Background: Among adolescent girls, dysmenorrhea and anemia are two common yet under-recognized health problems. Dysmenorrhea, or menstrual pain, affects a significant proportion of adolescent girls worldwide. Adolescent girls commonly face reproductive health issues such as dysmenorrhea and anemia, which significantly impact their academic performance and quality of life. Purpose: To empower adolescents to manage dysmenorrhea and prevent anemia through digital-based health education. Method: The program was conducted in 2026 at SMAN IV Cimahi, targeting adolescent girls who met the inclusion criteria (aged 15-18 years, having a menstrual cycle, and no chronic gynecological diseases). The program population comprised all female students, using a purposive sampling technique to obtain a sample of 139 respondents. Material was delivered through lectures and discussions, as well as through interactive digital audio-visual videos, including mobile applications and social media platforms. Knowledge levels were measured using a 30-item multiple-choice questionnaire covering the mechanisms of dysmenorrhea, non-pharmacological management, an iron-rich diet, and knowledge of menstrual cycle tracking. Qualitative data were coded thematically and triangulated with quantitative results. Results: Demonstrated a significant increase in reproductive health literacy and a better understanding of anemia prevention strategies. Data showed that the average age of respondents was 16.37 years with a standard deviation of ±0.56 years, and the majority of respondents (82) were 16 years old. The average score for respondents' knowledge about dysmenorrhea ranged from 80 to 92 points, and their knowledge about anemia ranged from 89 to 92 points. Conclusion: Educational activities with digital-based interventions proved effective in improving adolescent health literacy, particularly in the areas of dysmenorrhea management and anemia prevention. Furthermore, positive qualitative feedback about the digital format highlighted its relevance and appeal to adolescents, aligning with broader eHealth engagement trends. The synergy between digital education and peer learning, self-monitoring, and institutional support emerged as key factors for the intervention's success. Suggestion: Integration of digital health education with existing school curricula and health promotion programs is needed to ensure consistency and strengthen learning across contexts. It is also hoped that future activities will include education with the ability to adapt interventions to cultural and socioeconomic environments so that they can be more accessible to the community and implemented broadly. Keywords: Adolescent health; Anemia prevention; Digital intervention; Health education Pendahuluan: Di antara remaja perempuan, dismenore dan anemia merupakan dua masalah kesehatan yang paling umum namun kurang mendapat perhatian. Dismenore, atau nyeri menstruasi, memengaruhi sebagian besar remaja perempuan di seluruh dunia. Remaja putri umumnya menghadapi masalah kesehatan reproduksi seperti dismenore dan anemia, yang secara signifikan memengaruhi prestasi akademik dan kualitas hidup mereka. Tujuan: Untuk memberdayakan remaja dalam mengelola dismenore dan mencegah anemia melalui pendidikan kesehatan berbasis digital. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tahun 2026 di SMAN IV Cimahi dengan sasaran remaja putri yang memenuhi kriteria inklusi (usia 15-18 tahun, siklus menstruasi, tidak memiliki penyakit ginekologis kronis). Populasi kegiatan adalah seluruh siswi, dengan menggunakan teknik purposive sampling mendapatkan sampel sebanyak 139 responden. Penyampaian materi dilakukan melalui ceramah dan diskusi, serta menyimak audio visual video berupa digital interaktif, termasuk aplikasi seluler dan platform media sosial. Pengukuran tingkat pengetahuan menggunakan kuesioner berupa 30 soal pilihan ganda yang mencakup mekanisme dismenore, penanganan non-farmakologis, diet kaya zat besi, dan pengetahuan pelacakan siklus menstruasi. Data kualitatif dikodekan secara tematik dan ditriangulasi dengan hasil kuantitatif. Hasil: Menunjukkan peningkatan signifikan dalam literasi kesehatan reproduksi, dan pemahaman yang lebih baik tentang strategi pencegahan anemia. Mendapatkan data bahwa rata-rata usia responden adalah 16.37 tahun dengan standar deviasi ±0.56 tahun dan sebagian besar responden berusia 16 tahun yaitu sebanyak 82 (59.0%). Rata-rata pencapaian skor pengetahuan responden tentang dismenorea berada di rentang 80-92 poin dan skor pengetahuan tentang anemia berada di rentang 89-92 poin. Simpulan: Kegiatan edukasi dengan intervensi berbasis digital terbukti efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan remaja, khususnya dalam bidang manajemen dismenore dan pencegahan anemia. Selain itu, umpan balik kualitatif yang positif tentang format digital menyoroti relevansi dan daya tariknya pada kalangan remaja yang sejalan dengan tren keterlibatan eHealth yang lebih luas. Sinergi antara pendidikan digital dengan pembelajaran sebaya, pemantauan diri, dan dukungan institusional muncul sebagai faktor kunci keberhasilan intervensi. Saran: Perlu dilakukan integrasi bagaimana pendidikan kesehatan digital dapat diintegrasikan dengan kurikulum sekolah dan program promosi kesehatan yang ada untuk memastikan konsistensi dan memperkuat pembelajaran di berbagai konteks. Diharapkan juga pada kegiatan selanjutnya untuk melakukan edukasi dengan kemampuan adaptasi intervensi terhadap lingkungan budaya dan sosial ekonomi sehingga dapat lebih mudah dijangkau oleh masyarakat dalam penerapannya secara luas.