M. Zul’Irfan
Institut Kesehatan Payung Negeri Pekanbaru

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan Persepsi Risiko Komplikasi Dengan Kepatuhan Pengobatan Pada Pasien Tuberkulosis Paru Di Puskesmas Pekanbaru Kota Bintang Zahara; M. Zul’irfan; Sri Yanti; Emul Yani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.591

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi perhatian global dan nasional. Rendahnya kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan dapat meningkatkan risiko komplikasi dan kegagalan terapi. Persepsi pasien terhadap risiko komplikasi diduga berperan dalam mempengaruhi kepatuhan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persepsi risiko komplikasi dengan kepatuhan pengobatan pada pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Pekanbaru Kota. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional menggunakan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari–Februari 2026 dengan jumlah sampel sebanyak 52 responden yang dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner persepsi risiko komplikasi TB yang terdiri dari 8 item pernyataan dan telah diuji validitas serta reliabilitas pada 15 responden. Hasil uji validitas menunjukkan seluruh item memiliki nilai r hitung lebih besar dari r tabel (0,514) dan hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,948. Kepatuhan pengobatan diukur menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki persepsi risiko komplikasi TB kategori tinggi sebanyak 29 responden (55,8%) dan kepatuhan pengobatan kategori rendah sebanyak 21 responden (40,4%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi risiko komplikasi TB dengan kepatuhan pengobatan pada pasien TB paru dengan nilai p = 0,002 (p < 0,05). Penelitian ini merekomendasikan kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan edukasi mengenai risiko komplikasi TB guna meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.
Analisis Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Masyarakat Tentang Pertolongan Pertama Pada Choking Di Wilayah Kerja Puskesmas Simpang Baru Kota Pekanbaru Maysa Febrianda; M. Zul’Irfan; Wardah Wardah; Dendy Kharisna
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.649

Abstract

Kondisi kegawatdaruratan merupakan situasi yang mengancam nyawa dan memerlukan tindakan segera untuk mencegah kecacatan maupun kematian, terutama akibat gangguan fungsi vital seperti pernapasan dan sirkulasi (WHO, 2023). Choking merupakan tersumbatnya jalan napas oleh benda asing yang dapat menyebabkan hipoksia hingga kematian apabila tidak segera ditangani. Kejadian choking masih kerap dijumpai di lingkungan rumah tangga dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat tentang pertolongan pertama pada choking di wilayah kerja Puskesmas Simpang Baru Kota Pekanbaru. Desain penelitian ini menggunakan desain deskriptif yang dilaksanakan pada bulan Desember 2025 sampai Januari 2026 dengan jumlah sebanyak 392 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan berupa kuesioner pengetahuan dan sikap tentang pertolongan pertama pada choking. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi tingkat pengetahuan dan sikap responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori baik sebanyak 227 responden (57,9%), sedangkan sebagian lainnya berada pada kategori cukup dan kurang. Pada variabel sikap, hampir seluruh responden menunjukkan sikap positif terhadap pertolongan pertama pada choking sebanyak 346 responden (88,3%). Kesimpulan penelitian ini adalah masyarakat memiliki sikap yang positif dan tingkat pengetahuan yang relatif baik, namun masih terdapat sebagian responden dengan pengetahuan yang belum optimal. Oleh karena itu, disarankan adanya peningkatan edukasi dan pelatihan pertolongan pertama pada choking secara berkelanjutan oleh tenaga kesehatan guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kejadian choking.
Pengaruh Latihan Cylindrical Grip terhadap Peningkatan Kekuatan Otot Tangan pada Pasien Stroke Kristin Saragi; M. Zul’irfan; Angga Arfina; Ulfa Hasana
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 8 No. 1 (2026): Februari 2026, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v8i1.1616

Abstract

Stroke merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kecacatan jangka panjang di dunia. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan fungsi motorik, terutama pada ekstremitas atas akibat kerusakan pada sistem saraf pusat. Salah satu masalah yang sering di alami pasien stroke adalah kelemahan kekuatan genggaman tangan, yang berdampak langsung pada kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, berpakaian, menulis, dan memegang benda. Penurunan fungsi ini dapat menurunkan kemandirian serta kualitas hidup pasien. Salah satu bentuk latihan yang dapat membantu meningkatkan kekuatan otot tangan adalah latihan cylindrical grip, yaitu latihan menggenggam benda berbentuk silinder untuk merangsang kontraksi otot fleksor jari dan tangan secara berulang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan cylindrical grip terhadap peningkatan kekuatan genggaman tangan pada pasien stroke di Puskesmas Rejosari Kota Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan desain quasi experiment pre-test and post-test without control. Sampel berjumlah 26 pasien stroke dengan teknik pengambilan sampel menggunakan non-probability sampling melalui purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata kekuatan otot genggaman tangan meningkat dari 20,88 (SD=6,108) pada pre-test menjadi 23,77 (SD=6,556) pada post-test. Hasil uji paired t-test menunjukkan nilai p=0,001 (<0,05) yang menandakan adanya peningkatan kekuatan otot genggaman tangan yang bermakna setelah intervensi. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa latihan cylindrical grip berpengaruh dalam meningkatkan kekuatan otot genggaman tangan pada pasien stroke.
EFEKTIVITAS SENAM DIABETES TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2: LITERATURE REVIREW Vinna Yulia; Sri Yanti; Yeni Devita; M. Zul’irfan
Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2026): Maret
Publisher : CV. Naiwa Best Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.19249914

Abstract

Diabetes Melitus tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia akibat resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Aktivitas fisik merupakan salah satu pilar utama dalam pengelolaan diabetes, termasuk senam diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas senam diabetes terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe 2. Penelitian menggunakan desain systematic literature review dengan pedoman PRISMA. Artikel diperoleh dari database Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, ProQuest, Wiley, dan SAGE dengan rentang tahun 2020–2025 menggunakan kerangka PICOS. Sebanyak 15 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis. Hasil menunjukkan bahwa senam diabetes secara signifikan menurunkan kadar gula darah dengan rata-rata penurunan 16%–22%. Senam aerobik dan kombinasi aerobik-resistensi menunjukkan hasil paling optimal. Efektivitas dipengaruhi oleh frekuensi 3–4 kali per minggu dan durasi 20–40 menit. Senam meningkatkan sensitivitas insulin dan aktivitas GLUT-4 sehingga membantu pengambilan glukosa oleh otot. Disimpulkan bahwa senam diabetes merupakan intervensi nonfarmakologis yang efektif dan direkomendasikan dalam asuhan keperawatan pasien diabetes melitus tipe 2.