Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Rancangan Program Intervensi Konseling Perilaku bagi Anak Usia Dini Berisiko Disleksia Fonologis dengan Potensi Twice Exceptional (2E) Naufal Irsan Sani Oktalgifari; Nurhayati; Yanti Lisnawati; Imas Diana Aprilia
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 14 No. 3 Agustus (2025): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.2659

Abstract

Pada anak usia dini, disleksia fonologis ditandai oleh hambatan dalam mengenali, membedakan, dan menghubungkan fonem dengan huruf, meskipun tidak terdapat gangguan pada kecerdasan, pendengaran, maupun kualitas pengajaran. Kondisi ini menjadi lebih kompleks pada anak dengan profil Twice Exceptional (2E), yaitu individu dengan potensi kecerdasan tinggi yang disertai hambatan belajar, karena kesulitan fonologis mereka kerap tidak teridentifikasi secara tepat pada tahap perkembangan awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi efektivitas pendekatan konseling perilaku berbasis kekuatan dalam mendukung perkembangan perilaku adaptif dan kesadaran fonologis pada anak usia dini dengan potensi 2E yang berisiko mengalami disleksia fonologis. Penelitian dilakukan terhadap satu subjek, yaitu seorang anak perempuan berusia 3 tahun di Sumedang, yang diidentifikasi memiliki kecenderungan tantrum intens, kesulitan dalam struktur bahasa ekspresif, serta hambatan dalam kesadaran fonologis. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan orang tua, dan konsultasi dengan Laboratorium Ortopedagogik di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) guna memperkuat identifikasi karakteristik disleksia fonologis. Analisis dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui enam tahapan metodologis, yaitu: (1) asesmen awal perilaku dan fungsi fonologis, (2) analisis ABC (Antecedent–Behavior–Consequence), (3) pemberian penguatan positif dan diferensiasi stimulus, (4) shaping perilaku, (5) pelatihan regulasi diri, dan (6) pelibatan orang tua dan guru sebagai co-therapist. Hasil menunjukkan bahwa pendekatan ini efektif dalam meningkatkan perilaku adaptif, keterlibatan akademik awal, dan kemampuan regulasi diri anak. Selain itu, kolaborasi antara rumah dan sekolah terbukti menjadi faktor pendukung penting dalam keberhasilan intervensi. Penelitian ini dibatasi pada analisis efektivitas pendekatan konseling perilaku berbasis kekuatan sebagai strategi pendukung anak usia dini dengan risiko disleksia fonologis dan potensi 2E.
Protection of Children with Special Needs from Gender-Based Sexual Violence Through Family-Based Protection Programs Yanti Lisnawati; Budi Susetyo; Iding Tarsidi; Ahsen Yılmaz; Muhammad Rijaal Qurrota A'yuni
QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama Vol. 18 No. 2 (2026)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Program Pascasarjana IAI Sunan Giri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/qalamuna.v18i2.9286

Abstract

Children with special needs, particularly girls with intellectual disabilities, are at high risk of experiencing gender-based sexual violence due to limitations in communication, understanding of risky situations, and dependence on adults. Despite increasing concerns regarding violence against children with disabilities, studies examining family-based protection integrated with special education interventions remain limited. This study aims to analyze the vulnerability and patterns of gender-based sexual violence experienced by children with intellectual disabilities and to examine the effectiveness of family-based protection programs through Special Programs (Progsus) and Reproductive and Sexual Health Education (PKRS). This study employed a descriptive qualitative approach using a case study design involving a 15-year-old girl with intellectual disabilities at State Special School 02 in Serang City, Indonesia. Informants included parents, teachers, and school personnel involved in the intervention process. Data were collected through gender-based violence assessments, in-depth interviews, observations, program documentation, and assistance records. Data were analyzed thematically using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, with triangulation employed to ensure trustworthiness. The findings revealed that the child experienced moderate levels of sexual violence perpetrated by individuals from her immediate environment. The implementation of Progsus and PKRS through school–family collaboration contributed to psychological recovery and improved self-protection skills, including the ability to recognize private body parts, distinguish safe and unsafe touch, and reject inappropriate treatment. Family involvement also enhanced parental awareness and responsiveness toward potential risks of sexual violence. This study highlights the strategic role of family-based protection programs integrated with adaptive sexuality education in preventing and addressing gender-based sexual violence among children with special needs. The findings provide practical implications for inclusive education policies and child protection programs that are sensitive to disability and gender issues.