Putri Haliza Yuniar
Universitas Semarang

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Penal Policy Dilemma: Child Drug Couriers in Indonesia’s Juvenile Justice System Novieyan Yahya; Putri Haliza Yuniar; Kadi Sukarna; Zaenal Arifin
Journal of Law Justice (JLJ) Vol. 4 No. 1 (2026): Journal of Law Justice
Publisher : Faculty of Law, Universitas Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33506/jlj.v4i1.5428

Abstract

This study aims to analyze the role and patterns of adolescent involvement as drug couriers in Sumbawa Barat Regency, identify the factors influencing adolescents' vulnerability within drug trafficking networks, and assess the effectiveness of law enforcement and prevention strategies implemented from the perspective of child protection and the juvenile justice system. The method of research used is a qualitative approach with a case study strategy thru in-depth interviews with law enforcement officers, field observations, and the study of official documents related to narcotics cases involving adolescents. The novelty of this research lies in its specific focus on examining the position of adolescents as drug couriers in the Sumbawa Barat Regency, which has been minimally studied in the literature on juvenile criminal law in Indonesia. The study's results indicate that law enforcement against juvenile drug couriers still faces various obstacles, including legal procedures that are not yet fully child-friendly, weak rehabilitative orientation, and lack of coordination between law enforcement agencies and rehabilitation institutions. This study concludes that there is a need to strengthen the capacity of law enforcement officers, optimize rehabilitation programs, and consistently apply preventive and restorative approaches so that the handling of drug cases involving adolescents is not only repressive but also capable of sustainably reducing the involvement of adolescents in drug trafficking.
Penyelesaian Sengketa Hak Cipta Lagu Nuansa Bening Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta Achmad Fuad Achwani; Ahmad Dwi Nuryanto; Agus Saiful Abib; Zaenal Arifin; Putri Haliza Yuniar
JURNAL USM LAW REVIEW Vol. 9 No. 3 (2026): SEPTEMBER
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/julr.v9i3.14297

Abstract

This study aims to analyze the dispute resolution mechanism of the copyright case concerning the song Nuansa Bening and the legal consequences arising under Law Number 28 of 2014 on Copyright. The background of this research is based on the increasing number of copyright violations in the digital era, particularly in the music industry, marked by unauthorized use of works and unclear royalty distribution. The urgency of this study lies in providing legal certainty and protection of both moral and economic rights of song creators in dispute resolution practices. This research employs a normative juridical method using statutory and conceptual approaches through the analysis of primary and secondary legal materials. The novelty of this study lies in the use of a specific case study of the song Nuansa Bening to examine the effectiveness of dispute resolution mechanisms and their legal implications, which have rarely been explored in previous studies. The results indicate that dispute resolution can be pursued through both non-litigation and litigation mechanisms; however, in practice, the lawsuit was declared inadmissible due to formal defects, particularly the absence of necessary parties. Consequently, substantive legal protection could not be applied, highlighting that the effectiveness of copyright enforcement depends not only on the substance of violations but also on procedural accuracy.   Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mekanisme penyelesaian sengketa hak cipta lagu Nuansa Bening serta akibat hukum yang timbul berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada meningkatnya pelanggaran hak cipta di era digital, khususnya dalam industri musik, yang ditandai dengan penggunaan karya tanpa izin dan ketidakjelasan pembagian royalti. Urgensi penelitian ini terletak pada pentingnya memberikan kepastian hukum serta perlindungan terhadap hak moral dan hak ekonomi pencipta lagu dalam praktik penyelesaian sengketa. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan Perundang-Undangan dan konseptual melalui analisis bahan hukum primer dan sekunder. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan studi kasus konkret lagu Nuansa Bening untuk mengkaji efektivitas mekanisme penyelesaian sengketa serta implikasi hukum yang timbul, yang selama ini masih jarang dianalisis secara spesifik dalam penelitian sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelesaian sengketa dapat ditempuh melalui jalur non-litigasi dan litigasi, namun dalam praktiknya gugatan yang diajukan dinyatakan tidak dapat diterima akibat cacat formil berupa kurang pihak. Akibatnya, perlindungan hukum secara substantif tidak dapat diterapkan, sehingga menegaskan bahwa keberhasilan penegakan hak cipta tidak hanya bergantung pada substansi pelanggaran, tetapi juga pada ketepatan prosedur hukum. 
Peran Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Dalam Menjamin Keadilan dan Kepastian Hukum Lelang Negara Angreinni Angreinni; Zaenal Arifin; Albertus Heru Nuswanto; Muhammad Iftar Aryaputra; Putri Haliza Yuniar
JURNAL USM LAW REVIEW Vol. 9 No. 1 (2026): MARCH
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/julr.v9i1.13474

Abstract

This study aims to analyze the role of the State Assets and Auction Service Office (KPKNL) in ensuring fair auction implementation from regulatory, procedural, and stakeholder-protection perspectives. The research is motivated by the persistence of auction disputes, participant dissatisfaction, and negative perceptions regarding transparency and accountability in state auction practices. Previous studies have primarily examined auction procedures, transparency, or protection of specific parties in isolation, and therefore have not provided a comprehensive analysis of KPKNL as an institutional actor that integrates legal certainty, legal protection, and substantive fairness throughout the auction process. This research employs a normative juridical method using statutory, conceptual, and case approaches, supported by analysis of primary and secondary legal materials as well as secondary empirical data on auction practices. The findings indicate that KPKNL plays a strategic role as a technical regulator, process facilitator, and guarantor of compliance with transparency, accountability, and legal protection principles for all stakeholders. However, the effectiveness of these functions remains limited by challenges in public outreach, information technology utilization, and complaint-handling mechanisms. Academically, this study contributes to a more integrated understanding of KPKNL’s institutional function in ensuring auction fairness. Practically, it highlights the need to strengthen institutional capacity, enhance auction digitalization, and refine regulatory frameworks to improve governance quality and public trust in state auction systems.   Penelitian ini bertujuan menganalisis peran Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) dalam menjamin pelaksanaan lelang yang berkeadilan dari aspek regulasi, prosedur, dan perlindungan para pihak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya sengketa lelang, ketidakpuasan peserta, serta persepsi negatif terhadap transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan lelang negara. Kajian terdahulu umumnya menelaah prosedur lelang, transparansi, atau perlindungan pihak tertentu secara parsial, sehingga belum memberikan analisis komprehensif mengenai peran KPKNL sebagai institusi yang mengintegrasikan kepastian hukum, perlindungan hukum, dan keadilan substantif dalam keseluruhan tahapan lelang. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, dan kasus, yang didukung oleh analisis bahan hukum primer, sekunder, serta data empiris sekunder mengenai praktik pelaksanaan lelang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KPKNL memiliki peran strategis sebagai regulator teknis, fasilitator proses, dan penjamin kepatuhan terhadap prinsip transparansi, akuntabilitas, serta perlindungan hukum bagi para pihak. Namun demikian, pelaksanaan fungsi tersebut belum optimal karena masih terdapat kendala pada aspek sosialisasi, pemanfaatan teknologi informasi, dan mekanisme pengaduan. Secara akademik, penelitian ini memperkuat pemahaman mengenai fungsi kelembagaan KPKNL dalam kerangka keadilan lelang yang terintegrasi. Secara praktis, penelitian ini menegaskan perlunya penguatan kapasitas kelembagaan, digitalisasi lelang, dan penyempurnaan regulasi guna meningkatkan kualitas tata kelola dan kepercayaan publik terhadap lelang negara.
Perlindungan Hukum Pengguna Sepeda Listrik Di Kota Semarang Putri Haliza Yuniar; Endah Pujiastuti; Zaenal Arifin; Sonny Hendraprasanto
JURNAL USM LAW REVIEW Vol. 9 No. 1 (2026): MARCH
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/julr.v9i1.13832

Abstract

This study aims to analyze legal protection for electric bicycle users in Semarang City and to identify regulatory implementation challenges as well as strategies for strengthening such protection. The increasing use of electric bicycles as an environmentally friendly mode of transportation has raised concerns regarding safety and legal certainty, particularly because their regulation remains dispersed across multiple legal regimes that have not been comprehensively integrated. The urgency of this research arises from the growing number of electric bicycle accidents and the lack of normative coherence between traffic law and consumer protection law, which creates uncertainty regarding legal responsibility. This research employs a socio-legal approach with a descriptive-analytical specification through interviews, literature review, and qualitative analysis to examine the alignment between legal norms and their implementation in practice. The novelty of this study lies in developing an integrated legal protection analysis combining traffic law and consumer protection law by positioning electric bicycle users as dual legal subjects, while also testing its effectiveness in the local context of Semarang City. The findings indicate that legal protection is normatively available but remains ineffective due to regulatory disharmony, weak institutional supervision, low public compliance, and the absence of comprehensive statutory regulation. Therefore, regulatory harmonization, strengthened supervision, safety infrastructure development, and systematic legal reform are necessary to ensure effective legal protection.     Penelitian ini bertujuan menganalisis perlindungan hukum bagi pengguna sepeda listrik di Kota Semarang serta mengidentifikasi kendala implementasi regulasi dan strategi penguatannya. Peningkatan penggunaan sepeda listrik sebagai moda transportasi ramah lingkungan menimbulkan persoalan keselamatan dan kepastian perlindungan hukum, terutama karena pengaturannya masih tersebar dalam berbagai rezim hukum yang belum terintegrasi secara komprehensif. Urgensi penelitian ini didasarkan pada meningkatnya angka kecelakaan sepeda listrik serta adanya ketidaksinkronan norma antara hukum lalu lintas dan hukum perlindungan konsumen yang berimplikasi pada ketidakpastian tanggung jawab hukum. Penelitian menggunakan pendekatan yuridis sosiologis dengan spesifikasi deskriptif analitis melalui wawancara, studi kepustakaan, dan analisis kualitatif untuk menilai kesesuaian antara norma hukum dan implementasinya dalam praktik. Kebaruan penelitian terletak pada pengembangan analisis perlindungan hukum berbasis integrasi rezim hukum lalu lintas dan hukum perlindungan konsumen dengan menempatkan pengguna sepeda listrik sebagai subjek hukum ganda sekaligus menguji efektivitasnya pada konteks lokal Kota Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan hukum secara normatif telah tersedia, namun efektivitasnya masih terbatas akibat disharmonisasi regulasi, lemahnya pengawasan kelembagaan, rendahnya kepatuhan masyarakat, serta belum adanya pengaturan komprehensif pada tingkat undang-undang. Oleh karena itu, diperlukan harmonisasi regulasi, penguatan pengawasan, penyediaan infrastruktur keselamatan, dan pembaruan hukum yang lebih sistematis guna menjamin perlindungan hukum yang efektif.