Bahasa Indonesia: Cerpen Iblīsu Yantaṣiru karya Taufiq Al-Hakim mengisahkan seorang laki-laki saleh yang bertekad menegakkan kebenaran dan melawan kesesatan masyarakat. Akan tetapi, tekadnya akhirnya runtuh akibat godaan hawa nafsu duniawi. Narasinya disusun untuk menggambarkan pergulatan batin antara idealisme agama dan godaan materi, yang mencerminkan konflik moral yang kerap muncul di masyarakat. Alur cerita berkembang dari munculnya masalah dan tujuan sang tokoh utama hingga klimaks, yang mengungkap kegagalan spiritual akibat integritas moral yang lemah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antartokoh dan bentuk-bentuk konflik dalam cerpen tersebut dengan menerapkan teori aktansial dan struktural fungsional AJ Greimas, menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan naratologis. Sumber data utama adalah cerpen Iblīsu Yantaṣiru dan berbagai rujukan relevan. Data dikumpulkan melalui teknik baca, terjemah, dan catat, sedangkan analisisnya mengikuti model Miles dan Huberman: reduksi data, penyajian, dan simpulan. Analisis menunjukkan bahwa Nasik, sosok yang dikenal karena kesalehannya, adalah subjek yang ingin menebang “pohon kesesatan” demi menyelamatkan masyarakat (objek), didorong oleh keimanannya (pengirim) dan dibantu oleh kapak (penolong). Ia terhalang oleh setan dan hawa nafsunya sendiri (rintangan). Dalam kerangka struktur fungsional, Nasik gagal pada tahap transformasi karena motivasinya telah berubah dari niat tulus demi Allah menjadi hawa nafsu duniawi. Akibatnya, tujuan tidak tercapai dan masyarakat tetap dalam keadaan kebingungan.