur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47647/jsh.v9i1.3989

Abstract

Kehidupan keluarga ideal setelah menikah umumnya dijalani dengan tinggal bersama serta menjalankan peran dan fungsi keluarga secara langsung. Namun, tingginya angka pekerja migran di Indonesia menyebabkan banyak pasangan harus menjalani long distance marriage (LDM) transnasional, termasuk saat istri sedang hamil dan membutuhkan kehadiran suami. Penelitian ini bertujuan menganalisis negosiasi struktur keluarga, pembagian peran, dan fungsi keluarga selama masa kehamilan dalam kondisi LDM transnasional melalui perspektif teori struktural fungsional. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan data yang diperoleh dari wawancara mendalam terhadap dua pasangan suami istri serta sumber kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga LDM transnasional tetap mampu mempertahankan struktur dan fungsi keluarga melalui proses adaptasi dan negosiasi berkelanjutan. Peran istri menjadi lebih kompleks karena menjalankan fungsi domestik, reproduktif, dan emosional, sedangkan suami tetap berperan sebagai pencari nafkah dan otoritas utama. Dengan demikian, keluarga LDM transnasional selama kehamilan bersifat fleksibel dan adaptif.Kata kunci: Kehamilan, Keluarga, Long Distance Marriage (LDM), Struktural Fungsional, Transnasional
Realitas Beban Ganda Perempuan di Balik Fleksibilitas UMKM Digital Rumahan Alma Amelia Qotrunada; Jahra Pitriani; Mochammad Faudzan Arrasyid; Sri Damayanti
Journal Social Society Vol. 6 No. 3 (2026): Juli - September 2026
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/jss.6.3.2026.1329

Abstract

This study examines home-based digital micro, small, and medium enterprises (MSMEs) operated by married women with domestic responsibilities, focusing on the relationship between economic activities, household labor, and household social structures. Using a descriptive qualitative approach, this study involved three married women in Bandung, West Java, who had children and had operated home-based digital businesses for at least six months through platforms such as WhatsApp and Instagram. Data were collected over one month through in-depth interviews, non-participant observation, and documentation, and were analyzed using data reduction, data presentation, conclusion drawing, and verification. The findings show that economic and domestic activities occur simultaneously within the same household space, blurring the boundaries between productive and reproductive work. Although the women contributed to household income, they continued to prioritize domestic responsibilities, indicating the persistence of gender-based divisions of labor within the household. Participation in digital MSMEs also increased women’s workload because business activities were carried out alongside childcare and household tasks. The flexibility offered by home-based digital work was largely illusory, as it related more to work location than to control over time and workload. Theoretically, this study contributes to economic sociology and gender studies by showing how digital economic activities are embedded in household social structures. Practically, the findings suggest that women’s MSME empowerment programs should not only focus on digital marketing and income generation, but also consider domestic workload, family support, and more equitable household role arrangements.
Modal Sosial dalam Adaptasi Ekonomi Pedagang Pasar Tradisional di Era Digital: Tinjauan Sosiologi Ekonomi Ikbal Shihabudin; Khalda Arvia Fredella Indrayana; Hana Rosala Salmia; Sri Damayanti
Journal Social Society Vol. 6 No. 3 (2026): Juli - September 2026
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54065/jss.6.3.2026.1330

Abstract

Urgensi penelitian ini adalah memahami peran modal sosial dalam memperkuat adaptasi ekonomi pedagang pasar tradisional menghadapi transformasi digital. Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar terhadap sistem ekonomi modern, terutama dalam aktivitas perdagangan pasar tradisional yang semakin menghadapi persaingan dari e-commerce dan platform bisnis daring. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran modal sosial dalam mendukung adaptasi ekonomi pedagang pasar tradisional di era digital dari perspektif sosiologi ekonomi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian kepustakaan (library research). Data sekunder dikumpulkan dari sekitar 15–25 publikasi ilmiah yang diterbitkan pada periode 2015–2025, meliputi artikel jurnal, buku akademik, dan laporan penelitian yang membahas modal sosial, pasar tradisional, serta transformasi digital. Pemilihan literatur dilakukan secara purposif berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Pengumpulan data dilakukan melalui prosedur tinjauan literatur sistematis dengan memanfaatkan basis data akademik seperti Google Scholar, ScienceDirect, dan jurnal yang terindeks SINTA. Instrumen penelitian terdiri atas pedoman kajian literatur dan matriks klasifikasi data tematik. Analisis data dilakukan menggunakan teknik deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis tematik melalui tahapan reduksi data, kategorisasi, interpretasi, dan sintesis temuan. Untuk menjaga kredibilitas penelitian, dilakukan triangulasi sumber dan validasi penilaian ahli (expert judgment) menggunakan skala Likert yang menghasilkan skor validitas dengan kategori “sangat baik” (81–100%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial memiliki peran multidimensional melalui empat dimensi yang saling berkaitan, yaitu jaringan sosial, kepercayaan, norma sosial, dan adaptasi digital. Jaringan sosial memberikan akses terhadap sumber daya ekonomi dan informasi, kepercayaan meningkatkan stabilitas transaksi, norma sosial mempertahankan kohesi sosial, sedangkan adaptasi digital memperkuat hubungan sosial yang telah ada, bukan menggantikannya. Penelitian ini mengimplikasikan bahwa kebijakan digitalisasi pasar tradisional seharusnya tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, tetapi juga memperkuat hubungan sosial dan nilai-nilai kolektif masyarakat. Kesimpulannya, adaptasi ekonomi pedagang pasar tradisional tetap melekat dalam struktur sosial yang lebih luas. Urgensi penelitian ini adalah memahami peran modal sosial dalam memperkuat adaptasi ekonomi pedagang pasar tradisional menghadapi transformasi digital. Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar terhadap sistem ekonomi modern, terutama dalam aktivitas perdagangan pasar tradisional yang semakin menghadapi persaingan dari e-commerce dan platform bisnis daring. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran modal sosial dalam mendukung adaptasi ekonomi pedagang pasar tradisional di era digital dari perspektif sosiologi ekonomi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian kepustakaan (library research). Data sekunder dikumpulkan dari sekitar 15–25 publikasi ilmiah yang diterbitkan pada periode 2015–2025, meliputi artikel jurnal, buku akademik, dan laporan penelitian yang membahas modal sosial, pasar tradisional, serta transformasi digital. Pemilihan literatur dilakukan secara purposif berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Pengumpulan data dilakukan melalui prosedur tinjauan literatur sistematis dengan memanfaatkan basis data akademik seperti Google Scholar, ScienceDirect, dan jurnal yang terindeks SINTA. Instrumen penelitian terdiri atas pedoman kajian literatur dan matriks klasifikasi data tematik. Analisis data dilakukan menggunakan teknik deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis tematik melalui tahapan reduksi data, kategorisasi, interpretasi, dan sintesis temuan. Untuk menjaga kredibilitas penelitian, dilakukan triangulasi sumber dan validasi penilaian ahli (expert judgment) menggunakan skala Likert yang menghasilkan skor validitas dengan kategori “sangat baik” (81–100%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal sosial memiliki peran multidimensional melalui empat dimensi yang saling berkaitan, yaitu jaringan sosial, kepercayaan, norma sosial, dan adaptasi digital. Jaringan sosial memberikan akses terhadap sumber daya ekonomi dan informasi, kepercayaan meningkatkan stabilitas transaksi, norma sosial mempertahankan kohesi sosial, sedangkan adaptasi digital memperkuat hubungan sosial yang telah ada, bukan menggantikannya. Penelitian ini mengimplikasikan bahwa kebijakan digitalisasi pasar tradisional seharusnya tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, tetapi juga memperkuat hubungan sosial dan nilai-nilai kolektif masyarakat. Kesimpulannya, adaptasi ekonomi pedagang pasar tradisional tetap melekat dalam struktur sosial yang lebih luas.
No Viral No Justice: Tekanan Media Sosial dan Independensi Peradilan dalam Sistem Hukum Indonesia Ananda Zaidatul Azkiya; Dafa Azharta Sauri; Sri Damayanti
Jurnal Kajian Hukum Dan Kebijakan Publik | E-ISSN : 3031-8882 Vol. 3 No. 1 (2025): Juli - Agustus
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62379/tmgtme16

Abstract

Era digital telah mengubah media sosial menjadi ruang utama diskursus hukum di Indonesia, menciptakan fenomena "No Viral No Justice" di mana keadilan seolah bergantung pada viralitas kasus. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana tekanan media sosial mempengaruhi independensi peradilan dan legitimasi hukum dalam sistem hukum Indonesia. Menggunakan Teori Ruang Publik Habermas sebagai kerangka analisis, penelitian kualitatif deskriptif ini mengkaji mekanisme viralitas dalam kasus hukum, tekanan eksternal terhadap proses peradilan, dan implikasi terhadap legitimasi hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa viralitas bergantung pada narasi emosional, keterlibatan influencer, dan timing daripada urgensi hukum. Tekanan media sosial termanifestasi melalui trial by social media, kampanye hashtag, dan cyberbullying terhadap hakim, mengancam otonomi judisial yang dijamin UUD 1945 Pasal 24 dan UU No. 48 Tahun 2009. Fenomena ini menciptakan paradoks keadilan: upaya mencari keadilan melalui media sosial yang berasal dari ketidakpercayaan terhadap sistem hukum justru semakin menggerus legitimasinya. Penelitian menyimpulkan bahwa ruang publik digital telah bertransformasi dari ideal deliberasi rasional Habermas menjadi ruang pertunjukan di mana dramaturgi emosional menggantikan diskursus substantif, menciptakan kesenjangan keadilan digital dan mendorong populisme punitif yang mengancam rule of law di Indonesia.
Mapping Labor Migration Trends Indonesia-Malaysia: Implications for Labor Markets, Remittances, and Bilateral Policies Sri Damayanti; Yudi Ferdiansyah; Shafira Dita Sasmita
Neo Journal of economy and social humanities Vol 4 No 2 (2025): Neo Journal of Economy and Social Humanities
Publisher : International Publisher (YAPENBI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56403/nejesh.v4i2.262

Abstract

This study analyzes trends in Indonesian labor migration to Malaysia in the last decade, focusing on skill composition, remittance contributions, and policy challenges. The method used is a qualitative approach through literature studies from various official and academic sources. Results show a significant increase in skilled labor migration by 35% since 2015, especially in the technology and health sectors. Real wage differentials between countries are the main driver of migration, with a correlation of 0.8% for every 1% increase in wage differentials. Remittances on average contribute 2.5% to Indonesia's GDP. The study also reveals gaps between policy and factual conditions, especially in the protection of informal workers and women. Using Pierre Bourdieu's theoretical framework, this study emphasizes the importance of social understanding of migration dynamics and the need for more responsive policies.
Rasionalisasi Cinta dan Pergeseran Makna Pernikahan pada Generasi Z di Kota Bandung Riska Meliyana; Siti Halizah; Sri Damayanti
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 4: Juni 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/j-ceki.v5i4.16929

Abstract

Fenomena pernikahan sebagai institusi sosial mengalami perubahan signifikan pada Generasi Z, khususnya di wilayah urban seperti Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rasionalisasi cinta dan pergeseran makna pernikahan pada Generasi Z dalam konteks perkembangan digital dan globalisasi. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriptif, melalui wawancara mendalam terhadap lima informan berusia 18–25 tahun yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z tidak lagi memandang pernikahan sebagai kewajiban sosial, melainkan sebagai pilihan rasional yang didasarkan pada kesiapan finansial, kematangan emosional, dan stabilitas karier. Temuan ini sejalan dengan konsep rasionalisasi Max Weber, di mana tindakan sosial semakin berorientasi pada pertimbangan logis dan efisiensi. Selain itu, pergeseran makna pernikahan juga dapat dijelaskan melalui teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, yang menekankan bahwa realitas sosial dibentuk melalui proses interaksi dan internalisasi nilai. Media sosial turut memperkuat konstruksi ini dengan menghadirkan narasi negatif terkait pernikahan, seperti konflik dan perceraian, yang memunculkan kecemasan dan kecenderungan menunda pernikahan. Dengan demikian, makna pernikahan pada Generasi Z bersifat dinamis, individualistik, dan kontekstual.