p-Index From 2021 - 2026
1.323
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Borneo Nursing Journal
Ririn Wahyu Hidayati
Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Efektivitas Edukasi SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) Dalam Meningkatkan Pengetahuan Dan Sikap Pada Siswi Di SMP Muhammadiyah Imogiri Rhani Rosalina; Belian Anugrah Estri; Ririn Wahyu Hidayati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.148

Abstract

Kanker payudara adalah kondisi dimana sel-sel dalam jaringan payudara mengalami pertumbuhan abnormal dan berubah menjadi sel-sel ganas. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) adalah cara terbaik untuk mendeteksi kanker payudara pada tahap awal. Di sisi lain, pendidikan kesehatan berperan sebagai sarana pembelajaran untuk meningkatkan wawasan dan keterampilan remaja putri dalam menjaga kesehatan diri mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa efektif metode SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja putri. Penelitian ini menggunakan Pre-Eksperimental Design dengan desain One Group Pre test dan Post test Design. Metode sampling non-probability dengan total sampling dan jumlah total responden adalah 77 orang. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon. Hasil penelitian diperoleh nilai pengetahuan sebagian besar pengetahuan responden sebelum diberikan intervensi yaitu dalam kategori cukup (54.5%). Sedangkan sebagian besar pengetahuan setelah diberikan intervensi yaitu dalam kategori baik (92,2%). Nilai sikap Sebagian besar sikap responden sebelum diberikan intervensi yaitu dalam kategori negative (50,8%), sedangkan setelah diberikan intervensi sikap responden sebagian besar dalam ketegori baik yakni (75,3). Hasil Uji Wilcoxon pada variable pengetahuan diperoleh p value = 0,001 < 0,05. Sedangkan pada variabel sikap didapatkan hasil P value = 0,002 yang berarti hipotesis nol (Ho) ditolak sehingga edukasi kesehatan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap pada remaja putri. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada siswi untuk menerapkan SADARI rutin bulanan dan perlunya kolaborasi dengan puskesmas untuk edukasi kesehatan reproduksi yang komprehensif. Selain itu, bagi peneliti selanjutnya diharapkan mengkaji faktor lain pencegahan kanker payudara seperti kebiasaan hidup dan riwayat keluarga.
Tumbuh Kembang Balita Stunting Di Desa Butuh Wilayah Kerja Puskesmas Kalikajar II Wonosobo Regita Rizqiana Rifaningtyas; Belian Anugrah Estri; Ririn Wahyu Hidayati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.167

Abstract

Stunting masih menjadi masalah global yang serius terutama dinegara berkembang seperti Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tumbuh kembang balita stunting di Desa Butuh, yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Kalikajar II, Wonosobo. Menggunakan metode kuantitatif deskriptif, penelitian ini melibatkan 35 sampel berdasarkan minimum sampel sampel kuantitatif dan ditambahan 16% atau sebanyak 5 sampel balita stunting untuk menghindari dropout, yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi tertentu. Data yang diperoleh dari identitas balita, antropometri, dan penilaian perkembangan melalui skrining Denver II, diolah melalui editing dan analisis univariat. Hasil menunjukkan bahwa 80% balita stunting memiliki perkembangan yang normal, sedangkan 20% berstatus suspect. Sebagian besar balita tergolong pendek (85,7%) dengan berat badan normal (77,1%). Karakteristik demografis menunjukkan mayoritas tinggal dengan keluarga besar (57,1%), jenis kelamin terbanyak perempuan (51,4%), diasuh orang tua (68,6%), usia ibu <30 tahun (62,9%), paritas ibu dengan multipara (51,4%) dengan pendidikan ibu terbanyak mencapai SMA (57,1%) dalam kelompok pendapatan <UMK (Upah Minimum Kota) (100%). Meskipun memiliki kondisi yang serupa yaitu stunting, ditemukan tidak semua balita mengalami keterlambatan perkembangan, beberapa faktor yang mendukung perkembangan balita stunting yaitu pola asuh dan stimulasi yang diberikan orangtua maupun lingkungan sekitarnya.
Hubungan Asupan Makan Dengan Kejadian Kekurangan Energi Kronis (KEK) Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Prambanan Kabupaten Sleman Ria Munica; Ririn Wahyu Hidayati; Kurnia Mar’atus Solichah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.234

Abstract

Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada ibu hamil merupakan masalah gizi yang berdampak serius terhadap kesehatan ibu dan janin, serta berkontribusi terhadap kejadian stunting sejak masa kehamilan. Menurut Survey Kesehatan Indonesia (SKI) yang dilakukan pada tahun 2023 terungkap bahwa prevalensi KEK ibu hamil mencapai 16,9%, prevalensi ini masih melebihi target nasional (<10%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara asupan energi, protein, karbohidrat, dan lemak dengan KEK pada ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Prambanan Kabupaten Sleman. Penelitian ini merupakan penelitian sekunder dengan populasi sebanyak 345 ibu hamil yang tercatat di Puskesmas Prambanan. Dari populasi tersebut, diambil sampel sebanyak 61 orang ibu hamil yang dipilih menggunakan teknik Simple Random Sampling dengan bantuan aplikasi Spin Wheel (Random Name Picker). Data mengenai status KEK dan asupan makan diperoleh dari rekap konsultasi gizi di Puskesmas Prambanan. Selanjutnya, data yang telah dikumpulkan dianalisis menggunakan uji Fisher Exact untuk mengetahui hubungan antara asupan makan dan kejadian KEK. Hasil uji hubungan yang menggunakan Fisher Exact menunjukkan prevalensi KEK sebesar 18,03%. Sebagian besar responden memiliki asupan energi, protein, karbohidrat, dan lemak yang kurang. Namun, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara keempat jenis asupan tersebut dengan kejadian KEK (p > 0,05).
Hubungan Karakteristik Ibu Dengan Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif Di Puskesmas Sleman Yogyakarta Tasya Putri Handayani; Fayakun Nur Rohmah; Ririn Wahyu Hidayati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.240

Abstract

Air Susu Ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan merupakan asupan optimal bagi bayi yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan, perkembangan, dan perlindungan terhadap infeksi. Meskipun Kabupaten Sleman mencatat cakupan ASI eksklusif tertinggi di Provinsi DIY, masih ditemukan ibu yang belum berhasil memberikan ASI secara eksklusif. Karakteristik ibu seperti usia, tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan paritas diduga berpengaruh terhadap keberhasilan tersebut. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel sebanyak 266 ibu menyusui yang memiliki bayi usia 6–12 bulan diambil secara random sampling dari total populasi 794 ibu menyusui di Puskesmas Sleman. Data sekunder diperoleh dari rekam medis dan dianalisis menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi p<0,05. Mayoritas responden berada pada kelompok usia 20–35 tahun (60,9%), berpendidikan tinggi (62,8%), tidak bekerja (60,5%), dan memiliki anak 2–4 (75,9%). Sebanyak 61,3% ibu berhasil memberikan ASI eksklusif. Hasil uji bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara usia (p=0,000), pendidikan (p=0,000), pekerjaan (p=0,000), dan paritas (p=0,000) dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik ibu (usia, pendidikan, pekerjaan, dan paritas) dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Sleman Yogyakarta. Upaya intervensi perlu difokuskan pada kelompok ibu dengan karakteristik tidak ideal melalui edukasi, pendampingan, dan dukungan lingkungan.
Hubungan Pola Pemberian Makan Dengan Kejadian Stunting Pada Anak Usia 24-59 Bulan Di Puskesmas Kalibawang Kabupaten Kulon Progo Nurjannah Hasibuan; Ririn Wahyu Hidayati; Suyani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.253

Abstract

Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang terjadi pada anak balita dan dapat berdampak buruk terhadap perkembangan kognitif, fisik, serta produktivitas di masa depan. Prevalensi kejadian stunting di dunia mencapai 26,7% pada tahun 2020. Asia sebesar 33%, dengan kawasan tertinggi di Asia Selatan (WHO, 2022). Pola pemberian makan yang tidak sesuai, baik dari segi jenis, jumlah, maupun jadwal makan, menjadi salah satu faktor utama penyebab stunting. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai Hubungan pola pemberian makan dengan kejadian stunting pada anak usia 24–59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kalibawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi case control. Jumlah populasi balita usia 24-59 bulan dipuskesmas kalibawang sebanyak 849 balita dan jumlah sampel sebanyak 124 responden, terdiri dari 62 kelompok kasus yang diambil secara purposif sampling, dan 62 kelompok kontrol yang diambil dengan accidental sampling. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data primer yang diperoleh dari hasil  pengeisian kuesioner pola pemberian makan serta pengukuran tinggi badan anak dengan microtois. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola pemberian makan dengan kejadian stunting pada anak usia 24–59 bulan dengan p = 0,000. Intervensi dan edukasi kepada ibu mengenai pemberian makan yang tepat sangat diperlukan dalam upaya pencegahan stunting.
Pengaruh Peer Group Terhadap Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Siswi Tentang Kehamilan Tidak Diinginkan Di SMA N 2 Banguntapan Bantul Putri Ratna Sari Dewi; Belian Anugrah Estri; Ririn Wahyu Hidayati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.258

Abstract

Kehamilan pada usia remaja dipandang sebagai isu kesehatan yang membutuhkan perhatian lebih dikarenakan kelompok usia ini masih tergolong rentan dalam menjalani proses kehamilan serta persalinan. Aktivitas seksual pada remaja dapat menimbulkan berbagai permasalahan kesehatan, di antaranya kehamilan yang tidak diinginkan, komplikasi saat kehamilan dan persalinan seperti anemia, ruptur membran preterm, infeksi saluran kemih, penyakit menular seksual, HIV/AIDS, serta efek psikis berupa ibu depresi, stres, hingga putus sekolah. Penelitian ini diarahkan guna mengidentifikasi pengaruh peer group pada tingkat pengetahuan serta sikap siswi mengenai kehamilan yang tidak diinginkan di SMA N 2 Banguntapan Bantul. Metode kuantitatif digunakan dengan rancangan Quasi Experiment Design melalui pendekatan two group (kelompok perlakuan atau intervensi dan kontrol) dengan desain pre-test dan post-test control group. Responden sebanyak 70 orang dipilih dengan teknik Proportioned Stratified Random Sampling dan dikelompokkan menjadi dua yakni kelompok perlakuan serta kelompok kontrol. Instrumen berupa kuesioner dipergunakan untuk mengukur pengetahuan dan sikap. Kelayakan etik penelitian diperoleh melalui surat keputusan nomor 2090/KEP-UNISA/III/2025. Dilakukan uji mann whitney dan menghasilkan angka 0,025 menjadi nilai P Value yang dimiliki variabel pengetahuan sementara angka 0,035 menjadi nilai P Value yang dimiliki variabel sikap, yang artinya kedua variabel <0,05. Temuan ini mengindikasikan bahwasanya pengetahuan dan sikap siswi terkait kehamilan tidak diinginkan di SMA N 2 Banguntapan Bantul dipengaruhi signifikan oleh kelompok sebaya. Simpulan pada penelitian ini bahwa strategi efektif dalam meningkatkan tingkat pengetahuan dan sikap remaja mengenai kesehatan reproduksi salah satunya yakni pengaruh peer group berbasis kelompok teman sebaya. Tambahan informasi serupa dapat dilakukan dengan cara kolaborasi pada puskesmas.
Hubungan Keterpaparan Iklan Makanan Junk Food Terhadap Status Gizi Siswa SMP Negeri 1 Godean Sleman Ina Istiqlal Yati Tokan; Ririn Wahyu Hidayati; Ibtidau Niamilah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.314

Abstract

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, obesitas pada remaja usia 13-15 tahun sebesar 41%. Masalah status gizi seperti obesitas pada remaja semakin meningkat yang dipengaruhi oleh konsumsi makanan tinggi kalori rendah nutrisi atau junk food. Paparan iklan yang mudah diakses melalui media sosial memicu peningkatan konsusmi makanan yang tidak sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keterpaparan iklan makanan junk food terhadap status gizi siswa/siswi SMP Negeri 1 Godean. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitic dengan desain cross sectional. Jumlah populasi adalah 382 siswa dengan teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling sehingga diperoleh jumlah responden 42 siswa. Data keterpaparan iklan makanan junk food diperoleh melalui pengisian kuesioner, data status gizi diperoleh melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan kemudian dihitung menggunakan WHO Antroplus. Analisis data keterpaparan iklan terhadap status gizi menggunakan uji Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara keterpaparan iklan makanan junk food terhadap status gizi dan niai korelasi negative atau tidak searah yang menggambarkan hubungan yang lemah (r = -0,1248; p = 0,4311). Sehingga disarankan untuk siswa/siswi agar dapat memilah iklan-iklan makanan yang dilihat dan tetap mempertahankan pola makan yang sehat saat ini.
Hubungan Tingkat Stress Dengan Praktik Pemberian ASI Eksklusif Pada Ibu Menyusui Di Wilayah Kerja Puskesmas Gamping 1 Sleman Saskia Felisha Zahrani; Ririn Wahyu Hidayati; Siti Fadhilatun Nashriyah
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.323

Abstract

ASI (Air Susu Ibu) Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, tanpa menambahkan dan atau mengganti dengan makanan atau minuman lain. Bayi yang tidak menerima ASI eksklusif dapat mengalami dampak negatif terhadap kesehatannya, salah satu risiko yang dapat timbul adalah stunting. Jika bayi tidak memperoleh asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhannya, maka mereka berisiko mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan di masa mendatang. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan tingkat stress pada ibu menyusui dengan praktik pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Gamping 1. Pengambilan data ini menggunakan rancangan penelitian cross sectional, yaitu metode penelitian observasional. Populasi pada penelitian ini merupakan ibu menyusui dengan bayi usia 6 – 7 bulan yang berdomisili di wilayah Kerja Puskesmas Gamping 1. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel Purposive Sampling (Sampel bertujuan) dan didapatkan 65 sampel. Pada penelitian ini, instrument yang dugunakan untuk mengukur tingkat stress pada ibu menyusui yaitu kuesioner Perceived Stress Scale (PSS). Selain itu, instrument yang digunakan pada penelitian ini yaitu kuesioner ASI eksklusif. Analisis uji hubungan tingkat stress pada ibu menyusui dengan praktik pemberian ASI eksklusif pada penelitian ini menggunakan analisis chi-square. ibu yang memberikan ASI eksklusif memiliki tingkat stress yang normal (80%) dan tingkat stress ringan (47,83%). Sementara mayoritas ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif memiliki tingkat stress berat (72%) dan tingkat stress cukup berat (85,71%). Uji statistik menggunakan uji Fisher’s Exact menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat stress dengan praktik pemberian ASI eksklusif dengan nilai p-value = 0,015.
Hubungan Pengetahuan Gizi Dan Kebiasaan Makan Terhadap Anemia Pada Remaja Putri Di SMP Negeri 1 Godean Indah Sari Kurnia; Siti Fadhilatun Nashriyah; Ririn Wahyu Hidayati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.361

Abstract

Berdasarkan Dinas Kesehatan DI Yogyakarta prevalensi anemia pada remaja putri sebesar 48,9% di tahun 2018 (Profil Kesehatan Kota Yogyakarta, 2022). Prevalensi anemia remaja putri di Kabupaten Sleman dari tahun 2022 sebesar 12,60% meningkat menjadi 22,86% pada tahun 2023. Secara umum, anemia pada remaja putri dapat berdampak buruk pada pertumbuhan dan perkembangan organ reproduksi. Pengetahuan sebagai salah satu yang dapat membantu remaja dalam menciptakan kebiasaan makan yang sehat. Remaja yang memiliki pemahaman pengetahuan yang baik terkait anemia akan membentuk kebiasaan makan yang sehat sehingga dapat mengurangi anemia. Salah satu faktor resiko penyebab anemia meliputi kekurangan zat gizi (vitamin A, vitamin B12, folat dan zat besi), perdarahan, peradangan kronis, infeksi parasit dan kondisi bawaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan gizi dan kebiasaan makan terhadap anemia pada remaja putri di SMP Negeri 1 Godean. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross-sectional. Variabel independen dalam penelitian ini yaitu Pengetahuan gizi dan kebiasaan makan, sedangkan variabel dependen anemia. Sampel penelitian sebanyak 30 responden dengan teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Instrument yang digunakan berupa kuesioner pengetahuan gizi terkait anemia dan kuesioner kebiasaan makan yang berisikan jenis, jumlah dan frekuensi makan serta alat GCU Hb untuk mendeteksi kadar Hb. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji Fisher’s Exact. Berdasarkan hasil menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan gizi dengan kejadian anemia (p=1,000) dan juga menunjukkan bahwa kebiasaan makan tidak ada hubungan secara signifikan dengan kejadian anemia (p=0,165).