Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pendokumentasian Tari Bidu Tais Mutin di Desa Weoe, Kabupaten Malaka Felitciani Dwi Junitha Sanga Tolan; Zaqinah Ahmad; Ummu Aiman; Rizqy Amelia Ramadhaniyah Ahmad; Dian Meilani; Arifin Arifin; Kenedi Kenedi; Ahmad Ishom Pratama Wahab
Jurnal Flobamorata Mengabdi Vol. 3 No. 2 (2025): JURNAL FLOBAMORATA MENGABDI
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51494/jfm.v3i2.3066

Abstract

Abstrak: Pelaksanaan Kegiatan Pengkajian Warisan Budaya Takbenda seni tari Bidu Tais Mutin di Desa Weoe dilakukan dengan maksud menulis dan mendokumentasikan keseluruhan proses pembuatan dari perspektif budaya sehingga dapat dijadikan sebagai materi pembelajaran bagi pelajar, masyarakat ataupun pemerhati budaya, dan juga sebagai salah satu bahan referensi penelitian mahasiswa. Sebagai upaya perlindungan, pelestarian, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan kebudayaan daerah, kegiatan ini penting dilaksanakan karena bagian dari proses untuk penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Adanya laporan kegiatan ini kiranya dapat menjadi bahan evaluasi bagi Bidang Kebudayaan untuk membuat perencanaan, merancang kebijakan guna mewujudkan kemajuan pemajuan kebudayaan daerah Nusa Tenggara Timur yang konstruktif. Tari Bidu Tais mutin mrupakan bentuk luapan kegembiraan masyarakat Desa Weoe dalam meredahkan amarah dari para penjajah Jepang. Penulisan pelaporan kegiatan pendokumentasian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnokoreologi. Metode penulisan secara kualitatif ini bertujuan untuk mendapatkan data sebanyak-banyaknya, kemudian dianalisis dan dideskripsikan, sehingga dapat memberikan gambaran dan pemaparan mengenai sejarah dan bentuk tari Bidu tais Mutin di desa upacara Weoe. Teknik pengumpalan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan studi pustaka. Analisis bentuk tari Bidu Tais mutinmenggunakan konsep Soedarsono tentang bentuk yang saling berkaitan seperti penari, gerak, pola lantai, busana, iringan, waktu dan tempat pertunjukan. Hasil menujukkan bahwa tari Bidu Tais Mutin merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur pada zaman penjajah Jepang dan sebagai suatu pengenang akan sejarah masyarakat Weoe pada waktu itu yang dapat dilihat dari gerak, nyanyian, busana penuh pemaknaan sebagai identitas dari masyarakat Weoe. Abstract: The implementation of the Intangible Cultural Heritage Study Activity for the Bidu Tais Mutin dance in Weoe Village was carried out with the aim of writing and documenting the entire process of creation from a cultural perspective so that it can be used as learning material for students, the community or cultural observers, and also as a reference material for student research. As an effort to protect, preserve, develop, utilize, and foster regional culture, this activity is important to carry out because it is part of the process of determining Indonesia's Intangible Cultural Heritage. The existence of this activity report can hopefully be used as evaluation material for the Cultural Sector to make plans and design policies to realize constructive progress in advancing the culture of the East Nusa Tenggara region. The Bidu Tais Mutin dance represents a joyful outpouring of joy by the people of Weoe Village to defuse the anger of the Japanese invaders. This report on the documentation of this activity uses qualitative research methods with an ethnochoreological approach. This qualitative writing method aims to obtain as much data as possible, then analyze and describe it, so that it can provide an overview and explanation of the history and form of the Bidu Tais Mutin dance in the Weoe ceremonial village. The data collection techniques used were observation, interviews, and literature review. The analysis of the Bidu Tais Mutin dance form uses Soedarsono's concept of interrelated forms such as dancers, movements, floor patterns, costumes, accompaniment, time, and performance venue. The results show that the Bidu Tais Mutin dance is a form of respect for the ancestors during the Japanese colonial era and as a reminder of the history of the Weoe people at that time which can be seen from the movements, songs, and clothing full of meaning as the identity of the Weoe people.
Pendampingan Belajar Konsep Literasi Numerasi Melalui Alat Peraga Papan Berhitung Bagi Siswa Kelas Rendah di SDI Kuanino 2 Kupang Zaqinah Ahmad; Dian Meilani; Felitciani Dwi Junitha Sanga Tolan; Rizqy Amelia Ramadhaniyah Ahmad; Ahmad Ishom Pratama Wahab; Maria Asti Fereira Manek
Jurnal Flobamorata Mengabdi Vol. 4 No. 1 (2026): JURNAL FLOBAMORATA MENGABDI
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51494/jfm.v4i1.3352

Abstract

Abstrak: Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi Alat Peraga Papan Berhitung dalam memvisualisasikan konsep penjumlahan dan pengurangan bagi siswa kelas rendah di SD Kuanino 2 Kupang. Masalah utama yang melatarbelakangi kegiatan pengabdian ini adalah rendahnya pemahaman konsep berhitung dasar akibat pembelajaran matematika yang cenderung abstrak dan konvensional. Kegiatan pengabdian ini menggunakan pendekatan deskriptif yang melibatkan 30 siswa sebagai partisipan. Teknik pengumpulan data berupa wawancara terstruktur dan penyebaran instrumen angket, yang diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber, triangulasi teknik, serta expert judgment. Data kualitatif dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif Miles dan Huberman, sedangkan data kuantitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif persentase. Hasil kegiatan pengabdian secara kualitatif menunjukkan bahwa penggunaan papan berhitung mampu mengubah atmosfer kelas menjadi lebih interaktif, berpusat pada siswa, serta efektif menjembatani fase operasional konkret anak. Sementara itu, analisis kuantitatif memperkuat temuan tersebut dengan perolehan rata-rata akumulasi respons positif siswa mencapai 96%. Indikator visualisasi estetika warna menempati persentase tertinggi (86,7% sangat setuju) dalam mencegah kebosanan belajar. Secara kognitif, media manipulatif ini terbukti mempercepat pemahaman logika operasi hitung dasar dan mereduksi kecemasan matematika anak. Dapat disimpulkan bahwa implementasi Alat Peraga Papan Berhitung sangat efektif meningkatkan minat, keterlibatan aktif, dan pemahaman konsep matematika siswa kelas rendah di SD Kuanino 2 Kupang. Abstract: This community service activity aims to describe the implementation of the Abacus Teaching Aid in visualizing the concepts of addition and subtraction for lower-grade students at SD Kuanino 2 Kupang. The main issue underlying this community service activity is the low level of understanding of basic arithmetic concepts due to mathematics instruction that tends to be abstract and conventional. This community service activity employs a descriptive approach involving 30 students as participants. Data collection techniques included structured interviews and the distribution of questionnaires, whose validity was tested through source triangulation, methodological triangulation, and expert judgment. Qualitative data were analyzed using Miles and Huberman’s interactive analysis technique, while quantitative data were analyzed using descriptive percentage statistics. The qualitative results of the community service activity indicate that the use of an abacus board can transform the classroom atmosphere into a more interactive, student-centered environment and effectively bridge children’s concrete operational stage. Meanwhile, the quantitative analysis reinforces these findings, with the average cumulative percentage of positive student responses reaching 96%. The aesthetic color visualization indicator had the highest percentage (86.7% strongly agreed) in preventing learning boredom. Cognitively, this manipulative medium was proven to accelerate the understanding of basic arithmetic operations and reduce children’s math anxiety. It can be concluded that the use of the Abacus Teaching Aid is highly effective in increasing the interest, active engagement, and understanding of mathematical concepts among lower-grade students at Kuanino 2 Elementary School in Kupang.
Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Based Learning (IBL) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar Elmannia F Mali; Maria Sergia F Nana; Ahmad Ishom Pratama Wahab
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.600

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa penerapan model pembelajaran inquiry based learning (IBL). Subyek peneltian adalah semua peserta didik kelas IV SD Katolik Bokos yang terdiri dari 28 orang peserta didik. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan observasi. Analisis data menggunakan statistik deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data penelitian, disimpulkan adanya peningkatan hasil belajar peserta didik melalui penerapan model pembelajaran Inquiry Based Learning di kelas IV SD Katolik Bokos. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan presentase ketuntasan hasil belajar pada setiap siklus. Dilihat dari presentase dari tahap siklus I pertemuan I presentase ketuntasan 29,% dan pertemuan II 54% dengan rata-rata kelas 42%. Kemudian presentase ketuntasan pada siklus II pertemuan I 82% dan pertemuan II 96% dengan rata-rata kelas 89%. Sedangkan untuk aktivitas guru dan peserta didik juga mengalami peningkatan dilihat dari hasil aktivitas guru siklus I pertemuan I yaitu 72% dan aktivitas guru siklus I pertemuan II yaitu 76% dengaan rata-rata 74%, sedangkan aktivitas peserta didik siklus I pertemuan I yaitu 73% dan siklus I pertemuan II mencapai 75% dengan rata-rata 74%. Kemudian pada siklus II pertemuan I aktivitas guru mencapai 88% dan siklus II pertemuan II mencapai 93% dengan rata-rata 91%, aktivitas siswa siklus II pertemuan I mencapai 86%. Siklus II pertemuan II aktivitas peserta didik mencapai 91% dengan rata-rata 89%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Inquiry Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.