Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Cardiovascular Disease Risk Score Correlates with Glomerular Filtration Rate in Hemodialysis Patients: A Cross-Sectional Pilot Study Nabil Hajar; Bintang Adhiyoso Wicaksono; Zulfachmi Wahab; Shofa Chasani; Galih Prakasa Adhyatma; Nabila Nuralya Joveazhari; Zeidan Ahmad Fahdalhaq
Journal of Medical Practice and Research Vol 2 No 1 (2026): June: Essentia: Journal of Medical Practice and Research
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/2v7hr182

Abstract

Chronic kidney disease is closely linked to an elevated risk of cardiovascular morbidity and mortality, particularly among patients undergoing hemodialysis. This study aimed to examine the relationship between cardiovascular disease risk scores and renal function using an empirical cross-sectional design. A total of 72 eligible patients receiving hemodialysis were assessed using the World Health Organization Risk Prediction Chart for Southeast Asia Region B to estimate 10-year cardiovascular risk. Renal function was evaluated using the Cockcroft–Gault equation to determine glomerular filtration rate values. Descriptive analysis demonstrated a predominance of high cardiovascular risk categories alongside severely reduced renal function. Inferential analysis using the Spearman rank correlation test revealed a statistically significant inverse relationship between cardiovascular risk score and glomerular filtration rate (r = -0.637; p = 0.000). These findings indicate that higher cardiovascular risk is associated with more severe renal impairment. The results support the integration of cardiovascular risk assessment into routine clinical evaluation of patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis to improve early risk stratification and management strategies.  
Dampak Terapi Lithium Terhadap Perkembangan Neurokognitif Remaja Dengan Gangguan Bipolar: Suatu Tinjauan Sistematis Cyntia Arum Budi Rustiawati; Nabil Hajar; Harits Hammam Adhadi; Durotul Farida
Jurnal Sosial Teknologi Vol. 6 No. 2 (2026): Jurnal Sosial dan Teknologi
Publisher : CV. Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jurnalsostech.v6i2.32724

Abstract

Latar Belakang: Gangguan bipolar merupakan gangguan mood kronis yang sering kali muncul pada masa remaja dan ditandai oleh episode mania, hipomania, serta depresi. Onset pada usia remaja menjadi perhatian khusus dalam perkembangan otak, terutama pada pematangan fungsi eksekutif, memori, perhatian, dan regulasi emosi. Gangguan ini pada usia remaja tidak hanya berdampak pada stabilitas emosional, tetapi juga berpotesi mengganggu perkembangan neurokogitif yang berkelanjutan hingga dewasa. Lithum merupakan terapi lini pertama dalam penatalaksanaan gangguan bipolar termasuk pada populasi remaja. Lithium terbukti efektif menstabilkan suasana hati serta dapat menurunkan risiko kekambuhan dan perilaku bunuh diri. Selain dari efek klinisnya, lithium memiliki sifat neuroprotektif, antara lain melalui peningkatan neurogenesis dan perlindungan terhadap stres oksidatif. Metode: Pencarian literatur dilakukan secara sistematis pada basis data PubMed, Scopus, dan Cochrane Library hingga Desember  2025.Studi yang disertakan meliputi uji klinis, studi observasional, dan data dunia nyata yang menilai penggunaan lithiu pada pasien usia remaja dengan gangguan bipolar. Hasil: Tiga studi dianalisis dalam studi ini. Studi yang ditinjau menunjukkan bahwa penggunaan lithium pada pasien remaja dengan gangguan bipolar tidak menunjukkan bukti konsisten adanya penurunan fungsi neurokognitif global pada remaja dengan gangguan bipolar. Stabilitas fungsi kognitif dan keuntungan selektif pada domain tertentu, seperti kelancaran verbal pada penggunaan jangka panjang lithium, mendukung hipotesis bahwa lithium memiliki efek neuroprotektif. Kesimpulan: Lithium dalam penggunaanya menunjukkan tidak berkaitan dengan penurunan fungsi neurokognitif secara menyeluruh,dan berpotensi memberikan keuntungan kognitif terbatas dalam jangka panjang. Diperlukan uji klinis multicenter berkualitas tinggi untuk memvalidasi temuan ini dan sebagai panduan dalam praktik klinis ke depan.
Hubungan Lama Menderita DM Tipe 2 Dengan Kejadian Polineuropati Pada Pasien DM di RSUD Tugurejo Semarang Anas Aria Rozak; Murwani Yekti; Nabil Hajar
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 7 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v5i7.2603

Abstract

Diabetes melitus (DM) adalah keadaan yang ditandai kemunculan hiperglikemia karena kelainan pada sekresi insulin dan atau kerja insulin. Dalam Riset Dasar Kesehatan 2018 (Riskesdas) menunjukkan prevalensi DM mengalami kenaikan dari 6,9% (2013) menjadi 8,5%. Neuropati diabetik adalah komplikasi yang paling umum dari DM, ditandai dengan disfungsi saraf perifer yang progresif. Terdapat faktor yang melatarbelakangi perkembangan komplikasi neuropati diabetik seperti durasi terkena DM, umur, jenis kelamin dan hiperglikemia. Penelitian studi analitik dengan rancangan case control guna mengetahui hubungan kelompok kasus dan kontrol.  Subjeknya merupakan penderita DM tipe 2 dengan polineuropati dan tanpa polineuropati yang berobat di RSUD Tugurejo Semarang sejak pertama kali didiagnosis. Dalam penelitian ini menggunakan instrumen rekam medis pada penderita DM tipe 2 dengan polineuropati. Sampel penderita DM tipe 2 dengan polineuropati dan penderita DM tipe 2 diambil dengan simple random sampling. Statistik univariat dan bivariat digunakan untuk analisis data penelitian. Jumlah keseluruhan sampel yaitu sebanyak 94 sampel. Dari analisis bivariat yang dilakukan menghasilkan bahwasanya  menunjukkan terdapat hubungan signifikan (p<0,05) lama menderita DM tipe 2 dengan kejadian polineuropati di RSUD Tugurejo Semarang. Terdapat hubungan yang bermakna antara lama menderita DM tipe 2 dengan kejadian polineuropati. Kejadian polineuropati pada pasien DM tipe 2 di RSUD Tugurejo Semarang menurut jenis kelamin didominasi oleh penderita perempuan dan rata-rata usia penderita 60-69 tahun, dengan lama menderita DM > 5 tahun.