Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Rebranding “Loosewood” sebagai Brand yang Mengolah Limbah Kayu Papan Seluncur menjadi Jam Tangan Kayu yang Unik Michelle Caroline Kerdijk; Sandy Rismantojo; Saskia Putri Agustine
Design Spectrum Vol 1 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/ds.v1i1.12894

Abstract

Skateboarding merupakan olahraga ekstrim, disebut demikian karena dalam pelaksanaannya, tak jarang terjadi benturan keras antara papan kayu seluncur dengan beton-beton karena berbagai macam trik yang dilakukan, melalui benturan-benturan tersebut, papan seluncur seringkali berakhir aus ataupun rapuh, sehingga membahayakan skaters. Demi keselamatan skaters, tak jarang papan-papan seluncur yang sudah tidak layak pakai cenderung ditumpuk dan dibuang tanpa dialokasikan lagi, hal ini menambah angka statistik limbah kayu yang signifikan, sehingga memiliki dampak yang negatif terhadap lingkungan. Dalam menanggulangi permasalahan diatas, Loosewood hadir sebagai brand yang mengolah limbah papan seluncur menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis, yakni jam tangan kayu. Namun, setelah dilakukan wawancara dengan beberapa pihak terkait, dapat disimpulkan bahwa brand ini belum melakukan eksekusi branding yang lebih matang, sehingga visi dan misi Loosewood untuk memberi pengaruh positif terhadap pengolahan limbah kayu bisa dibilang belum maksimal. Melalui ilmu desain komunikasi visual, strategi rebranding guna memaksimalkan visi dan misi brand Loosewood, serta membantu brand mengkomunikasikan pesan brand kepada target market yaitu generasi Y dan Z akan dirancang. Semua perancangan ini diharapkan dapat membantu lingkungan, pengenalan kembali, serta meningkatkan brand value dari Loosewood.
Perancangan kampanye edukasi digital mengenai resistensi antibiotik untuk kalangan remaja akhir Natania Devina Santoso; R.A. Dita Saraswati Priono Putri; Saskia Putri Agustine
Design Spectrum Vol 2 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/ds.v2i1.16055

Abstract

Antibiotic resistance is a global health threat driven by irrational antibiotic use. Although various health campaigns have been conducted, visual communication media on antibiotic resistance tailored to the characteristics of late adolescents remain limited. Yet, this age group has a high prevalence of self-medication and low antibiotic literacy. This design study aims to increase the knowledge and awareness of late adolescents aged 18–25 years living in urban areas of Java regarding the dangers of antibiotic resistance, thereby encouraging rational antibiotic use. The methods employed included structured interviews with pharmacists and late adolescents, focus group discussions, an online questionnaire involving 100 respondents, and a literature review. The collected data were analyzed to identify the target audience's information needs and media preferences. The findings indicate that low antibiotic literacy among late adolescents is primarily caused by limited understanding of the risks associated with antibiotic misuse and the widespread practice of irrational self-medication. In addition, existing educational media do not adequately reflect the characteristics of late adolescents, as conventional medical information is often perceived as rigid, one-way, and insufficiently persuasive. Based on these findings, a Visual Communication Design-based educational campaign was developed using an informative, interactive, modern, friendly, and bold approach. The campaign utilizes a website, Instagram, online advertisements, table tents, and an exhibition booth as its primary media. Its communication strategy is based on the Health Belief Model (HBM) and the AISAS framework. This campaign is expected to present information on antibiotic resistance in a manner that is more accessible and relevant to late adolescents, thereby encouraging more responsible antibiotic use. Furthermore, this design contributes to the development of Visual Communication Design, particularly in the fields of health visual communication and educational media design.
Pemberdayaan Perempuan Warga Binaan melalui Pendampingan Teknik Sashiko untuk Pengembangan Produk Hijab Kreatif Dewi Isma Aryani; Ucik Ana Fardila; Ida Ida; Miki Tjandra; Isabella Isthipraya Andreas; Dian Pratiwi Pribadi; Indra Janty Tan; Saskia Putri Agustine
Abdimas Galuh Vol 8, No 2 (2026): September 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ag.v8i2.26686

Abstract

Pemberdayaan perempuan warga binaan perlu diarahkan tidak hanya pada pembinaan selama berada di lembaga pemasyarakatan, tetapi juga pada pengembangan keterampilan yang dapat menjadi modal produktif setelah masa pembinaan berakhir. Salah satu keterampilan yang berpotensi dikembangkan adalah teknik sashiko yang dapat diaplikasikan pada produk tekstil dan dikembangkan menjadi produk kreatif bernilai ekonomi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perempuan warga binaan melalui pendampingan teknik sashiko untuk pengembangan produk hijab kreatif serta mengidentifikasi potensi keberlanjutan keterampilan tersebut. Kegiatan dilaksanakan di Lapas Kelas IIA Kediri, Lapas Perempuan Kelas IIA Malang, dan Lapas Kelas IIA Tulungagung dengan melibatkan 92 perempuan warga binaan. Metode kegiatan meliputi persiapan, penyampaian materi, demonstrasi, praktik teknik sashiko, pendampingan, dan evaluasi. Evaluasi pengetahuan dilakukan melalui pretest dan posttest yang dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test, sedangkan respons peserta dievaluasi melalui kuesioner kepuasan dan persepsi keberlanjutan usaha. Hasil menunjukkan bahwa seluruh peserta belum mengetahui maupun pernah mempraktikkan teknik sashiko sebelum kegiatan. Sebanyak 30 peserta mengalami peningkatan skor pengetahuan, 62 peserta memiliki skor yang sama, dan tidak terdapat peserta yang mengalami penurunan skor. Uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan sebelum dan sesudah kegiatan (Z = −4,949; p < 0,001). Evaluasi kepuasan menunjukkan 17,4% peserta sangat puas dan 82,6% puas. Seluruh peserta juga menilai keterampilan yang diperoleh dapat dilanjutkan untuk pengembangan usaha. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendampingan teknik sashiko berpotensi menjadi salah satu bentuk pemberdayaan keterampilan kreatif bagi perempuan warga binaan yang dapat dikembangkan melalui pelatihan lanjutan, penguatan kualitas produk, kewirausahaan, dan pemasaran.