Busahwi
Universitas Islam Negeri Madura

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ISLAMISASI ILMU PENGETAHUAN PERSPEKTIF SYED MUHAMMAD NAQUIB AL-ATTAS: LANGKAH REKONSTRUKSI FILOSOFIS ILMU PENGETAHUAN MODERN Mahrus; Akh Fakih; Busahwi
Cognitive: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 3 No. 3 (2025): Desember
Publisher : CV. Jendela Gagasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan modern yang ditopang oleh paradigma sekuler dan klaim netralitas nilai telah melahirkan kegelisahan epistemik di kalangan intelektual Muslim, terutama dalam konteks pendidikan Islam yang menghadapi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Kondisi ini berdampak pada melemahnya orientasi nilai, adab, dan tujuan transendental ilmu, sehingga menuntut adanya rekonstruksi filosofis yang lebih mendasar. Penelitian ini bertujuan mengkaji secara sistematis gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan perspektif Syed Muhammad Naquib al-Attas sebagai upaya menawarkan paradigma alternatif bagi pengembangan ilmu pengetahuan Islam di era modern. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis studi pustaka (library research). Pengumpulan data dilakukan melalui identifikasi sumber data primer dan sekunder, penelusuran literatur yang relevan, seleksi data berdasarkan kriteria akademik dan tematik, pencatatan serta dokumentasi gagasan kunci, dan pengorganisasian data secara tematik. Analisis data dilakukan melalui pembacaan kritis, kategorisasi konsep, dan penafsiran reflektif untuk menangkap relasi makna antar gagasan dalam kerangka epistemologi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islamisasi ilmu menurut al-Attas berpusat pada kritik terhadap worldview Barat sekuler, peneguhan konsep adab, dan penataan kembali hierarki ilmu berbasis tauhid. Ilmu dipahami bukan sekadar akumulasi informasi, melainkan proses internalisasi makna yang benar dalam diri manusia. Penelitian ini berkontribusi pada penguatan teori epistemologi Islam dengan menegaskan Islamisasi ilmu sebagai proyek rekonstruksi epistemologis yang utuh, sekaligus memberikan implikasi praktis bagi pengembangan kurikulum, kebijakan pendidikan Islam, dan pembentukan insan beradab. Kajian ini juga membuka ruang eksplorasi lanjutan terkait penerapan paradigma Islamisasi ilmu dalam konteks kelembagaan dan praksis pendidikan kontemporer.
Religious Moderation Education at Madrasah Manbaul Uloom Malaysia Mohammad Thoha; Hilmi Qosim Mubah; Itaanis Tianah; Rinta Ratnawati; Fatikhul Amin Abdullah; Abdul Mukhid; Busahwi
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 20 No 2 (2025)
Publisher : Islamic State University of Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/tjpi.v20i2.17572

Abstract

This article examines the implementation of religious moderation education at Madrasah Manbaul Uloom through two complementary models: formal and non-formal. The non-formal model is realized through institutional policies that encourage communal interaction in shared spaces without regard to ethnic distinctions, thereby fostering inclusivity and mutual respect. Meanwhile, the formal model is systematically integrated into the curriculum, ensuring that values of moderation are embedded within structured learning processes. Employing a qualitative research approach with a descriptive design, this study draws upon interviews with 15 students enrolled at Madrasah Manbaul Uloom, alongside three caregivers (ustadz/teachers) who served as key informants. These perspectives provide nuanced insights into both the conceptualization and practical enactment of religious moderation within the institution. The findings reveal that the values cultivated at Madrasah Manbaul Uloom encompass respect for religious diversity, recognition of ethnic plurality, and the active prevention of violence and hate speech. Collectively, these practices demonstrate how religious moderation education can be operationalized in ways that not only strengthen interfaith and interethnic harmony but also contribute to the broader goal of nurturing a peaceful and tolerant society. This study underscores the significance of integrating moderation values into both formal curricula and informal institutional practices, offering a model that may be replicated in similar educational contexts.