Raditya Pangestu
Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TRADISI BAYAR LIUR DI KAMPUNG CISASAH CIJAKU KAB. LEBAK Burhanuddin; Muhamad Kosim; Aditya Firmansyah; Haidar Syadad; Muhamad Zainal Arifin; Yunan Fahri R; Aidil Fitra L; Raditya Pangestu; Maftuh Ajmain; Ahmad Maftuh Sujana
ARIMA : Jurnal Sosial Dan Humaniora Vol. 3 No. 3 (2026): Februari
Publisher : Publikasi Inspirasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/arima.v3i3.6649

Abstract

Penelitian ini mengkaji fenomena tradisi Bayar Liur yang dipraktikkan oleh masyarakat di Desa Cisasah, Kecamatan Cijaku, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Tradisi Bayar Liur merupakan bentuk kearifan lokal yang bermanifestasi sebagai ritual atau kompensasi simbolis terkait interaksi sosial, khususnya dalam konteks pemenuhan janji, penyembuhan penyakit psikologis atau fisik ringan yang diyakini akibat "kabuhulan" (gangguan yang disebabkan oleh kata-kata atau keinginan yang tidak terpenuhi), serta sebagai bentuk penebusan atas kegelisahan sosial dalam hubungan tetangga. ​Fokus utama penelitian ini adalah mendeskripsikan prosedur pelaksanaan tradisi Bayar Liur dan menganalisis makna simbolis serta fungsi sosial yang terkandung di dalamnya bagi keberlangsungan masyarakat agraris di Lebak. Metodologi penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif di lapangan, wawancara mendalam dengan tokoh adat, sesepuh desa, dan praktisi tradisi, serta studi dokumentasi terkait sejarah lokal Cijaku. ​Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bayar Liur bukan sekadar transaksi material, melainkan sebuah mekanisme untuk memulihkan keseimbangan sosial dan spiritual. Secara prosedural, tradisi ini melibatkan pemberian barang-barang tertentu atau sejumlah kecil uang sebagai simbol "pembersihan" atau pencucian dampak negatif dari ucapan yang tidak terpenuhi. Masyarakat Cisasah percaya bahwa kata-kata atau keinginan yang tertunda dapat mendatangkan kesialan jika tidak segera "dibayar" melalui ritual ini. ​Lebih lanjut, tradisi Bayar Liur berfungsi sebagai instrumen resolusi konflik tingkat rendah dan penguat ikatan komunal (solidaritas mekanik). Di tengah arus modernisasi dan pengaruh nilai-nilai eksternal, masyarakat Desa Cisasah tetap mempertahankan tradisi ini sebagai identitas budaya yang membedakan mereka dengan wilayah lain. Studi ini menyimpulkan bahwa tradisi Bayar Liur mengandung nilai pendidikan moral mengenai pentingnya integritas antara ucapan dan tindakan. Keberadaan tradisi ini membuktikan bahwa komunitas lokal memiliki mekanisme mandiri dalam menjaga harmoni psikis dan sosial tanpa selalu bergantung pada pendekatan medis formal maupun modern.  
Analisis Dinasti Fathimiyah di Mesir : Pertumbuhan, Perkembangan, dan Kemajuan Rosidah Rosidah; Ratnasari Ratnasari; Yunan Fahri Ramadhan; Raditya Pangestu; Ahmad Maftuh Sujana
Moral : Jurnal kajian Pendidikan Islam Vol. 2 No. 2 (2025): Juni : Moral : Jurnal kajian Pendidikan Islam
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/moral.v2i2.948

Abstract

This article explores the political, religious, and socio-cultural dimensions of the Fatimid Dynasty's rule in Egypt, highlighting its unique contributions to Islamic civilization. The Fatimid Caliphate, which ruled from 969 to 1171 AD, represented a significant Shi'a Islamic power that challenged the dominance of the Sunni Abbasid Caliphate. The study analyzes the origins of the Fatimid dynasty, its establishment in North Africa, and its eventual relocation of the capital to Cairo, which became a vibrant center of learning and governance. Special attention is given to the administrative reforms, religious tolerance policies, and architectural advancements initiated by Fatimid rulers. Additionally, the article examines the tensions and conflicts both internally and externally that eventually led to the dynasty’s decline. By using historical and historiographical methods, this research aims to provide a comprehensive understanding of how the Fatimid Dynasty shaped the political and religious landscape of medieval Egypt and left a lasting legacy that can still be seen in Egyptian culture and architecture today.