Madrasah Ibtidaiyah menghadapi tantangan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di masa kini, terutama di tengah penerapan Kurikulum Merdeka yang menekankan pemahaman nilai-nilai Pancasila serta keterampilan yang dibutuhkan di abad ke-21. Metode lama tidak lagi cukup karena keterbatasan perangkat teknologi informasi, kemampuan guru dalam menggunakan AI yang masih rendah, serta sistem manajemen berbasis data yang kurang efektif. Penelitian ini mempelajari penggunaan benchmarking sebagai cara untuk meningkatkan kualitas deep learning, sehingga proses dan hasil belajar mengajar bisa lebih baik. Metode penelitian kualitatif ini mengumpulkan data dari buku, jurnal yang terindeks, kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Agama, serta literatur tentang manajemen pendidikan yang menggunakan teknologi. Analisis sintesis literatur mengidentifikasi praktik terbaik, hambatan, dan strategi untuk meningkatkan kinerja. Hasil menunjukkan bahwa pendekatan benchmarking yang efektif mampu mendeteksi perbedaan kualitas dengan membandingkan madrasah yang berprestasi dan institusi internasional. Ini memudahkan proses penyerapan teknologi deep learning, seperti sistem yang bisa menyesuaikan diri, jaringan saraf buatan untuk mempersonalisasi pelajaran menghafal Al-Quran, literasi digital, dan matematika yang interaktif. Integrasi ini meningkatkan keterlibatan siswa, membuat pengajaran lebih efisien, dan meningkatkan kemampuan kompetitif secara global. Kesimpulan menunjukkan bahwa kombinasi antara benchmarking dan deep learning membentuk sistem pembelajaran adaptif yang didasarkan pada data yang berkelanjutan. Rekomendasi meliputi pelatihan bagi guru tentang AI, kerja sama dengan perusahaan edutech, serta dana untuk transformasi digital.