Krisis ekologis global dan meningkatnya polarisasi sosial menuntut pendekatan pengabdian masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada solusi teknis, tetapi juga memperkuat kohesi sosial dan nilai keberlanjutan. Artikel ini bertujuan menganalisis dampak Program Eco Bhinneka sebagai model pengabdian masyarakat berbasis kolaborasi lintas iman dan lingkungan di lima wilayah dampingan: Banjarmasin, Bandung, Jakarta Timur, Jambi, dan Banyumas. Program ini menggunakan pendekatan community-based participatory approach yang mengintegrasikan edukasi lingkungan, aksi kolektif, dan penguatan kepemimpinan perempuan muda. Data dikumpulkan melalui analisis situasi awal, pre-test dan post-test, observasi partisipatif, refleksi peserta, serta monitoring dan evaluasi program. Hasil menunjukkan peningkatan literasi ekologis peserta, perubahan perilaku pro-lingkungan, serta penguatan kohesi sosial lintas iman melalui aksi bersama seperti bank sampah, penghijauan, eco enzyme, budikdamber, dan kampanye digital. Dari perspektif teoretis, program ini mengintegrasikan environmental peacebuilding, faith-based environmentalism, transformative learning, dan ekofeminisme dalam satu praktik pengabdian yang kontekstual dan transformatif. Eco Bhinneka terbukti efektif dalam menghubungkan keberlanjutan ekologis dengan perdamaian sosial serta pemberdayaan perempuan muda. Model ini berpotensi direplikasi sebagai strategi pengabdian masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan dalam konteks multikultural Indonesia. The global ecological crisis and increasing social polarization demand community engagement approaches that move beyond technical solutions and actively strengthen social cohesion and sustainability values. This article analyzes the impact of the Eco Bhinneka Program as a community engagement model based on interfaith collaboration and environmental action across five assisted regions in Indonesia: Banjarmasin, Bandung, East Jakarta, Jambi, and Banyumas. The program adopts a community-based participatory approach that integrates environmental education, collective action, and the empowerment of young women’s leadership. Data were collected through baseline situational analysis, pre- and post-tests, participatory observation, participant reflections, and program monitoring and evaluation. The findings indicate significant improvements in participants’ ecological literacy, pro-environmental behavioral changes, and strengthened interfaith social cohesion through collaborative initiatives such as community waste banks, tree planting, eco-enzyme production, small-scale urban aquaculture (budikdamber), and digital environmental campaigns. Theoretically, the program synthesizes environmental peacebuilding, faith-based environmentalism, transformative learning, and ecofeminism into a contextual and transformative model of community engagement. Eco Bhinneka demonstrates that interfaith environmental collaboration can simultaneously promote ecological sustainability, social peace, and young women’s empowerment. The model holds strong potential for replication as an inclusive and sustainable community engagement strategy in multicultural contexts such as Indonesia.