Vismaia Nur Fitriani
Universitas Singaperbangsa Karawang

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Principals' Managerial Strategies in Integrating IQ, EQ, and SQ in Islamic Early Childhood Education Astuti Darmiyanti; Vismaia Nur Fitriani
Nidhomul Haq : Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 11 No. 1 (2026): Transformative Islamic education management
Publisher : Prodi Manajemen Pendidikan Islam Universitas KH Chalim Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31538/ndhq.v11i1.353

Abstract

This study aims to examine the managerial strategies of school principals in integrating intellectual intelligence (IQ), emotional intelligence (EQ), and spiritual intelligence (SQ) to optimize the growth and development of early childhood in Islamic early childhood education institutions. The integration of these three dimensions of intelligence is important because early childhood development emphasizes not only cognitive aspects, but also character building, emotional management, and the internalization of spiritual values. This study uses a qualitative, multi-site case study design conducted across three Islamic kindergartens in Karawang Regency. The multi-site design was chosen to obtain a more comprehensive understanding of variations in managerial strategies across institutions. Research data were obtained through questionnaires distributed to school principals and teachers, comprising closed- and open-ended questions to explore managerial planning, implementation, supervision, and evaluation practices in the development of children's holistic intelligence. The data were analyzed descriptively and thematically to identify patterns of managerial strategies applied at each research location. The results showed that principals applied integrative strategies by implementing holistic learning planning, strengthening teacher collaboration, structuring task-sharing, and instilling religious values in daily learning activities. These strategies support the balanced development of children in cognitive, social-emotional, and spiritual aspects. However, this study also found several obstacles, including limited teacher competence, limited learning time, and variations in parental support. This study recommends strengthening teacher professional development, increasing synergy between schools and parents, and strengthening integrative management to improve the quality of Islamic early childhood education.
The Role of Parents in Instilling the Habits of Obligatory Prayer, Reading the Qur'an, and Fasting During Ramadan in 10-Year-Old Children in the Family Environment Albarqi Surosentono; Astuti Darmiyanti; Vismaia Nur Fitriani
Classroom: Journal of Islamic Education Vol. 3 No. 1 (2026)
Publisher : Penerbit Hellow Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61166/classroom.v3i1.55

Abstract

This study aims to analyze the role of parents in instilling the habits of obligatory prayer, reading the Qur'an, and fasting during Ramadan in 10-year-old children within the family environment. The study used a qualitative approach with descriptive methods. Data collection techniques were carried out through interviews, observation, and documentation of parents of 10-year-old children. Data analysis was carried out through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that parents have a very important role in forming children's worship habits through role models, habituation, mentoring, supervision, and motivation. Modeling is done by providing direct examples in carrying out worship, while habituation is done through routine worship implementation in daily life. Assistance is provided when children learn to read the Qur'an and perform worship, while supervision and motivation are carried out to maintain children's consistency in carrying out worship. Worship habits instilled include obligatory prayer, reading the Qur'an, and fasting during Ramadan. The research findings indicate that active parental involvement and a religious family environment are important factors in shaping children's religious character from an early age. Thus, the family has a strategic role in instilling religious values ​​and forming sustainable worship habits in children.
Literature Review: Peran Spiritualitas Dalam Menjaga Kesehatan Mental Mahasiswa Tingkat Akhir Anne Setiawati; Astuti Darmiyanti; Vismaia Nur Fitriani
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 6 (2026): Menulis - Juni
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i6.1172

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara komprehensif peran spiritualitas dalam menjaga kesehatan mental mahasiswa tingkat akhir melalui metode literature review. Kajian ini dilakukan dengan mengidentifikasi dan merangkum berbagai literatur yang relevan menggunakan panduan PRISMA sebagaimana dijelaskan oleh Ferrari (2015), yang menekankan pentingnya strategi pencarian literatur melalui database, penggunaan kata kunci yang tepat, serta penerapan kriteria inklusi dan eksklusi. Proses pencarian artikel dilakukan melalui Google Scholar dengan kata kunci “mahasiswa”, “spiritualitas”, “psikologi”, dan “Indonesia”. Kriteria inklusi mencakup artikel nasional maupun internasional yang berfokus pada spiritualitas, mahasiswa, dan kesehatan mental, dipublikasikan dalam rentang waktu 2021–2026, serta tersedia dalam bentuk teks penuh. Adapun kriteria eksklusi meliputi artikel yang tidak sesuai dengan topik, diterbitkan sebelum tahun 2021, atau tidak tersedia dalam bentuk teks penuh. Tahapan penelitian meliputi kajian tema, penetapan kriteria, pencarian artikel, ekstraksi data, analisis, serta penyusunan hasil dan kesimpulan. Dari sepuluh artikel yang ditargetkan, penelitian ini memperoleh tujuh artikel yang memenuhi kriteria. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa spiritualitas berperan signifikan dalam menjaga kesehatan mental mahasiswa tingkat akhir, khususnya dalam menghadapi tekanan akademik, pengerjaan skripsi, dan tantangan emosional. Praktik spiritual seperti doa, meditasi, dan refleksi diri terbukti memberikan ketenangan batin, meningkatkan resiliensi, serta memperkuat kesejahteraan psikologis. Selain itu, spiritualitas juga berfungsi sebagai strategi koping yang efektif dalam mencegah burnout, mengurangi stres, dan meningkatkan motivasi akademik. Mahasiswa dengan tingkat spiritualitas yang tinggi cenderung memiliki kemampuan lebih baik dalam mengelola emosi, menghadapi hambatan akademik, serta menemukan makna dalam proses pendidikan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Weber & Pargament (2014) yang menegaskan bahwa spiritualitas dapat memengaruhi tinggi rendahnya kesehatan mental, dan dalam perkembangan terbaru justru memberikan kontribusi positif terhadap kesejahteraan sosial, emosional, serta kualitas hidup.
Pembiasaan Keagamaan Di SDN Pasirkamuning 1 Dan Dampaknya Terhadap Perkembangan Religiusitas Anak Elia Nuryatin; Astuti Darmiyanti; Vismaia Nur Fitriani
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1276

Abstract

Pembiasaan keagamaan merupakan metode pendidikan yang bertujuan unuk membentuk karakter religius pada anak sejak usia awal. Studi bermaksud menjelaskan penerapan pembiasaan beragama di SDN Pasirkamuning 1 serta menganalisis efeknya terhadap perkembangan religiusitas anak. Pendekatan yang diterapjan studi ialah kualitatif deskriptif. Guna kumpulkan data dilaksanakan beserta interview guru Pendidikan Agama Islam, observasi, dan pengumpulan dokumen. Temuan mengungkapkan pembiasaan beragama di SDN Pasirkamuning 1 dilaksanakan emlalui kegiatan shalat dhuha berjamaah tiap Jum’at pagi, wajib dilaksanakan seluruh siswa. Aktivitas ini berlajalan baik dan mendapatkan tanggapan yang positif dari siswa. Visinya guna meningkatkan ketakwaan, perilaku yang baik, dan disiplin siswa. Hasil penelitian memperlihatkan adanya perubahan dalam perilaku religius siswa, yang dapat dilihat dari peningkatan kesadaran dalam beribadah, disiplin, dan nilai-nilai iman yang dianut. Bahlan, beberapa siswa melaksanakan shalat dhuha secara mandiri di luar jam sekolah. Meskipun ada tantangan seperti cuaca dan kurangnya disiplin di kalangan siswa, guru terus berinovasi menemukan cara atasi persoalan, kemudian, pembiasaan keagamaan ini memberikan kontribusi positif bagi perkembangan religiusitas serta karakter siswa SD.
Wara' dan Was-was Religius dalam Perspektif Psikologi Agama: Studi Fenomenologis pada Muslim Dewasa Naila Waridatus Sa'adah; Astuti Darmiyanti; Vismaia Nur Fitriani
Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences Vol. 4 No. 3 (2026): Journal of Islamic Psychology and Behavioral Sciences
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/jipbs.v4i3.1923

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika sikap wara’ dan gejala was-was dalam perspektif psikologi agama melalui pengalaman subjektif seorang Muslim dewasa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan catatan lapangan terhadap seorang informan yang menunjukkan kecenderungan kehati-hatian berlebihan dalam persoalan thaharah. Data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola pengalaman religius dan dinamika psikologis yang dialami informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap wara’ terbentuk melalui proses internalisasi nilai-nilai agama yang diperoleh dari pembelajaran fikih, pengalaman religius yang bermakna secara emosional, dan lingkungan sosial yang religius. Kehati-hatian yang awalnya bersifat adaptif kemudian berkembang menjadi gejala was-was religius yang ditandai oleh keraguan berulang mengenai kesucian dan keabsahan ibadah. Gejala tersebut menimbulkan dampak psikologis berupa kecemasan, rasa bersalah, ketakutan berbuat dosa, kelelahan emosional, serta gangguan dalam interaksi sosial. Meskipun demikian, informan menunjukkan kemampuan reflektif dalam membedakan antara wara’ dan was-was serta berupaya mengelola keraguan melalui pendalaman ilmu agama, konsultasi dengan guru agama, dan pengendalian emosi. Penelitian ini menunjukkan bahwa batas antara wara’ dan was-was terletak pada dampak psikologis yang ditimbulkan. Wara’ berfungsi sebagai bentuk kehati-hatian spiritual yang konstruktif, sedangkan was-was dapat berkembang menjadi sumber tekanan psikologis apabila tidak dikelola secara proporsional. Oleh karena itu, keberagamaan yang sehat memerlukan keseimbangan antara kesungguhan menjalankan ajaran agama dan pemeliharaan kesejahteraan psikologis individu.