Studi ini menunjukkan bahwa pemanfaatan getah pinus dalam skema kehutanan sosial di Indonesia memiliki potensi ekonomi yang signifikan bagi masyarakat pedesaan, namun masih dibatasi oleh kelemahan struktural dalam institusi lokal, teknologi produksi, dan akses pasar. Analisis model bisnis yang ada mengungkapkan bahwa teknologi pemanenan yang terbatas, ketergantungan pada satu saluran pemasaran, kapasitas organisasi yang lemah, dan kurangnya diversifikasi produk membatasi daya tawar dan mengurangi nilai tambah ekonomi bagi para penyadap getah. Integrasi Business Model Canvas dan SWOT menempatkan bisnis tersebut dalam kuadran kelemahan-peluang, menunjukkan perlunya analisis perubahan strategi untuk mengatasi keterbatasan internal sambil memanfaatkan peluang pasar yang muncul. Model bisnis berkelanjutan yang menjamin tekanan penguatan institusi masyarakat, peningkatan praktik pemanenan, formalisasi kemitraan, diversifikasi pasar dan proposisi nilai, serta investasi pada produk-produk baru dengan nilai tambah yang lebih tinggi untuk meningkatkan stabilitas pendapatan dan ketahanan bisnis jangka panjang. Temuan ini berkontribusi pada pengetahuan yang berkembang tentang model bisnis berkelanjutan untuk produk hutan non-kayu dalam konteks kehutanan sosial, yang menggambarkan bagaimana strategi integrasi desain model bisnis dan penguatan kelembagaan dapat mendukung hasil triple-bottom-line. Studi ini menggarisbawahi peran diversifikasi pasar, peningkatan kapasitas, dan kolaborasi kelembagaan sebagai pendorong utama untuk meningkatkan daya saing usaha resin berbasis komunitas.