Khairil Khanim
Universitas Mataram

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IMPLEMENTASI KINDNESS WEEK SEBAGAI PENGUATAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI NUSA ALAM INTERNATIONAL SCHOOL Khairil Khanim; Septhian Aryadi; Mizratul Al Afiatun; Muh. Khalid Hidayaturrizki; Allimun Muslimin; Baiq Mia Hussalwa Cahyani; Miranda Lestari; Sawaludin
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 10 No. 04 (2024): Volume 10 No. 04 Desember 2024 In Build
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v10i04.5210

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi implementasi Kindness Week sebagai penguatan Pendidikan multikultural di Nusa Alam International School. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, melibatkan kepala sekolah, guru, dan siswa sebagai subjek penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi partisipatif, kemudian dianalisis menggunakan metode tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program ini berhasil mengintegrasikan nilai-nilai multikultural dalam kegiatan yang relevan dengan usia siswa, didukung oleh kolaborasi antara kepala sekolah, guru, dan siswa. Program ini dirancang untuk membangun karakter siswa yang empati, toleran, dan peduli melalui kegiatan seperti menulis pesan kebaikan, interaksi dengan lansia, berbagi dengan panti asuhan, dan kunjungan dokter hewan. Meski demikian, beberapa tantangan diidentifikasi, seperti keterbatasan waktu, hambatan bahasa, variasi minat siswa, dan keberlanjutan penerapan nilai. Solusi berupa pendekatan fleksibel, dukungan teknologi, dan evaluasi rutin diterapkan untuk mengatasi kendala tersebut. Secara keseluruhan, program ini berkontribusi positif terhadap pembentukan karakter siswa yang inklusif dan multikultural, sekaligus menjadi model yang dapat diadaptasi oleh sekolah lain untuk memperkuat nilai kebinekaan di Indonesia.
Penguatan Kearifan Lokal (Local Wisdom) dan Watak Kewarganegaraan (Civic Disposition) Melalui Sabtu Budaya di SMP Negeri Se-Kota Mataram Sawaludin Sawaludin; Muh. Zubair; I Nengah Agus Tripayana; Basariah Basariah; Fitriah Artina; Sirrul Auvia; Khairil Khanim
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 4 (2025): November
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i4.4099

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Sabtu Budaya dalam memperkuat kearifan lokal (local wisdom) dan membentuk watak kewarganegaraan (civic disposition) siswa SMP Negeri di Kota Mataram. Urgensi penelitian ini berangkat dari kebutuhan pendidikan di Indonesia untuk mengembangkan pembelajaran yang kontekstual, holistik, dan berakar pada nilai budaya lokal, sekaligus memperkuat karakter kebangsaan di tengah arus globalisasi dan perubahan sosial yang cepat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus (case study design). Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan guru, siswa, dan kepala sekolah, serta dokumentasi kegiatan Sabtu Budaya di beberapa sekolah negeri di Kota Mataram. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles & Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diuji keabsahannya menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sabtu Budaya berfungsi sebagai media pembelajaran kontekstual dan berbasis pengalaman (experiential learning) yang efektif dalam mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal Sasambo ke dalam pendidikan karakter dan kewarganegaraan. Kegiatan seperti begibung, pertunjukan seni, dan permainan tradisional menumbuhkan rasa kebanggaan budaya, kedisiplinan, tanggung jawab sosial, gotong royong, serta toleransi di kalangan siswa. Lebih jauh, praktik ini memperkuat civic disposition melalui keterlibatan aktif dan refleksi sosial budaya yang menumbuhkan sikap partisipatif, empati, dan kesadaran demokratis. Implementasi Sabtu Budaya juga memperlihatkan keterpaduan antara nilai lokal dan visi Global Citizenship Education, di mana siswa belajar menjadi warga global tanpa kehilangan akar budaya lokalnya. Meskipun dihadapkan pada keterbatasan fasilitas dan variasi dukungan kebijakan, kolaborasi antara sekolah, guru, orang tua, dan komunitas budaya mampu menjaga keberlanjutan program. Dengan demikian, Sabtu Budaya menjadi model pembelajaran transformatif yang tidak hanya melestarikan tradisi Sasambo, tetapi juga membentuk generasi muda yang kritis, kreatif, toleran, dan berkarakter Pancasila.