Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan mekanisme pertahanan diri berupa rasionalisasi yang dilakukan tokoh utama dalam film Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 menggunakan pendekatan psikoanalisis Sigmund Freud. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra. Sumber data penelitian berupa film Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 karya Benni Setiawan yang diadaptasi dari novel Pidi Baiq. Data penelitian berupa fragmen dialog, monolog, dan indikator visual yang merepresentasikan interaksi antara struktur kepribadian id, ego, dan superego. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode simak, catat, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi secara interpretatif. Temuan penelitian ini menunjukkan keunikan spesifik pada karakter Ancika sebagai representasi perempuan muda yang mandiri; berbeda dengan tokoh perempuan dalam penelitian sejenis yang umumnya menggunakan rasionalisasi sebagai pelarian pasif akibat subordinasi, Ancika justru menggunakan rasionalisasi secara aktif sebagai instrumen untuk menegakkan otonomi personal dan batasan diri (boundaries) di tengah desakan realitas sosial. Struktur kepribadian yang paling dominan memicu mekanisme ini adalah ego yang beroperasi di bawah prinsip realitas. Rasionalisasi bermanifestasi secara khas melalui pola penutupan emosi (emotional masking) dan pemberian alasan logis-intelektual untuk menolak stereotip romantisasi remaja pada masanya. Dengan demikian, film ini tidak sekadar memperlihatkan dinamika pertahanan diri biasa, melainkan sebuah bentuk negosiasi psikologis yang kuat dalam mempertahankan citra diri dan kedaulatan emosional seorang perempuan.