Junaeni
Politeknik Arutala Johana Hendarto

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Systematic Literature Review Keparahan dan Jenis Gangguan Suara Pada Pasien dengan Laringitis Akut dan Kronik Junaeni; Hikmatun Sadiah
Jurnal Terapi Wicara Vol 3 No 1 (2025): Jurnal Terapi Wicara (JAWARA)
Publisher : Politeknik Arutala Johana Hendarto [d.h. Akademi Terapi Wicara]

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59898/jawara.v3i1.49

Abstract

Background: Laryngitis, both acute and chronic, represents a major cause of dysphonia that significantly affects vocal function and quality of life. The differentiation of clinical characteristics, severity, and typology between acute and chronic forms remains an important issue in clinical and speech-language pathology research. Objective: This study aimed to comprehensively analyze the literature on the severity and types of voice disorders in patients with acute and chronic laryngitis, as well as their implications for quality of life. Methods: A qualitative synthesis of approximately 200 studies (2015–2025) was conducted using data from SciSpace, PubMed, and Google Scholar. Inclusion criteria comprised studies employing perceptual and acoustic severity measures (GRBAS, DSI, videostroboscopy) and validated quality of life instruments (VHI, V-RQOL). Data were compared across populations, assessment tools, and laryngitis types. Results: Over 30 studies employing perceptual and acoustic tools consistently demonstrated differentiation between acute and chronic laryngitis. Organic dysphonias showed higher objective and subjective severity scores than functional types. Chronic laryngitis was subdivided into catarrhal, hypertrophic, atrophic, and polypoid forms, frequently associated with benign vocal fold lesions such as nodules and polyps. Quality-of-life studies revealed significant impairments in physical, emotional, and social domains, especially among professional voice users and elderly populations. Dysphonia severity correlated with reduced quality of life, greater social anxiety, and depressive symptoms. Conclusion: Acute and chronic laryngitis produce distinct patterns of voice disorder severity and psychosocial burden. Multimodal evaluation integrating clinical, acoustic, and patient-reported outcomes is essential for effective vocal rehabilitation planning. These findings highlight the need for comprehensive and sustained management approaches for individuals with laryngitis-related voice disorders.
Efektivitas Masako Manuver Untuk Meningkatkan Kemampuan Menelan Pasien Disfagia Usia 64 Tahun: Kasus Tunggal Junaeni; Nining Lestari; Fikram Masliandi Anggana
Jurnal Terapi Wicara Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Terapi Wicara (JAWARA)
Publisher : Politeknik Arutala Johana Hendarto [d.h. Akademi Terapi Wicara]

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59898/jawara.v4i1.67

Abstract

Latar belakang: Gangguan menelan bisa terjadi pada orang yang mengalami Limfoma Non-Hodgkin, pengobatan medis yang dilakukan dengan kemoterapi atau radiasi mengakibatkan keringnya air liur (saliva). Mengalami kesulitan untuk menekan bolus menuju fase faringeal. Akibatnya adanya kesulitan untuk mengunyah dan menelan makanan serta mudah tersedak bila makan dalam bentuk solid (biscuit, nasi), makanan dalam bentuk liquid dan semi liquid lebih mudah ditelan dan tidak mengalami tersedak. Terbatasnya makanan yang masuk mengakibatkan asupan makanan kurang memadai mengakibatkan kurang gizi untuk meneruskan kelangsungan hidupnya. Serta makin banyaknya yang menderita gangguan menelan (Disfagi). Tujuan: Penelitian ini bertujuan efektivitas Masako Manuever dalam meningkatkan kemampuan reflek menelan saliva selama 2 detik dengan 3 kali kesempatan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain ekperimen studi kasus tunggal dengan pola single-subject research. Subjek penelitian seorang perempuan usia 64 tahun pasca kemoterapi dan radiasi Limpoma Non-Hodgkin dengan gangguan menelan. Tahap A1(pretes) digunakan untuk mencatat kemampuan menelan saliva selama 2 detik dengan 3 kali kesempatan sebelum intervensi. Tahap B (intervensi) menggunakan Masako Manuever melalui 10 sesi terapi yang terstruktur, dan Tahap A2 (Posttes) dilakukan dengan menghentikan sementara intervensi untuk mengevaluasi perubahan kemampuan kemampuan menelan. Data dikumpulkan secara kuantitatif berupa persentase akurasi kemampuan menelan saliva sesuai target. Hasil: Hasil penelitian didapat adanya peningkatan untuk reflek menelan sebanyak 2 poin setelah dilakukan intervensi sebanyak 10 sesi terapi. Kesimpulan: Temuan ini cukup membuktikan bahwa Masako Manuever cukup efektif digunakan dalam menangani dan menjadi strategi dalam menangani gangguan menelan fase faringeal paska kemoterapi dan radiasi.
Pengaruh Latihan Masako Maneuver pada Peningkatan Fungsi Menelan Pasien Disfagia Pasca-Stroke: Studi Kasus Tunggal Ririn Kusumawati; Jumiarti, A.Md. T.W., S.Pd, M.KM.; Junaeni; Okta Rusmiati
Jurnal Terapi Wicara Vol 4 No 1 (2026): Jurnal Terapi Wicara (JAWARA)
Publisher : Politeknik Arutala Johana Hendarto [d.h. Akademi Terapi Wicara]

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59898/jawara.v4i1.70

Abstract

Latar belakang: Disfagia merupakan kondisi yang memengaruhi proses menelan normal yang menyebabkan kesulitan menelan makanan dan cairan. Kesulitan menelan menjadi kondisi yang sering terjadi dan serius pascastroke karena berisiko menyebabkan terjadinya komplikasi hingga penurunan kualitas hidup. Pemulihan fungsi menelan yang aman dan efisien dapat terhambat karena adanya kelemahan kontraksi otot faring. Studi ini dilatarbelakangi perlunya intervensi klinis dengan menggunakan Masako Maneuver untuk memperkuat kompensasi dinding faring posterior dalam meningkatkan kemampuan inisiasi refleks menelan. Tujuan: Studi kasus ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatkan kecepatan refleks menelan saliva pada pasien disfagia pascastroke melalui pemberian intervensi Masako maneuver. Metode: Penelitian menggunakan desain studi kasus tunggal dengan pendekatan pre-posttest design. subjek seorang pasien disfagia pascastroke yang mengalami keterlambatan refleks menelan. Data diperoleh secara prospektif melalui kegiatan praktikum klinis terstruktur di bawah supervisi klinis. Intervensi dilakukan dengan latihan menggunakan Masako maneuver sebanyak 10 sesi. Hasil: Terdapat peningkatan kecepatan refleks menelan saliva hingga kurang dari 2 detik, meski respon belum stabil dan baru tercapai pada repetisi ketiga di posttest. Perbaikan kemampuan belum tercapai sepenuhnya selama periode intervensi. Hal ini menunjukkan adanya inisiasi motorik yang mulai membaik. Kesimpulan: Masako maneuver memberikan dampak positif terhadap inisiasi refleks menelan saliva, meskipun stabilisasi fungsional belum tercapai sepenuhnya dalam target jangka pendek. Diperlukan intervensi yang lebih intensif untuk mencapai perbaikan kemampuan menelan pada pasien disfagia pascastroke
Gambaran Point of Articulation Bahasa Indonesia Pada Anak Usia Pra-Sekolah Junaeni; Puji Astuti; Stella Rosalina Phandinata
Jurnal Terapi Wicara Vol 2 No 2 (2024): Jurnal Terapi Wicara (JAWARA)
Publisher : Politeknik Arutala Johana Hendarto [d.h. Akademi Terapi Wicara]

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59898/jawara.v2i2.29

Abstract

Latar belakang: Kemampuan artikulasi anak usia prasekolah merupakan indikator penting dalam kemampuan berkomunikasi. Namun penelitian mengenai norma perkembangan bunyi ujaran dalam Bahasa Indonesia masih sangat terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan penguasaan bunyi konsonan berdasarkan penempatan titik artikulasi (POA) pada anak usia 4-7 tahun. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan Kuantitatif-Deskriptif dengan 237 siswa/I prasekolah. Data dikumpulkan melalui metode meniru kata berdasarkan kategori usia. Analisis statistik deskriptif dilakukan dengan menghitung persentase penguasaan setiap bunyi (Percentage of Consonant Correct/PCC). Hasil: Penguasaan konsonan Bilabial dan Velar menunjukkan perkembangan yang lebih cepat, yakni dikuasai pada usia 4 tahun. Di sisi lain, klaster menjadi kelompok bunyi yang paling sulit dimana beberapa bunyi klaster masih belum dikuasai hingga usia 6-7 tahun. Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan variasi kecepatan dalam penguasaan bunyi berdasarkan titik artikulasi. Penelitian ini memberikan data awal untuk pengembangan norma artikulasi di Indonesia.
Penerapan Metode Phonetic Placement pada Disartria Unilateral Upper Motor Neuron: Studi Kasus Tunggal Junaeni; Jumiarti; Fildza Khalisha
Jurnal Terapi Wicara Vol 3 No 2 (2025): Jurnal Terapi Wicara (JAWARA)
Publisher : Politeknik Arutala Johana Hendarto [d.h. Akademi Terapi Wicara]

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59898/jawara.v3i2.62

Abstract

Background: Unilateral Upper Motor Neuron (UUMN) dysarthria is a type of dysarthria characterized by damage to the upper motor neurons, causing articulation disorders as the most dominant symptom. Speech therapy intervention is essential in this condition.Objective: This study aims to determine the effectiveness of the Phonetic Placement method in improving articulation skills in patients with UUMN dysarthria.Methods: This study used a single-subject experimental design with a one-group pretest–posttest approach. The research subject was a 51-year-old woman with a history of UUMN dysarthria. The intervention was conducted over 10 sessions using the Phonetic Placement method, which focused on word-level articulation exercises. Perceptual assessment was conducted to evaluate articulation clarity by comparing abilities before and after therapy.Results: There was no significant change in the ability to produce target phonemes at the word level. Conclusion: The Phonetic Placement method has not shown effectiveness in improving articulation in this case, possibly due to the limited number of therapy sessions. Further research is recommended with more frequent therapy, repetition, and combination with other methods. Keywords: UUMN dysarthria, Articulation, Phonetic Placement.