Kehamilan ektopik merupakan kondisi ketika implantasi hasil konsepsi terjadi di luar kavum uteri. Ketika terjadi ruptur pada kehamilan ektopik, kondisi ini dikenal sebagai kehamilan ektopik terganggu. Beberapa faktor risiko dapat berkontribusi terhadap kejadian ini, antara lain riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, gangguan atau kerusakan tuba fallopi, serta riwayat infeksi salpingitis. Dilaporkan seorang wanita usia 29 tahun datang dengan keluhan nyeri di perut bagian bawah disertai hasil pemeriksaan kehamilan yang positif. Hasil laboratorium menunjukkan penurunan kadar hemoglobin dari 10,4 g/dL dan leukositosis. Pemeriksaan ultrasonografi menemukan kantung gestasi ekstrauterin pada adneksa kiri tanpa gambaran kehamilan intrauterin. Pasien kemudian dilakukan tindakan laparotomi emergensi dan salpingektomi kiri. Setelah prosedur operasi, pasien diberikan terapi berupa resusitasi cairan, transfusi PRC, analgesik, asam traneksamat, antibiotik profilaksis, serta suplemen pemulihan. Kondisi pasien berangsur membaik dan akhirnya dipulangkan dalam keadaan stabil. Kesimpulan: Identifikasi dini serta pemberian tindakan pembedahan segera pada kasus kehamilan ektopik terganggu sangat berperan dalam menekan angka morbiditas dan mortalitas. Kombinasi data anamnesis, pemeriksaan laboratorium, dan ultrasonografi merupakan pendekatan utama dalam penegakan diagnosis. Kasus ini dilaporkan karena pentingnya identifikasi dini terhadap pasien dengan gejala yang tidak khas sehingga dapat mencegah mortalitas.