Dimas Anugrah Adiyadmo
Universitas Jambi

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Rasionalisasi sebagai Strategi Pertahanan Ego Remaja dalam Film Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 (Analisis Psikoanalisis Freud): Rationalization as an Ego Defense Mechanism of Adolescents in the Film Ancika: Dia yang Bersamaku 1995: A Sigmund Freud Psychoanalytic Analysis Salsabila Endani; Dimas Anugrah Adiyadmo; Yusra D
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 3 (2026): JURNAL BASTRA EDISI JULI 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i3.2784

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan mekanisme pertahanan diri berupa rasionalisasi yang dilakukan tokoh utama dalam film Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 menggunakan pendekatan psikoanalisis Sigmund Freud. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra. Sumber data penelitian berupa film Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 karya Benni Setiawan yang diadaptasi dari novel Pidi Baiq. Data penelitian berupa fragmen dialog, monolog, dan indikator visual yang merepresentasikan interaksi antara struktur kepribadian id, ego, dan superego. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode simak, catat, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi secara interpretatif. Temuan penelitian ini menunjukkan keunikan spesifik pada karakter Ancika sebagai representasi perempuan muda yang mandiri; berbeda dengan tokoh perempuan dalam penelitian sejenis yang umumnya menggunakan rasionalisasi sebagai pelarian pasif akibat subordinasi, Ancika justru menggunakan rasionalisasi secara aktif sebagai instrumen untuk menegakkan otonomi personal dan batasan diri (boundaries) di tengah desakan realitas sosial. Struktur kepribadian yang paling dominan memicu mekanisme ini adalah ego yang beroperasi di bawah prinsip realitas. Rasionalisasi bermanifestasi secara khas melalui pola penutupan emosi (emotional masking) dan pemberian alasan logis-intelektual untuk menolak stereotip romantisasi remaja pada masanya. Dengan demikian, film ini tidak sekadar memperlihatkan dinamika pertahanan diri biasa, melainkan sebuah bentuk negosiasi psikologis yang kuat dalam mempertahankan citra diri dan kedaulatan emosional seorang perempuan.
Representasi Pengorbanan Perempuan Dalam Kumpulan Cerpen ‘Bila Esok Ibu Tiada’ Karya Nagiga Nur Ayati: Kajian Feminisme Liberal Yulia Handayani; Yundi Fitrah; Dimas Anugrah Adiyadmo
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2026): in Progress
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v8i2.10372

Abstract

Penelitian ini mengkaji representasi pengorbanan perempuan dalam kumpulan cerpen ‘Bila Esok Ibu Tiada’ karya Nagiga Nur Ayati melalui perspektif feminisme liberal. Kumpulan cerpen ini dipilih karena popularitasnya yang masif, dengan lebih dari 10.000 eksemplar terjual dan adaptasi film yang ditonton lebih dari 3,7 juta penonton pada tahun 2024. Penelitian menggunakan pendekatan kritik sastra feminis dengan jenis deskriptif kualitatif dan metode analisis konten (close reading). Data berupa kutipan teks dari sepuluh cerpen dianalisis menggunakan kerangka feminisme liberal Henze et al. (2024), melalui lima indikator, yaitu: kehilangan kesempatan pendidikan (FL1), kehilangan kesempatan karier (FL2), keterbatasan otonomi pribadi (FL3), keterbatasan akses kesehatan (FL4), dan keterbatasan partisipasi sosial-politik (FL5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa FL3 dan FL4 merupakan indikator paling dominan, ditemukan pada seluruh sepuluh cerpen dan delapan cerpen. Temuan ini mengonfirmasi bahwa kumpulan cerpen tersebut merepresentasikan pengorbanan perempuan sebagai produk pembatasan struktural yang dibalut sentimentalisasi, sehingga memperkuat urgensi literasi kritis gender dalam konsumsi karya sastra populer.