This study aimed to examine the effects of peer attachment and emotion regulation on social anxiety tendencies among eleventh-grade students at SMAN 3 Cikampek, both partially and simultaneously. The study employed a quantitative approach with a correlational-predictive design. The sample consisted of 167 students selected through a combination of stratified sampling and convenience sampling from a population of 313 students. The instruments included the Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) to measure peer attachment, the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) to assess emotion regulation, and the Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A) to measure social anxiety. The data were analyzed using multiple linear regression with SPSS version 25. The findings indicated that peer attachment and emotion regulation jointly had a significant effect on social anxiety. Partially, peer attachment had a positive and significant effect on social anxiety, whereas emotion regulation did not show a significant effect. The categorization results revealed that most students had high levels of emotion regulation and social anxiety tendencies, while their peer attachment patterns were mostly not clearly classified. These findings suggest that peer relationships play a more dominant role in explaining social anxiety than emotion regulation. Therefore, schools should strengthen healthy peer relationships, positive social support, group counseling services, and social skills development programs to help reduce students’ social anxiety. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kelekatan teman sebaya dan regulasi emosi terhadap kecenderungan kecemasan sosial pada siswa kelas XI SMAN 3 Cikampek, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional prediktif. Sampel penelitian terdiri atas 167 siswa yang dipilih melalui kombinasi teknik stratified sampling dan convenience sampling dari populasi 313 siswa. Instrumen penelitian meliputi Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) untuk mengukur kelekatan teman sebaya, Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) untuk mengukur regulasi emosi, dan Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A) untuk mengukur kecemasan sosial. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelekatan teman sebaya dan regulasi emosi secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kecemasan sosial. Secara parsial, kelekatan teman sebaya berpengaruh positif dan signifikan terhadap kecemasan sosial, sedangkan regulasi emosi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Hasil kategorisasi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki regulasi emosi dan kecenderungan kecemasan sosial yang tinggi, sementara pola kelekatan teman sebaya sebagian besar belum terklasifikasi secara jelas. Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan dengan teman sebaya memiliki peran lebih dominan dalam menjelaskan kecemasan sosial dibandingkan regulasi emosi. Oleh karena itu, sekolah perlu memperkuat hubungan pertemanan yang sehat, dukungan sosial positif, layanan konseling kelompok, dan program pengembangan keterampilan sosial untuk membantu mengurangi kecemasan sosial siswa.